Ustadz Muda

Ustadz Muda
#269


__ADS_3

Hari ini warga pesantren baitussalam sani kembali di sibukkan kembali dengan acara masak masak.


Malam nanti akan di adakan acara aqiqah an dan pemberian nama untuk si bayi.


Kang Hatim beserta kakak kakak iparnya juga di bantu oleh para tetangga sedang membuat panggung untuk acara malam nanti yang akan di hadiri para habib dan para ulama yang di undang oleh kang Hatim untuk ikut mendoakan anak pertamanya.


Para karyawan di kantor ayah Bima juga di undang oleh kang Hatim untuk menghadiri acara itu.


Tidak lupa keponakan keponakan kang Hatim yang di pesantren juga di suruh pulang dulu.Dua putra teh Zahra yaitu Asnafi dan Hambali di suruh pulang dan kebetulan di beri izin oleh pengurus di pesantrennya.Kemudian dua qori anak dari teh Dawa,Zulfi dan Taufiq juga sudah pulang juga adik dari Zulfi dan Taufiq yaitu Kultsum juga pulang.Muhammad Gojali Zailani anak pertama teh Puti juga sudah pulang.Jadi kini sudah lengkap semua anggota keluarga.


Waktu sudah semakin sore.Kini semua anggota keluarga berkumpul di rumah umi.


"Asnafi,kapan?" tanya kang Hatim dengan wajah yang menakutkan dan nada bicara datar.Karena memang dari kecil,kang Hatim dan Asnafi tidak terlalu akrab.Bahkan sampai sekarang.


"Kapan apanya man?" tanya Asnafi dengan tidak berani menatap wajah pamannya.


"Umur sudah dua puluh dua,kayanya cukup!" kata kang Hatim.


"Cukup untuk apa?"


"Belum ada niat emang?"


"Niat apa?"


"Atau jangan jangan kau gak normal?"


"Maaf man,aku bener gak ngerti!"


"Alah,so polos banget!" ledek Zulfi.

__ADS_1


"Maksud paman Hatim tuh,umur akang sudah cukup dua puluh dua tahun! Sudah cukup untuk nikah!" jelas Hanafi.


"Yah masa kalah sama adik sih!" kata kang Hatim.


"Maaf man,bukan aku gak normal! Bukan gak niat juga!'


"Terus kenapa?"


"Ibu!" jawab Asnafi.


"Ibu? Gak berani ngomong?" tanya kang Hatim.Bukannya jawab,Asnafi malah tersenyum malu.


"Gak di ijinin ibumu?" tanya kang Hatim.


"Bukan gak di ijinin Tim,emang dia belum minta ijin!" ujar teh Dawa.


"Ya kalau sudah waktunya,sudah ada jodohnya,kenapa tidak!" jawab teh Zahra.


"Beneran bu?" tanya Asnafi dengan semangat.


"iyaa! Emangnya sudah ingin?"


"Kang Asnafi ini menjalin hubungan diam diam sama Nafiisah! Putri bungsu akang!" jawab Hanfi.


"Ya Allah,gak tahu malu kamu!"


"Eh gak papa teh! Minggu depan,kita datangi! Kita lamar!" kata kang Hatim.


"Kalau kamu mau,kita langsung gass! Gak perlu di ragukan lagi teh,anak Kyai! Terjamin!" kata kang Hatim.

__ADS_1


"Alhamdulillah!" kata Asnafi membuat semua orang tertawa.


"Zulfi gimana?" tanya kang Hatim terus mancing suasana.


"Gimana bu?" tanya Zulfi pada teh Dawa.


"Emangnya kamu juga sudah ada jodoh?" tanya teh Dawa.


"Belum fiks sih,tapi aku yakin,kalau di tanya pasti dia mau!"


"PD banget lu!" kata kang Hatim.


"Gak PD gimana coba? Secara kan aku ganteng,pinter!" kata Zulfi.


"Mulai!" kang Hatim melempar peci nya untung Zulfi dengan sigap menangkapnya.


"Siapa emang?" tanya teh Dawa.


"Mau roisah di sini ah!" jawab Zulfi.


"Maya?" tanya Hana dengan semangat,padahal biasanya dia tidak berani ngomong.


"Yap!" jawab Zulfi.


"Alhamdulillah!" kata Hana sebelum sadar dirinya di tatap banyak pasangan mata."Eh maaf!" kata Hana dengan malu.


"Dia emang selalu semangat kalau ngomongin bestie nya! Apalagi demi kebaikannya!" kata kang Hatim.


"Ya sudah,jadi kita sekalian aja!" kata umi Nurul.

__ADS_1


__ADS_2