
"Hari ini akang merasa benar benar bahagia bi! Sangat sangat bahagia!" kata kang Hatim sambil tiduran di pangkuan Hana di atas ranjang dengan kepala menghadap ke perut Hana.
"Aku juga sangat bahagia! Aku semakin merasakan kehangatan keluarga baruku!" kata Hana dengan tangannya memainkan rambut kang Hatim.
"Baguslah! sekarang kamu sudah menganggap keluarga suamimu keluargamu!" ucap kang Hatim.
"Kan dari awal aku masuk ke pesantren ini juga aku sudah menganggap keluarga baitussalam ini keluarga keduaku! Dan tidak di sangka sangka aku menikah dengan pangeran baitussalam! Jadi sekarang bukan hanya menganggap! Tapi sudah jadi anggota keluarga!" kata Hana.
"Bagus kalau gitu!" kata kang Hatim.
"Tapi......"
"tapi apa bi?" tanya kang Hatim.
"Tapi,apa aku pantas di sebut anggota keluarga akang?" tanya Hana.
"Eh? Kenapa nanya nya begitu?"
"Secara gini kang,umi,teh Zahra,teh Dawa,teh Putri,apalagi teh Alvi! Juga suami suami mereka,penuh dengan ilmu! Begitu juga dengan akang! Suamiku tercinta,tersayang,si ganteng kalem,si cuek sakapeun!" kata Hana.
"Ah kamu bisa aja bi! Suami kamu ini kalau di puji,suka gimana gitu!" kang Hatim mencubit gemas pipi istrinya.
"sakit ih!"
"Masa sih?!" mengulang mencubit pipi Hana.
"Akang ih!"
"Maaf maaf! Lanjutkan cakap cakap anda nona!" kata kang Hatim sambil cengengesan.
"Nah,seperti yang sudah saya sampaikan!" kata Hana ikut ikutan menggunakan bahasa formal.
"Hahah! Biasa aja lagi bi ngomongnya!" kang Hatim.
"Iya,jadi gitu!"
"Gitu gimana?"
"Masa aku harus ngulang lagi? Capek ah!'' Hana memajukan bibirnya membuat kang Hatim gemas dan tertawa.
''Iya iya gimana? Intinya keluarga akang semua berilmu! Dan suamimu ganteng! Gitu kan?'' tanya kang Hatim.
__ADS_1
"Iya deh,terserah!"
"Terus gimana?" tanya kang Hatim.
"Yaaa,seperti yang tadi aku katakan,keluarga akang penuh dengan ilmu! Sedangkan aku? Jangankan pintar dengan ilmu,bodoh juga nggak! Apa pantes aku jadi anggota keluarga akang?"
"Akang gak suka kamu ngomong seperti itu bi!" bangun dari tidurannya bangkit berdiri dari ranjang mengambil beberapa kitab yang ada di meja dan membawanya ke ranjang di simpen di depan Hana.Hana mengambil beberapa kitab akita,dia cium dan dia angkat ke atas kepala tanda menghormati sumber ilmu.
"Baca ini!" kata kang Hatim membuka kitab safinah halaman pertama yang isinya basmallah dan hamdallah.
"Maksudnya?" tanya Hana.
''Baca!" kang Hatim tegas.
"I-iya,Bismillahir rohmaanir rohiim! Bismillahi,kalawan nyeubat jeuneungan nun gusti pangeran! Arrohmani,anu sifatna maha rohman,ma'nana maparin nikmat ageung di dunya sareung di akherat! Arrohimi,anu sifatna maha rohim,ma'nanan maparin nikmat alit di akherat hungkul!" Hana.
"Terus! Pakai jawa!" kata kang Hatim.
"Alhamdu,utawi jinis puji kang papat! Iku,lillahi tetep kedewe Allah! Robbil 'aalamiina,kang mangeranan sakabeh alam! Wabihi lan kalawan Allah ora liyane! Nasta'iinu nu'un pitulung ingsun sedoyo! 'alaa umuurid dunyaa,ing atase piro piro perkara dunya! Waddiini,lan agama!"
"Cukup!" kata kang Hatim.
"Cuman bisa seperti itu! Hanya bisa baca,gak paham makna!" kata Hana.
"Syukuri! Apapun yang Allah berikan syukuri! Jangan malah putus asa! Itu juga ilmu!" kata kang Hatim.
"Iya kang!"
"sekarang kamu lihat kitab kitab ini! Pertanyaan pertama! Dari apa kitab kitab ini di buat?"
"kertas kang!" jawab Hana.
"Terus,pertanyaan kedua! Tulisannya tulisan apa?"
"Tulisan arab!" jawab Hana.
*Suasana menegangkan.....
"Isinya sama gak?" tanya kang Hatim.
"Kan sama tulisannya juga arab semuanya juga!" jawab Hana.
__ADS_1
"Isinya! Maknanya!"
"Oh maaf! Beda beda!" jawab Hana.
"Nah,sekarang gini! Dihadapan akang dan di hadapan kamu! Ini apa?" tanya kang Hatim.
"Kitab?!'' jawab Hana dengan ragu.
"Kitab kan?"
"I-iya!" jawab Hana.
"Sekarang gini! Manusia kita ibaratkan kitab kitab ini! Namanya beda beda,ada jurumiyyah,safinah,tijan,imriti,yakulu,uqudullijain,nasho ihul ibad dan lain lain! sama seperti manusia! Ada Agung,Agus,Asep,Aceng,Ateng,Arom,Alwi,Andi, dan lain lain! Isi kitab beda beda,ada fikih,usul fikih,sorof,nahwu,matek,bayan,hadist,tafsir dan lain lain! Begitu juga manusia ada yang pinter,bodoh,licik,nakal,ceria,sedih dan lain sebagainya! Tapi walaupun beda isi,beda makna,beda nama, tetep terbuat dari kertas! Walaupun beda nama,beda beda fikiran,beda sikap dan sifat tetep sama terbuatnya dari tanah!''
"Kitab kitab ini sama di hadapan akang pemilik kitab ini kitab! sama seperti manusia! Dihadapan pemilik manusia,yaitu Allah semua rata! Tidak ada bedanya!"
"faham sayangku?" tanya kang Hatim.
"InsyaAllah faham!" jawab Hana.
"Jangan merasa beda! Kita semua sama! Sama di ciptakan dari tanah! Sama sama akan mati dan menyatu lagi dengan tanah!" kata kang Hatim menyimpan kembali kitab kitabnya.
"Maaf kang! Aku hanya takut kehilangan akang!" kata Hana.
"sudah ya,maaf jika akang terlalu kasar!" kata kang Hatim kembali duduk di depan Hana.Mendongakkan kepala Hana dengan tangannya dan mencium kening istrinya dengan lembut.
"Kamu belum mandi kan?" tanya kang Hatim.
"Belum heheh!" jawab Hana.
"Mandi ya?!"
"Dingin kang! Udah malam juga!"
"Ya sudah ayo tidur!" kang Hatim.
Setelah mereka berbaring,saling berhadapan dengan tatapan romantis penuh cinta.Kang Hatim menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan tubuh istrinya.
"Kamu harus mandi bi! Jangan nolak! Ini kewajibanmu sebagai istri!" bisik kang Hatim tepat di telinga Hana.
*Semogamengerti ;)
__ADS_1