
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.Teh Zahra dan teh Dawa sudah tidur.Teh zahra tidur di ranjang yang khusus di sediakan oleh bu bidan untuk orang yang menemani yang melahirkan.Posisinya di samping tembok kira kira tiga meter dari posisi blankar yang Hana pakai.Sedangkan teh Dawa tidur di atas sopa.
Kang Hatim menemani di samping istrinya yang belum tidur juga.
''Ayo tidur bi,ini sudah malam!" kata kang Hatim.
"Gak mau ah! Gak ngantuk! Dari tadi maksa nyuruh tidur terus! Kalau akang mau tidur ya tidur aja!" bales Hana.
"Eh,biasa aja ngomongnya!" kata kang Hatim.
"Udah sana makan aja! Eh makan,tidur!"
"Hhahah,kamu lapar?" tanya kang Hatim.
"Nggak!" jawab Hana.
"Kan besok kamu pulang sekitar jam delapan bi,di rumah dan di pesantren nanti akan di siapkan banyak makanan buat nanti semua orang akan di undang,mau itu tetangga satu kampung sampai tetangga beda desa!" kata kang Hatim.
"Masa sih,emangnya biaya nya dari siapa? Gak enak kalau dari umi kang!"
"Akang juga gak tahu sih,gak tau dari siapa! Tapi seriusan,akang gak minta! Mereka aja inisiatif! Khususnya si teteh teteh!" jawab kang Hatim.
"Ya sudah deh,aku ikut aja!" kata Hana.
"Terus,semua santri akan kebagian jadwal nengok si dede,tapi gak cuman nengok,mereka akan di tugaskan baca sorful anam dan al-barzanji! Tidak hanya santri perempuan,santri laki laki juga!" ucap kang Hatim.
"Sistem nya gimana emang?" tanya Hana.
"Siang dari jam tujuh atau delapan sampai jam sebelas lah kurang lebih,oleh santri perempuan baca al-barzanji sampai tamat delapan belas atthiril di giliran setiap harinya! Selama satu minggu! Jadi dalam satu minggu dapat mencapai tujuh kali tamatan al-barzanji!" jawab kang Hatim.
"Terus untuk santri baitussalam awal gimana?" tanya Hana.
"Malam juga sama dari jam delapan atau jam tujuh sampai jam sepuluh atau jam sebelas di bacakan sorful anam oleh santri laki laki! Sama juga di gilir!" jawab kang hatim.
__ADS_1
"Ooh gitu,emangnnya gak merepotkan para santri? Gak enak kang!"
"Udah lah,jangan gak enak gsk enak,di buat enak aja! Ini semua sudah di atur sama teh Alvi teh Dawa!" kata kang Hatim.
"Ya sudah deh,lagi lagi aku ngikut aja!" kata Hana.
"Akang mau ngecek si bayi ah!" kata kang Hatim sambil berdiri dan berjalan mendekati sebuah kotak dari kaca bening yang mirip dengan akuarium bedanya,biasanya akuarium di isi dengan ikan,ini di isi dengan bayi,tapi sama sama ada lampunya yang di sebut inkubator.
"Ganteng deh si bayi ini si anak sholeh! Si Sulthaan baitussalam! Putra mahkota baitussalam!" kata kang Hatim sambil memandang putra nya.
"Gantengya mirip siapa kang?" tanya Hana.
"Pakai tanya lagi,masa mirip Arjuna,ya mirip ama nya lah!" jawab kang Hatim.
"Eh bukan gitu,kan bisa aja mirip ayah Bima,atau mirip Kyai!"
"Bener sih,mirip kyai! Kyai Muhammad Hatim Husni Abdurrahman!" ucap kang Hatim.
"Iya aja deh! Aamiiiiin!" kata Hana.
"Iya aku tahu,aku pesek!" kata Hana.
"Bukan saya yang bilang! Terus bibirnya mirip kamu hubbi,manis! Tapi kok ada mirip mirip Alvin nya juga ya?!" kata kang Hatim.
"Dia baru lahir kang,kata orang wajahnya itu masih suka rubah rubah garis wajahnya itu!" kata Hana.
"Kamu mau nya mirip siapa?"
"Mirip ayah Bima! kalau bisa sih,tapi gak papa mirip akang juga! Dua duanya sama sama aku sayangi aku cintai sama sama ganteng juga!" jawab Hana.
"Kok dia gak diam ya?" tanya kang Hatim.
"Coba sentuh bawahnya kang,bisa aja basah!" kata Hana.Kang Hatim nurut meraba bawah si bayi dan ternyata memang benar,si bayi tampan pipis membuat nya basah menembus tiga lapis kain.Mulai dari popok,kain,terus kain batik di luarnya.
__ADS_1
"Basah bi!" kata kang Hatim.
"Ya sudah,bawa ke sini aku gantiin!" kata Hana sambil berusaha bangun dari rebahannya.
"Eh,jangan jangan bangun! Diam aja! Kamu masih sakit!" kata kang Hatim.
"Lah,terus mau gimana? Kesian kalau kainnya gak di ganti! Nanti suka merah merah!" kata Hana.
"Ya sudah,ganti aja!"
"Emangnya akang bisa gitu?" tanya Hana.
"Bukannya gak bisa! Gak berani! Bangunin aja teh Dawa!"
"Ah jangan! Kasian baru tidur! Jangan di ganggu!" kata Hana.
"Kalau gak mau di ganggu,mau tidur enak,tidurnya di rumah aja! Jangan di sini!" kata kang Hatim sambil menggoyangkan pundak teh Dawa.
"Teh bangun!" kata kang Hatim.
"Apa?"
"Tolong gantiin kain si bayi! Basah!" jawab kang Hatim.
"Ooh iya!" bangun dari posisi tidurnya.
"Maaf ngerepotin teh! Ganggu teteh lagi tidur!" kata Hana.
"Yeh gak papa!" kata teh Dawa.
#Vote_vote
#Like
__ADS_1
#Komen