Ustadz Muda

Ustadz Muda
Keputusan


__ADS_3

"Na'am kyai, saya minta maaf sekali pada sampean!" kata kyai Munaya.


"Tidak apa kyai, justru sekarang juga, Waladii, sedang menjalani hukuman dari kakak nya, karena kesalahan yang dia lakukan disini! Tapi saya mau tanya kyai, boleh?!"


"Boleh kyai boleh! Silahkan!"


"Apa kesalahan Zhaffar! Bukan saya mau menyalahkan kyai disini atau apa, namun saya ingin membuktikan, benar apa tidak yang dikatakan waladii!"


"Kesalahan Zhaffar itu melanggar aturan di ini pesantren kyai, maaf sebelumnya, Zhaffar itu sering berkomunikasi dengan ning Nadiva, putri ana, mungkin tidak apa kalau hanya berkomunikasi biasa, tapi beliau sering berbalas balasan surat, gaya nya surat cinta kyai, isi daripada surat suratnya obrolan romantis mereka! Tentu, itu bukan hanya kesalahan Zhaffar, itu kesalahan putri ana juga, ana tidak hanya menghukum Zhaffar, putri ana juga ana hukum, tidak boleh keluar kamar sebelum hafal alfiyyah!"


"MasyaAllah kyai! Hukuman yang hebat untuk ning siapa tadi?"


"Nadiva!"


"Ning Nadiva, maafkan waladii kyai berani berhubungan seperti itu dengan putri kyai sungguh, itu perbuatan yang tidak pantas! Tidak salah jika kyai memberikan hukuman yang sangat berat!"


"Ana menghukum Zhaffar dengan cara dia berendam di empang, dan tidak boleh naik ke daratan sebelum dia selesai membaca Alfiyyah! Maafkan ana kyai!"

__ADS_1


"Lah? jadi Zhaffar sudah di hukum?"


"Sudah kyai, karena Zhaffar itu anak yang pintar, cerdas, dia menjalankan hukuman hanya satu malam, ba'da isya dia turun ke empang, qobla subuh dia sudah menyelesaikan hukumannya!"


"Jadi hukuman Zhaffar sudah selesai? Sudah tuntas?"


"Na'am kyai!"


"Astaghfirullah!"


"Zhaffar berbohong sama saya kyai!"


"Berbohong gimana?"


"Dia bilang, dia di hukum sama kyai disini, untuk menikahi putri Kyai!"


"MasyaAllah, bukan kyai! Ana tidak menghukumnya dengan cara seperti itu, namun kata ana, daripada hubungan sembunyi sembunyi, tidak halal, lebih baik dinikahi saja!"

__ADS_1


"Oooh maaf ama, maaf kyai, maaf gus Syaufi, ama, Zhaffar memang mau menikah, dia cari alasan supaya di nikahkan!" ujar Royyan yang baru buka suara setelah menyimak.


"Lah? Iya gitu?"


"Iya ama, dalam tas nya ada surat, yang mungkin belum sempat di berikan pada ning Nadiva, isi surat itu kurang lebih begini, aku berjanji akan membawa keluargaku kesini dan melamarmu!"


"Astaghfirullah!" kang Hatim mengusap wajahnya.


"Kyai, daripada timbul fitnah, daripada zina, dosa pada mereka, dosa ke kitu sebagai orang tuanya, bagaimana kalau di nikahkan saja?!" tanya kyai Munaya.


"Kyai, maaf, saya tidak peduli umur Zhaffar mau nikah di umur berapa! Tapi ilmu nya kyai, saya belum tahu seberapa dalam dia punya ilmu sehingga pantas menikahi putri kyai disini!"


"Kyai, ilmu ana tidak sebanding sampean, ilmu ana jauh di banding ilmu sampean, cuman umur ana lebih dari sampean! Menurut ana, Zhaffar sudah cukup ilmu untuk menikah! Justru putri ana yang sepertinya tidak pantas menikah dengan Zhaffar putra sampean!"


"Nah itu kyai, kalau memang kyai sudah setuju, kalau kyai sudah merasa Zhaffar cukup ilmu, Zhaffar cukup pantas menikah dengan putri kyai, saya akan ikuti kyai, saya akan itba' pada kyai! Tapi saya mohon izin, saya minta waktu dua minggu sebelum Zhaffar saya antar ke sini untuk di tikahkan, saya mau ngetes dia, saya mau tau hasil dari dia mondok!" kata kang Hatim.


"Alhamdulillah, Tafadhol kyai, Syukron!"

__ADS_1


__ADS_2