
Pukul delapan pagi,kang Hatim dan Hana masih belum bangun karena mereka baru tidur setelah sholat subuh.Saat naik ke kamar mereka,bukannya tidur,mereka malah nonton film sampai adzan subuh berkumandang.Mereka juga tidak tahajud.
Tok tok tok
"Hatim!" panggil teh Zahra setelah mengetuk pintu.
"Ada yang ngetuk pintu!" kata bi Ina.
"Iya,tapi kang Ustadz sama non Hana masih belum turun!" kata bi Asih.
"Hatim!" panggil teh Zahra lagi.
"Coba kamu lihat siapa yang datang!" kata bi Asih.
"Sama bi Asih aja deh,malu!" kata bi Ina.
"Eh kamu mah!" sambil pergi untuk membukakan pintu.
Bi Asih membuka pintu.
"Assalamualaikum bi!" kata teh Zahra.
"Waalaikum salam Ustadzah!" jawab bi Asih.
"Hatimnya ada?" tanya teh Zahra.
"Emm,ada Ustadzah,tapi dari tadi juga belum keluar kamar!" jawab bi Asih.
''Belum bangun?"
"Sepertnya seeperti itu Ustadzah,soalnya mereka baru tidur setelah subuh!" kata bi Asih.
"Astaghfirullah,boleh saya masuk bi?"
"Silahkan silahkan Ustadzah!" Memberi jalan agar teh Zahra bisa masuk.
__ADS_1
"Saya ke atas dulu ya bi!" kata teh Zahra.
''Silahkan Ustadzah!"
Teh Dawa langsung pergi menuju tangga dan terus naik menuju kamar kang Hatim dan Hana.
Tok tok tok
"Hatim!'' kata teh Zahra.
"Hatim!" panggil teh Zahra.
Didalam kamar,Hana bangun dari tidurnya mengumpulkan ingatannya.
"Kang,kang bangun!" Hana menggoyangkan pundak suaminya.
"Apa bi?" dengan suara serak dengan belum membuka matanya.
"Hatiim!" panggil teh Zahra.Hana tergesa gesa bangun memakai cadarnya dan langsung membuka pintu.
"Hana!" kata teh Zahra.Hana langsung mencium tangan teh Zahra.
"Ada teh,masih tidur!" kata Hana.
"Boleh teteh masuk?"
"Boleh teh,silahkan!" jawab Hana.
"Terima kasih! Maaf teteh ganggu ya!"
"Iya gak papa teh!" jawab Hana.
Teh Zahra mendekati ranjang dan langsung menarik selimut yang di pakai kang Hatim.
"Apaan bi sih bi,akang masih ngantuk!" menarik kembali selimut yang teh Zahra tarik.
__ADS_1
Teh Zahra geleng geleng kepala.Dia mengambil gelas berisi air putih di samping ranjang.Tanpa ragu teh Zahra menyiramkan air itu tepat di wajah kang Hatim hingga bangun dengan kaget.
"Kebo!" kata teh Zahra setelah kang Hatim bangun,duduk mengusap usap wajahnya yang basah.
"Kenapa bi?" tanya kang Hatim walau dalam hatinya ada kesel pada Hana karena dia mengira Hana yang nyiramnya dengan air.Tapi tetap sabar sehingga bicarapun masih santai.
"Kenapa kenapa,ini sudah siang! Kenapa belum bangun?" teh Zahra.
"Astaghfirullah,teh Zahra? Ada apa teh,kenapa membangunkan ku seperti ini? Emangnya aku masih kecil?" kang Hatim yang tidak sengaja dengan kejadian itu mengingatkannya saat dia kecil,dia selalu susah di bangunkan kecuali dengan di siram,dan yang suka nyiram kang Hatim saat sedang tidur adalah teh Dawa dan teh Zahra.
"Makanya berubah!"
"Emangnya ada apa? Penting?"
"Mandilah,teteh tunggu di rumah umi! Sama Hana juga!"
"Baiklah!''
"Sekali lagi teteh minta maaf ya Hana!" kata teh Zahra.
"Iya teh tidak apa apa!" kata Hana.
"Teteh pergi dulu ya!" kata teh Zahra.
"Iya teh,silahkan!" Hana mencium tangan teh Zahra lagi.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumussalam!" jawab Hana dan kang Hatim.
"Makanya,kalau di bangunin tuh langsung bangun!" kata Hana ssambil menahan tawa.
"Tertawa aja,gak papa kok!" sindir kang Hatim.
"Akang sengaja gak bangun,karena tahu yang datang teh Zahra! Akang kangen di siram!" kata kang Hatim.
__ADS_1
"Ooouh gitu ya,kalau gitu,besok besok aku akan siram akang! Dengan air segalon!" kata Hana.
"Eh jangan gitu lah!"