
Tidak lama kemudian datang bu Ani datang membawa baki yang di atasnya ada dua piring nasi beserta lauknya.
"Assalamualaikum,kang ini nasi nya!" kata bu Ani.
Kok kang Ustadz berduaan dengan Hana ya,kan mereka bukan makhrom,Hana juga gak pakai cadar...
"Terima kasih bu!" kata kang Hatim.
"Sama sama kang Ustadz,saya permisi dulu!" kata bu Ani dan di jawab anggukan oleh kang Hatim.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumusalam!" jawab Hana dan kang Hatim.
"Makanlah dulu,setelah makan baru kita mulai tes!" kata kang Hatim.Kang Hatim mulai fokus dengan laptopnya.
"Apa kamu tidak mendengar saya?" tanya kang Hatim.
"Dengar kang!"
"Ya sudah,ayo makan!"
"Emh tapi kang..."
"Ya sudah,kita duduk di sana dan kita makan bersama!" sambil menuju sopa yang ada di ruangan itu.
"Ayo makan,kalau gak makan nanti sakit dan pingsan,dan kamu harus di bawa ke dokter dan pasti harus di gendong,kamu mau saya gendong?"
__ADS_1
"Ah tidak kang,saya akan makan!"
Modus...
Ukhuk Ukhuk,Hana tersedak.
"Aduh,mana gak ada air lagi,sebentar!" kang Hatim berlari ke luar ruangannya untuk mengambil air.
"Makanya kalau makan pelan pelan!" kata kang Hatim sambil mengelap bibir Hana menggunakan jempol nya.Bibir Hana basah karena minum air.
Seketika pandangan mereka beradu,kang Hatim menatap mata Hana begitu juga Hana yang menatap mata kang Hatim dengan jarak lumayan dekat.
Cantik gumam kang Hatim dalam hatinya.
Tampan gumam Hana dalam hatinya.
Kang Hatim buru buru melepaskan tangannya dari bibir Hana dan Hana buru buru menunduk malu.
"Ups,maaf ganggu!" teh Alvi langsung keluar lagi dari dalam ruangan.
Mengganggu saja bisanya,padahal aku sudah bisa memandang wajah cantiknya dari jarak dekat dan mungkin bisa mendapatkan itu...
Astagfirullah,ya Allah ampuni hamba ya Allah,hamba telah berdosa dengan zina mata ya Allah,eh tapi kenapa teh Alvi gak marah? dia malah tersenyum seperti senang begitu.
"Saya ke toilet dulu,kamu lanjutkan makan,saya gak akan lama!" kata kang Hatim berlalu pergi meninggalkan Hana di dalam ruangannya sendirian.
"Di kamar,jangan di ruangan terbuka!" sindir teh Alvi saat kang Hatim melintas di depan jalan ke arah toilet.
__ADS_1
"Apa maksud nya?" tanya kang Hatim.
"Kalau mau bermesraan di kamar atau di ruangan yang tertutup,atau tutup pintu!"
"Mau di manapun bebas,di atas unta sekalipun asalkan sudah menikah,teteh yang mengganggu!"
"Apa? teteh mengganggu?"
"Iya!"
"Emangnya kamu udah kasih tahu dia?"
"Belum!"
"Kalau sampai aku tidak datang,dan santri atau orang lain yang datang,bisa timbul fitnah tahu!"
"Tidak ada yang berani masuk ke ruangan ku tanpa seijin dari ku kecuali teh Alvi,teh Dawa,teh Zahra,dan teh Putri!"
"Jadi siapa yang salah?"
"Tidak ada yang salah,semua benar.Karena apa? karena sifat manusia itu selalu ingin benar,tidak ingin salah,walaupun salah kita tetap ingin benar!"
"Apa kamu menyindir?"
"Tidak,buat apa aku menyindir kalau orang yang maksud aku sindir sudah mengakui kesalahannya!"
"Dasar,sudah pergi sana!"
__ADS_1
"Assalamualaikum!" Kang Hatim langsung pergi meninggalkan teh Alvi untuk kembali ke ruangannya menemui Hana.