Ustadz Muda

Ustadz Muda
#224


__ADS_3

Sesampainya di perempatan,di mana di sana berjajar yang jualan di gerobak.Macam macam makanan para pedagang itu jual,mulai dari makanan keering sampai makanan basah.Mulai dari makanan ringsan sampai makanan berat ada di jual di sana.


"Berhenti berhenti!" kata Hana.Kang Hatim memberhentikan mobilnya dan melihat ke kiri ke kanan.


"Disini gak ada tukang nasi goreng!" kata kang Hatim.


"Itu ada tukang goreng gorengan!'' Hana memasang cadarnya.


"Mau beli itu?" tanya kang Hatim.


"Iya! Bolehkan?"


"Boleh kok!" jawab kang Hatim sambil tersenyum terpaksa.


"Ayo turun!"


"Kamu tunggu di sini aja,akang yang turun!"


"Gak mau!"


"Biiiii!"


"Kaaaaang!"


"Ya sudah deh!" kata kang Hatim dan Hana langsung keluar duluan setelah kunci pintu di buka.


"Ya Allah! Gak sabaran banget!" kata kang Hatim ikut turun dan mengikuti Hana ke gerobak penjual gorengan.


"Ini mbak!" kata penjual itu memberikan kantong keresek pada Hana dan dia menerimanya.


"Berapa pak?" tanya kang Hatim.


"Sepuluh ribu!" jawab penjual itu.Kang Hatim pun membayarnya dengan uang pas.


"Terima kasih pak!" kata kang Hatim.


"Sama sama!" jawab penjual itu.


"Mari pak!" kata Hana.

__ADS_1


"Mari mari silahkan!" jawab pedagang.


"Beli apa lagi?" tanya kang Hatim.


"Nasi goreng!" jawab Hana.Dia dan kang Hatim kembali ke mobil,tapi Hana tidak masuk,hanya menyimpan yang baru dia beli.


"Kenapa gak masuk?'' tanya kang Hatim.


"Itu ada tukang martabak telor!" jawab Hana,kang Hatim ikut melihat ke sana ke mari melihat yang jualan martabak.


"Mau beli juga?"


"Bolehkan?"


"Boleh,boleh!" jawab kang Hatim.


Hana memegang tangan kang Hatim dan membawanya ke penjuan martabak yang Hana inginkan.Kang Hatim hanya bisa pasrah menuruti kemauan Hana.


"Pak saya mau martabaknya satu porsi ya,yang spesial!'' kata Hana.


"Baik mbak,silahkan duduk dulu!" kata penjual itu karena Hana harus menunggu karena martabaknya dibuat dadakan.Kang Hatim pun mengikuti Hana duduk di bangku yang sudah di sediakan di sana.


"Gak papa dong,kan kalau gak habis bisa buat bi Ina,bi Asih!" kata Hana.


"Ya sudah,terserah deh!" kata kang Hatim.


"Akang gak papa kan?" tanya Hana.


"Apasih yang nggak buat kamu!"


"Makasih ya!" kang Hatim menjawabnya dengan anggukan dan senyuman.


"Bikin satu aja mbak?'' tanya penjual.


"Iya,satu aja pak!" jawab Hana.


"Ini mbak,sudah selesai! Saosnya di dalam!"


"Ouh iya pak,berapa?" tanya Hana.

__ADS_1


"Tiga puluh ribu!"


"Kang,mana uangnya?" Hana menamprakkan tangannya.Kang Hatim pun memberikan uang lima puluh ribu lembar.


"Ini pak uangnya!"


"Baik sebentar!" kata pedagang."Ini kembaliannya dua puluh ribu!"


"Ah iya terima kasih!"


"Sama sama mbak!"


"Beli apa lagi?"


"Dari dulu teman temanku pernah beli boba! Aku belum pernah kang!'' jawab Hana.


"Belum pernah apa?"


"Belum pernah nyoba!"


"Mau beli?"


"Iya,boleh ya? Aku penasaran!''


"Boleh boleh!"


"Ayo atuh kalau gitu!" kembali menarik tangan kang Hatim meembawanya ke tukang boba.


"Bu,saya beli bobanya satu ya!" kata Hana.


"Dua bu!" kata kang Hatim.


"Mau rasa apa?" tanya si ibu.


"Rasa apa aja bu,yang ada?" tanya balik Hana.


"Bisa di lihat di situ mbak!" jawab si ibu menunjuk poster kecil yang tertempel dan bergambarkan harga dan rasanya.


"Rasa vanila bu satu! Akang mau rasa apa?"

__ADS_1


"Coklat!" jawab kang Hatim.


__ADS_2