
Lautan maaf, itu gelar yang cocok untuk seorang ibu. Sebagaimanapun seorang anak menyakiti hati atau bahkan fisik ibunya pasti seorang Ibu itu akan selalu memaafkan anak anaknya. Seorang ibu tidak akan tega terhadap anaknya jika tidak memaafkan nya. Sedangkan ada keterangan dimana Tuhan tidak akan memaafkan satu hambanya kecuali hambanya itu mendapatkan maaf dari orang tuanya terlebih dahulu.
Umma Hana, yang bisa di bilang seorang santri, sedikit banyaknya dia tahu cara bersabar, cara memaafkan. Memang, dia kecewa karena anaknya sudah membohonginya, dia kecewa anaknya melanggar aturannya.
Umma Hana sangat menyayangi anak anaknya. Mulai dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Ibarat kata umma Hana itu pada anaknya yang paling besar sayang karena besarnya. Pada anak yang paling pintar sayang karena pintarnya. pada anak yang paling tinggi sayang karena tingginya. pada anak yang paling pendek sayang karena pendeknya. bahkan pada anak yang bodoh sekalipun pasti akan sayang karena bodohnya. Bilma'na tidak pilih kasih, tidak pandang bulu.
Banyaknya pohon bambu dalam satu rungkun tidak akan lurus semua, pasti akan ada yang bengkok. Begitu juga dengan sebuah keluarga yang padahal keluarga itu pada soleh,tapi ada saja salah satu yang belok.
Umma Hana selaku ibu yang hatinya bagaikan lautan maaf dan lapang dada, dia memaafkan anaknya. Umma Hana menenangkan Zhaffar dengen cara memeluknya. Memang biasanya, pelukan seorang ibu itu akan sangat nyaman untuk anaknya.
Efek dari di peluk oleh umma Hana, Zhaffar kini lebih tenang. Dia sudah berhenti menangis. Tapi mulutnya masih belum berhenti mengucapkan maaf pada ibunya.
"Zhaffar, sayangnya umma, sudah ya nangisnya! Masa udah sebesar ini nangis, kaya bayi aja! Malu dong sama kumis!" kata umma Hana.
"Ma, hiks, maafin Zhaffar hiks umma!" kata Zhaffar dengan terbata-bata
"Iya, umma maafin! Umma gak marah kok!"
__ADS_1
"Maafin Zhaffar umma!"
"Iya Zhaffar! Umma maafin!"
"Zhaffar gak mau umma marah!"
"Nggak, umma gak marah!"
"Beneran umma?"
"Iya!"
"Iya sayang!" umma Hana masih membiarkan Zhaffar dalam pelukannya. Ditambah memang Zhaffar sangat merindukan itu.Yaa karena rasanya yang sangat nyaman.
"Kamu belum tidur? " tanya umma Hana.
"Belum umma!" jawab Zhaffar.
__ADS_1
"Kenapa? "
"Aku gak bisa tidur umma, aku takut!" jawab Zhaffar.
"Takut apa?" tanya umma Hana, namun Zhaffar tidak menjawabnya. "Kamu gak perlu khawatir! Umma pasti akan memaafkanmu! Jangan khawatir! akangmu Royyan, juga bukan marah, bukan benci! Dia hanya takut kamu kebablasan dengan kebiasaan buruk yang kamu lakukan! Kang Royyan pasti akan memaafkanmu! Jangan khawatir ya?!" kata umma Hana.
"Na'am umma!"
"Ya udah, sekarang kamu ke kamar mandi! Ambil wudhu! Sholat du'a roka'at! Berdo'a sama Allah! Minta maaf pada Allah!"
"Baik umma!" jawab Zhaffar.
"Sebentar lagi juga adzan subuh! Jadi kamu jangan tidur sebelum sholat subuh! Jangan beres sholat langsung tidur juga! Agak siangan tidurnya!"
"Hmmm, baik umma!" jawab Zhaffar.
"Ya udah, pergi sana!"
__ADS_1
Zhaffar pergi sambil mengusap pipi basahnya menuju kamarnya. Dan dia pasti akan melaksanakan perintah ummanya.
"Zhaffar Zhaffar, semoga kamu jadi anak sholeh ya! Umma gak pernah berhenti do'ain anak anak umma! Dari yang besar sampai yang kecil! InsyaAllah nak, kalian semua insyaAllah dapat ridho Allah!"