Ustadz Muda

Ustadz Muda
#145


__ADS_3

Acara majlisan dari awal ba'da isya sampai sebelum subuh berjalan dengan lancar.Para ulama,para Kyai para Habib memberi sepatah dua patah kata yang akan menambah ilmu kang Hatim khususnya dan umunya untuk semua orang yang mendengarkan ceramah ceramah para ulama itu.


Kang Hatim dan Hana sedang beristirahat di kamar mereka setelah sholat subuh.


"Ngantuk banget ya!" kata kang Hatim sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Aku juga!" kata Hana sambil ikut berbaring di samping kanan kang Hatim.


"Kang!" panggil Hana.


"Iya?" sahut kang Hatim sambil melirik ke arah Hana.


"Apa gak berlebihan kita mengadakan resepsi sebagus itu?" tanya Hana.


"Akang juga gak tahu! namun niat akang bukan berlebihan! Tapi ingin bersyukur dengan cara seperti itu! akang berniat dengan mengadakan resepsi ini,akang bisa membahagiakan orang banyak terutama kamu yang insyaAllah akan selamanya menjadi istri dan ratu di hatiku!" jawab kang Hatim sambil tersenyum memandang wajah cantik Hana tanpa cadar.Begitu juga Hana,dia tersenyum malu mendengar kalimat yang kang Hatim sampaikan.


"Cinta ini padamu suci...


Bagai embun dipagi hari...


Tak perduli apa yang kan terjadi...


Engkau tetap kucintai...


Istriku... Engkau ratu dihatiku...


Engkau istriku tercinta...

__ADS_1


Semoga dipanjangkan umur...


Tetap dalam satu cinta...


Bersama slalu besyukur...


Harapanku hanya satu...


Setiamu kepadaku...


Dukunglah setiap langkahku...


Bahagia disampingku...


Engkau istri yang sholehah...


Kemana kaki melangkah...


Do'amu engkau sertakan...


Isrtiku... Engkau ratu dihatiku....." Kang Hatim menyanyikan syair yang suka di nyanyikan majlis syubbanul muslimin itu dengan sangat menghayati,meresapi dan dengan sangat merdu sehingga enak di dengar sehingga Hana yang mendengarnya dengan tidak sengaja terlelap tembus hingga ke alam mimpi.


Kang Hatim tersenyum manis melihat istrinya yang dengan damainya tertidur dengan wajah tersenyum dan nafas yang teratur.


Kang Hatim mencium kening Hana dengan lembut dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang.


"Tidurlah hubbi,akang janji selama tidak di hendaki oleh Allah,akang tidak akan meninggalkanmu! akang mencintaimu karena Allah! akang menyayangimu karena Allah! akang mengasihi mu karena Allah! Hanya kamu ,umi,kakak kakakku yang akan ku jaga!" kata kang Hatim.Setelah itu,kang Hatim menarik selimut dan menyelimuti tubuh istrinya.Kang Hatim juga ikut masuk ke dalam selimut dan ikut tertidur sambil memeluk Hana.

__ADS_1


🦚🦚🦚


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh.Dan sepasang pengantin yang baru menggelar resepsi itu masih dengan nyamannya tidur dengan posisi kepala Hana menindih tangan kanan kang Hatim dan tangan kiri kang Hatim memeluk Hana.


"Zulfi,Taufiq!" panggil teh Dawa pada anak anaknya yang sedang berkumpul riang dengan anak anak teh Zahra,dan anak teh Putri sambil makan cemilan dan ngobrol ini itu.


"Iya bu? ada apa?" tanya Zulfi.


"Kamu lihat pamanmu tidak?" tanya teh Dawa.


"Pama siapa?" tanya balik Zulfi.


"Paman kamu!" jawab teh Dawa tegas.


"Eh,maksud Zulfi,paman yang mana?" Zulfi menjelaskan maksud pertanyaannya.


"Paman Hatim!" jawab Teh Dawa.


"Oouh,gak lihat bu!" jawab Zulfi.


"Kalian lihat gak?" tanya teh Dawa pada anak anak yang lain.


"Nggak!" jawab mereka kompak.


"Coba kamu cari ke rumah nya Fi,bilang di tunggu sama ibu di rumah!" kata teh Dawa memberikan perintah.


"Bukannya menolak perintah ibu,tapi Zulfi takut mengganggu paman Hatim dan bibi Hana bu! maklum pengantin baru!" ujar Zulfi.

__ADS_1


"Cie cie bibi Hana! asalnya manggil neng Sri karena kebelet cinta sama neng Sri!" kata Asnafi meledek Zulfi di hadapan ibunya.


__ADS_2