
Kang Hatim mencium tangan umi Nurul di ikuti oleh Hana yang sebenarnya dia sangat gugup dan malu.
"Hana,terima kasih ya,sudah mau jadi istri Hatim!" kata umi Nurul.
"Saya yang terima kasih umi,karena kang Hatim sudah milih saya,padahal saya rasa saya tidak pantas jadi istri kang Hatim dan menjadi bagian keluarga ini!" jawab Hana masih menggenggam tangan umi Nurul.
"Eh,jangan bicara begitu,pokoknya,kamu harus sabar menghadapi Hatim ya!" kata umi Nurul dan Hana hanya mengangguk dan tersenyum di balik cadarnya.
"Hana,kamu manggil apa sama Hatim?" tanya teh Alvi menggoda pengantin baru itu.
Hana hanya menunduk malu dengan pipi yang memerah di balik cadarnya.
"Teh,jangan begitu!" kata kang Hatim yang mengerti jika istrinya itu malu.
"Hahah,maaf maaf,biar suasana gak canggung aja!" kata teh Alvi.
"Sudah makan?" tanya umi Nurul.
"Alhamdulillah sudah umi!" jawab Hana.
"Ya sudah,sebentar lagi maghrib,sebaiknya kalian pergi ke rumah kalian!" kata umi Nurul.
"Emangnya kalian mau tinggal di rumah baru itu?" tanya teh Alvi.
"Iya!" jawab kang Hatim.
__ADS_1
"Wish,kayanya udah gak sabar!" kata teh Alvi.
"Gak sabar apa?"
"Pengen nyoba yang baru!"
"Yang baru apa?"
"Rumah,rumah baru!"
Kang Hatim paling dekat dengan teh Alvi.Umurnya juga hanya beda tiga tahun.Kang Hatim juga paling berani meminta bantuan sama teh Alvi.
"Ya sudah,ayo Hana,kita pulang!" kata kang Hatim membuat semua orang tersenyum mendengarnya.Sedangkan Hana,hanya menunduk malu.
"Kenapa kalian tersenyum?" tanya kang Hatim yang memperhatikan kakak kakaknya tersenyum semua.
"Astaghfirullah,Hana sayang,ayo pulang!" kata kang Hatim.
"Wah wah wah,dia sudah mulai berani!" kata teh Dawa dan mereka tertawa termasuk umi Nurul.
"Sudah sudah,Hana ayo!" kata kang Hatim yang sebenarnya dia juga malu mengatakan kalimat itu.
"Umi,saya ikut kang Hatim ya!" kata Hana.
"Iya!" jawab umi Nurul dengan senyuman lembutnya.Hana langsung mencium tangan umi Nurul diikuti kang Hatim.
__ADS_1
"Teh!" kata Hana dan langsung di jawab anggukan oleh semua kakak kakak iparnya juga.
Mereka keluar rumah,dan ternyata di luar rumah sudah ada enam orang kawan Hana.
"Eh kang!" sapa Ros sambil menundukkan pandangan.
"Emh,kang saya mau ngobrol dulu sama mereka boleh gak?" tanya Hana.
"Iya boleh,saya mau ke toilet dulu,nanti setelah saya selesai dari toilet kalian juga ngobrolnya harus selesai!" kata kang Hatim kembali dingin,mungkin menjaga wibawa.
"Iya!" jawab Hana.
Kang Hatim langsung pergi dan Hana di bawa duduk di pinggir kolam ikan di samping rumah umi Nurul.
"Selamat ya,aku gak nyangka banget!" kata Riska.
"Iya teh,aku juga gak nyangka,tadinya aku ngarep banget sama kang Hatim,eh ternyata di jodoh kamu!" kata Maya.
"Aku juga berharap banget menjadi istri kang Hatim,tapi kalau dia sudah jadi milih teh Hana,aku ngalah deh!" kata Indri.
"Apa kang Hatim gak galak?" tanya Ros.
"Nggak,emangnya kenapa? kok nanya gitu!" jawab Hana.
"Soalnya barusan kang Hatim dingin banget,seperti galak gitu,tapi sangat tampan!" kata Ros.
__ADS_1
"Eh,jangan terpesona lagi,dia sudah jadi milik teh Hana!" kata Riska.
"Hahah iya iya,bercanda kok teh,tenang aja,semoga sakinah mawadah warahmah!" kata Ros.