
Zulfi memperhatikan Hana yang sedang menyimpan gelas gelas di atas meja.Sedangkan kang Hatim juga memperhatikan Zulfi yang sedang memperhatikan Hana.
"Eh,kurang satu ya? sebentar ya,saya buatkan dulu!" Hana kembali ke dapur karena minuman yang dia bawa kurang.
"Zulfi,kamu pulang gak sama adik kamu?" tanya teh Alvi.
"Nggak bi,katanya dia malu kalau pulau sama aku!" jawab Zulfi.
"Lah,kenapa malu?" tanya teh Alvi.
"Taufiq malu punya kakak seperti dia teh!" ujar kang Hatim menjawab pertanyaan teh Alvi.
"Eh,bukan begitu.Justru dia bangga punya kakak sepertiku.Dia malu pulang bersamaku karena takut teman temannya menganggapnya anak kecil hingga pulang dan mondok saja harus sama kakaknya,dan dia juga bicara pada teman temannya kalau dia ingin pindah mondok agar tidak bersamaku!" jelas Zulfi.
"Oooh,jadi dia ingin terlihat dewasa gitu mungkin!" kata teh Alvi.
"Iya bi!" jawab Zulfi.
Hana kembali datang dengan membawa segelas minuman di atas baki untuk Zulfi.
"Terima kasih bi!" kata Zulfi.
"Sama sama!" jawab kang Hatim mendahului Hana.
Dasar cemburuan! kata hati Zulfi.
"Sini duduk!" kang Hatim menepuk kursi di sebelah kananya.Dan Hana langsung menurut.
Teh Alvi tersenyum melihat sikap kang Hatim yang takut jika istrinya di ambil orang lain.
"Alvin,kenapa kamu sembunyi seperti itu?" tanya Hana.
"Aku malu sama kang Zulfi bi!" kata Alvin berbisik tapi terdengar oleh semua orang.
"Hey,Kenapa harus malu?" tanya Zulfi.
"Bibi,jangan bilang bilang aku malu sama kang Zulfi!" kata Alvin yang lagi lagi niatnya berbisik tapi terdengar semua orang.
Semuanya tertawa melihat Alvin yang jika di lakukan oleh orang dewasa akan memalukan dan akan seperti lawakan.
"Sebenarnya ini ada acara apa sih?" tanya Zulfi.
"Kita mau diskusi soal resepsi Fi!" jawab teh Alvi.
"Ooouh,kapan emang acaranya?" tanya Zulfi.
__ADS_1
"Teh Alvi yang akan menentukan tanggalnya!" jawab kang Hatim.
"Lah,kan yang ngadain acara kamu,kamu saja yang nentuin!" kata teh Alvi.
"Ya sudah,aku putuskan yang nentuin tanggal kang Roni!" kata kang Hatim.
"Zulfi,tanggal berapa yang bagus?" tanya kang Roni.
"Emh,hari sabtu minggu ini!" kata Zulfi.
"Kenapa hari sabtu?" tanya kang Hatim.
"Kan aku ingin berangkat ke pesantren hari seninnya!" kata Zulfi.
"Ooouh!"
"Cukup gak persiapannya?"
"Sepertinya cukup!" jawab teh Alvi.
"Bagaimana man? setuju tidak?"
"Yah,kalau kata teh Alvi persiapannya akan cukup,ya aku setuju!" jawab kang Hatim. Dan sekarang semua orang menatap ke arah Hana.
"Nah,sekarang kita tentukan,acara apa saja yang akan di laksanakan!" kata teh Alvi.
"Pertama,pembacaan ayat suci Al-Qur'an!" kata kang Hatim.
"Oleh siapa?" tanya teh Alvi.
"Dia!" sambil menunjuk ke arah Zulfi.
"Benar?"
"iya!"
"Bagus,kedua?"
"Tawasul!"
"Oleh?"
"Kang Roni saja!"
"Eh jangan jangan,lebih baik yang tua saja!" kata kang Roni.
__ADS_1
"Kang Ahmad?"
"Nah itu lebih baik!" kata kang Roni.
"Ketiga?" tanya teh Alvi.
"Emh,ijab qobul deh!" kata kang Hatim.
"Kan udah!" kata teh Alvi.
"Baru agama teh,negara belum!" kata kang Hatim.
"Emang harus gitu?" tanya teh Alvi.
"Iya,katanya buat bukti,sedangkan pas waktu ijab qobul di jakarta kita gak ngambil foto sama sekali!" jawab kang Hatim.
"Eh kata siapa?" teh Alvi mengeluarkan hand phone nya.
"Wih,ternyata ada! kirim ke aku teh!" kata kang Hatim.
"Ok!"
"lanjut ke empat!!" kata teh Alvi.
"Apa ya? sudah aja,acara intinya segitu!" kata kang Hatim.
"Terus hiburan?" tanya teh Alvi.
"Iya!"
"Dangdut?"
"Wah itu tidak mungkin terjadi,masa di pesantren dangdutan,apa kata dunia?"
"Terus mau apa?"
"Aku mau ngundang majlis sholawat dari pekalongan!" kata kang Hatim.
"Grup hadroh?"
"Iya,gak papa kan?" sambil melihat ke arah Hana.
"Iya!" jawab Hana.
"Ya sudah,terserah kamu saja! terus,orang tua Hana harus segara di kasih tahu,agar mereka persiapan!"
__ADS_1