
Tok tok tok
"Assalamualaikum!" Rika mengetuk pintu ruangan kang Hatim yang tidak tertutup sambil mengucapkan salam.
"Waalaikumusalam,masuk!" jawab kang Hatim.
Rika pun masuk dengan pandangan menunduk.
"Ada apa?" tanya kang Hatim.
"S-saya mau menyampaikan pesan kang,kata teh Zahra,akang di tunggu umi di rumah!" jawab Rika.
"Oh,terima kasih!" kang Hatim langsung pergi setelah mengucapkan terima kasih.Dia tidak mau uminya menunggu terlalu lama.
Setelah itu Hana juga ikut pergi meneruskan perjalanannya menuju kantin untuk mencari makanan.
Sementara itu,kang Hatim sudah berhadapan dengan umi,teh Zahra,teh Dawa,kang Ahmad juga kang Rahmat.
"Ada apa umi manggil saya?" tanya kang Hatim.
"Hatim,umi dan semua saudara saudara kamu sudah berdiskusi masalah pembangunan panti asuhan.Alhamdulillah umi dan saudara saudara kamu ada uang yang insyaAllah bisa untuk di pakai pondasi atau mungkin lebih.Nah umi mau kamu yang mengelola pembangunan ini,dan jika sudah selesai di bangun nanti,umi ingin kamu dan istri kamu yang mengelola panti itu.Dan keinginan umi ini sudah di setujui oleh kakak kakak mu!" jelas umi Nurul.
"Tapi kenapa gak teh Zahra saja? kan teh Zahra kakak tertua umi?" tanya kang Hatim.
"Zahra dan suaminya akan meneruskan memimpin pesantren ini!"
__ADS_1
"Teh Zahra?"
"Dia dan suaminya akan memimpin baitussalam awal!"
"Teh Putri?"
"Suaminya akan menjadi penerus di pesantren milik ayah nya.Otomatis Putri juga akan ikut di sana!"
"Teh Alvi?"
"Alvi sudah umi suruh,tapi dia tidak mau.Katanya dia ingin menjadi bagian di semua pihak.Dia mau jadi bagian dari pesantren ini,dia mau jadi bagian dari pesantren baitussalam awal,dia juga ingin menjadi bagian dari panti asuhan,jadi nantinya,jika kamu butuh bantuan,kamu bisa minta bantuan pada Alvi,begitu juga dengan Zahra dan Dawa,atau Putri sekaligus.Dan pokoknya kalian harus saling membantu dalam segala hal!"
"Ta....."
"Baik umi,insyaAllah saya akan melaksanakan tugas dari umi!" kata kang Hatim.
"Buatlah program program yang bagus untuk di panti asuhan nanti.Rencanakan dari sekarang,musyawarahkan dengan istrimu!"
"Baik umi!"
"Dan satu lagi,umi belum bertemu dengan istrimu,kenapa kamu tidak membawanya kemari?" tanya umi Nurul.
"Hana,atau istri saya itu belum tahu kalau dia sudah menikah dan saya suaminya umi!" jawab kang Hatim jujur.
"Kenapa? apa kamu belum memberitahunya?"
__ADS_1
"Iya umi,saya belum memberitahunya!"
"Kenapa? kamu tidak berani?"
"Bukan begitu umi,namun saya ingin istri saya sudah cukup ilmu,ya walaupun ilmu itu tidak ada cukupnya,tapi ya minimal dia tahu dasar agama!"
"Zahra,panggil Hana kesini!"
"Tidak umi jangan,biar nanti saya saja yang memberitahunya,insyaAllah secepatnya!"
"Ya sudah,umi akan menunggu itu,sekarang antar umi ke kamar!"
Dengan hati hati kang Hatim menuntun umi Nurul ke dalam kamar.
"Suruh Zahra agar menyiapkan makanan buat umi!" kata umi Nurul setelah sampai di kamar dan sudah duduk di atas ranjang.
"Baik umi,saya pergi dulu!" kata kang Hatim dan di jawab anggukan dan senyuman oleh umi Nurul.
"Teh,kata umi tolong siapkan makanan!" kata kang Hatim dan tanpa bicara,hanya mengangguk teh Zahra pergi menuju dapur.
"Teh,kang,saya pergi dulu!" kata kang Hatim.Dan lagi lagi di jawab anggukan oleh saudara saudaranya.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumusalam!"
__ADS_1