Ustadz Muda

Ustadz Muda
#212


__ADS_3

Para santri sudah sibuk di dapur karena di minta agar membantu bi Ani masak buat syukuran atas kehamilan Hana.Bi Asih dan bi Ina juga ikut membantu memasak setelah di kenalkan pada umi Nurul.


Teh Putri dan teh Alvi dan suami mereka juga sudah datang ke baitussalam sani.Mereka mengucapkan selamat pada Hana dan kang Hatim sehingga Hana tidak berhenti meneteskan air matanya karena dalam pikirnya,dia merasa senang.Selain orang tuanya,masih banyak orang yang menyayanginya.


"Cie,punya debay!" kata teh Alvi.


"Iya dong! Emangnya kamu aja yang bisa punya debay? aku juga bisa bikin!" kata kang Hatim.


"Sudah mau jadi bapak malah kaya bocil!" ledek teh Alvi.


"Siapa yang kaya bocil? Ngaca dulu wahay my sister!" kata kang Hatim.


"Eh,akumah gak kaya bocil!" kata teh Alvi.


"Gak nyadar!" kata kang Hatim.


"Hana,kamu mau di panggil apa sama anak kamu nanti?" tanya teh Alvi.

__ADS_1


"Umma! Di panggil umma!" jawab kang Hatim.


"Mohon maaf,saya tidak bicara dengan anda,anda siapa ya?" teh Alvi.


"Bi,kita pergi aja yu? Gak bakal nyambung ngobrol sama orang seperti dia!" kata kang Hatim.


"Bicara apa kamu Hatim?" tanya umi Nurul.


"Ah nggak umi!" jawab kang Hatim langsung menunduk.


"Ternyata bener kata Alvi! Kamu masih seperti anak kecil! Kamu itu sudah besar Hatim! Harus bisa dewasa! Harus bisa ngatur mana yang baik mana yang buruk dalam hal apapun! Apalagi dalam bicara! Harus bisa menyesuaikan,mana yang cocok untuk di ucapkan mana yang tidak! Kalimat yang kamu katakan barusan tidak pantas di ucapkan pada saudaramu sendiri!" kata Umi.


"Fahami tuh kata umi!" kata teh Alvi.


"Kamu juga Alvi! sama saja seperti Hatim! Udah ngaku dewasa tapi sama saja! Perbaiki itu! Seharusnya kamu sudah tudak butuh nasehat dari umi! Kalau mau di bandingkan,ilmu mu lebih tinggi dari pada ilmu umi! Harusnya kamu lebih paham dari umi!" kata umi Nurul.


"Ada apa ini?" tanya teh Dawa baru datang.

__ADS_1


"Didik adik adikmu biar mereka lebih dewas! Jangan seperti anak kecil terus!" kata umi.


"Mereka ribuk lagi?" tanya teh Dawa dan umi mengangguk.Tidak tunggu apa apa lagi teh Dawa menjewer telinga kedua adiknya tiada lain teh Alvi dan kang Hatim.


"Ampuuuun!" kata kang Hatim.


"Ampun teh ampun!" kata teh Alvi.


"Ampun ampun! Tom dan jerry saja ada akurnya,tapi kalian kok nggak ya? Gak malu? Sudah punya suami,sudah punya istri,sudah punya anak,sudah punya murid masih seperti ini?" tanpa melepaskan telinga kedua adiknya.


"Lepaskan Dawa!" kata Umi yang tidak tega anaknya di perlakukan seperti itu karena dari dulu walau marah sekalipun,umi Nurul tidak pernah main fisik.Beda dengan teh Dawa yang memang sifatnya galak.


"Ikuti!" kata teh Dawa setelah melepas telinga dua adiknya itu dan menyuruh mereka mengikutinya ke luar rumah umi.


"Gara gara kamu sih!" kata teh Alvi.


"Aku ngalah! Dari pada tambah berat hukumannya!" kata kang Hatim.

__ADS_1


"Jarak umur mereka hanya satu tahun! Pantas kalau mereka seperti itu! Mohon maklum ya!" kata umi pada Hana.


"Iya umi,kang Hatim sebenarnya bisa menempatkan sikap seperti itunya sesuai tempatnya! Mungkin menurutnya memang dengan teh Alvi dia bercanda! Tapi kalau umi percaya,saat kang Hatim berada di kantor ayah,saat bertemu dengan rekan kerja ayah,dia sangat dewasa!" kata Hana.


__ADS_2