Ustadz Muda

Ustadz Muda
#217


__ADS_3

"Beneran gak mau mandi bi?" tanya kang Hatim saat Hana sedang ganti baju.


"Gak mau!" jawab Hana.


"Liat aja,nanti malam pasti kamu mandi! Akan jadi mandi wajib untukmu!" kata kang Hatim pelan.


"Apa?" tanya Hana.


"Apa apa?" tanya balik kang Hatim.


"Akang bicara apa barusan?"


"Gak bicara apa apa!"


''Aku denger! Apa maksudnya?"


"Maksudnya apa?"


"Kenapa nanti malam aku akan mandi wajib?" tanya Hana.


"Ouuh,nanti kan kamu akan di hukum! Jadi nanti setelah di hukum,kamu harus mandi!" jawab kang Hatim.


''Emangnya hukumannya apa?"


"Liat aja nanti bi!" kata kang Hatim.


"Pokoknya aku gak mau di hukum!" kata Hana.


"Ayo!'' kata kang Hatim menggandeng Hana.


'Gak mau!"


"Ayo!" kata kang Hatim.


"Gak mau ah!"


Kang Hatim malah menggelitik perut Hana hingga Hana tertawa geli gara gara kang Hatim.


"Ampun kang!" sambil tertawa.


"Ampun kang! Kasian bayinya!" kata Hana.


"Eh iya lupa!" kang Hatim berhenti menggelitik perut Hana tapi mengusap usap perut Hana.


"Maafkan ama ya nak! Itu karena umma mu nakal!" kata kang Hatim setelah menekuk kakinya hingga wajahnya lurus dengan perut Hana yang masih rata.


"Ama? kok ama?" tanya Hana.

__ADS_1


"Dari rama! rama itu ayah dalam bahasa sunda! jadi ama!"


''Ouh,terus kenapa aku jadi umma?'' tanya Hana.


"Itu dari umi! Jadi umma!" jawab kang Hatim.


"Oooh gitu!" Hana mengangguk angguk mengerti.


"Kalau sama umi,mau manggil apa?" tanya Hana.


"Apa ya? Kalau nenek,gak ada seninya!" ucap kang Hatim.


"Umi aja udah! Kan sama aku umma,jadi sama umi,umi aja!" kata Hana.


"Iya deh bagus!'' kata kang Hatim.


"Kalau sama teh Zahra,teh Dawa,teh Putri sama teh Alvi?" tanya Hana.


"Uwa aja!" jawab kang Hatim.


"Ya sudah! Kalau sama keponakan keponakan akang?" tanya Hana.


"Kalau sama yang laki laki akang,kalau yang perempuan aceu!" jawab kang Hatim.


"Kok aceuk?" tanya Hana.


''Aceuk,dari kata lanceuk,artinya kaka!" jawab kang Hatim.


"Terserah kamu aja!" jawab kang Hatim.


"Gak sabar deh,pengen segera lahir!" kata Hana.


"Ayo ah,bukannya mau main?" tanya kang Hatim.


"Ayo!" jawab Hana.Merekapun bergandengan tangan keluar kamar maksud pergi untuk menemui keponakan keponakan kang Hatim.


"Mereka di mana kang?" tanya Hana saat sudah keluar rumah.


"Mereka siapa?" tanya balik kang Hatim.


"Keponakan akang!" jawab Hana.


"Keponakan siapa?" tanya kang Hatim.


"Keponakan akang?"


"Bukannya saya suami anda ya mba?"

__ADS_1


"Maaf maaf,keponakan kita kan?" tanya Hana.


"Mungkin mereka di rumah umi!" jawab kang Hatim.


"Oh!"


"Kalau anak yang kamu kandung,anak siapa?'' tanya kang Hatim.


"Anakku!" jawab Hana.


"Bukan anak kita?"


"Bukan! Ini anak aku!" jawab Hana.


"Anak aku juga dong!" kata kang Hatim.


"Tidak tidak,yang ngandung siapa?" tanya Hana.


"Kamu!!'' jawab kang Hatim.


"Terus nanti,siapa yang melahirkan anak ini?''


"Kamu!"


"Terus,setelah di lahirkan,siapa yang menyusuinya?"


"Masa akang!'' jawab kang Hatim.


"Berarti ini anak siapa?" tanya Hana.


"Tapi kan,kalau gak ada akang,kamu gak akan bisa hamil bi,emangnya kamu Siti Maryam!" kata kang Hatim.


''Pokoknya ini anak aku!"


"Nyesel akang buat kamu hamil bi!"


"Apa apa?"


"Kenapa Allah gak menciptakan akang perempuan dan kamu laki laki ya?"


''Eh,gak boleh bicara gitu!''


"Eh iya iya,kan ini cuman lamunan!"


''Kan dalam kitab Nasho ihul ibad juga,kalau kita mau kaya,maka jangan banyak melamun!'' kata Hana.


''Gak banyak! Cuman sedikit!"

__ADS_1


"Terserah aja lah!"


"Cocok kayanya jadi Ustadzah nih!" kata kang Hatim.


__ADS_2