
Kang Hatim sudah kembali ke Baitussalam sani setelah dari rumah teh Alvi.Kang Hatim tidak kerumah,dia malah diam diri di ruangannya.
Dia masih memikirkan sikap Hana padanya pagi tadi.
"Ke rumah jangan ya?" tanya kang Hatim pada dirinya sendiri.
"Tapi kalau masuk,takut sikapnya seperti tadi! bukan takut sama Hana nya,tapi takut kepancing emosi!"
"Tapi kalau gak masuk,lapar! mau makan di rumah teh Alvi tadi masa kan tadi Hana sedang masak,tambah marah nanti!"
Kang Hatim bicara sendiri.
"Ya sudahlah,mari kita masuk,siapkan mental!" kata kang Hatim sambil berdiri dari duduknya dan membenarkan bajunya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum!" kata kang Hatim.Tidak lama kemudian pintu terbuka.
Hana langsung mencium tangan kang Hatim walaupun hanya tangan saja yang bersentuhan kulit.
"Akang dari mana?" tanya Hana.
"Da-dari rumah teh Alvi!" jawab kang Hatim ragu.
"Kok gak ajak aku kang? jangankan ngajak pamit juga nggak!" kata Hana membuat kang Hatim bingung.
"Akang sudah pamit,akang juga ngajak kamu tadi!" kata kang Hatim.
__ADS_1
"Masa? kapan? kan dari tadi aku masak di dapur,untuk sarapan,aku juga dengar akang baca kitab! tapi aku gak sadar kalau akang berhenti baca kitab! pas aku selesai masak,mau ngajak akang makan,akang sudah tidak ada!" jelas Hana.
"Akang tadi ngajak kok bi,beneran! tapi tadi,kamu malah marah marah!" kata kang Hatim.
"Marah marah gimana?" tanya Hana.
"Tadi,saat akang ngajak kamu,kamu malah bentak akang,akang suruh cium tangan juga kamu malah jawab begini LAGI REPOT!" sambil meniru gaya bicara Hana pagi tadi.
"Ah masa,gak mungkin ah,mana berani aku bentak bentak akang!" kata Hana.
"Tapi buktinya,tadi kamu bentak akang!" kata kang Hatim.
"Gak mungkin!" kata Hana kekeh.
"Ya sudah,ayo masuk dulu!" kata kang Hatim dan menuntun tangan Hana masuk ke dalam rumah.
"Fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan! di sakiti fisik bisa sembuh dalam waktu paling cepat seminggu dan paling lama empat puluh hari,sedangkan luka di hati tidak akan sembuh dengan empat puluh hari bahkan sampai mati juga masih saja sakit kang!" kata Hana.
"Akang gak fitnah bi,ini bener,kamu tahu kan? akang gak pernah bohong?" tanya kang Hatim.
"Bisa saja kan,sekarang akang berbohong! kan manusia tidak menetap dalam satu pendirian?" kata Hana dengan mata sudah berkaca kaca.
"Iya itu benar bi,tapi akang gak bohong!" kata kang Hatim.
"Terus,kalau akang gak bohong,apa yang barusan akang ceritakan? bukannya itu bohong? bukti akang bohong,aku gak pernah melakukan apa yang akang bicarakan!" kata Hana dengan air mata sudah mengalir.
"Sudah sudah!" kang Hatim memeluk Hana yang menangis dengan tangan di pakai untuk menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Maaf bi,maaf!" kata kang Hatim.
"Aku sakit hati kang,rasanya gak enak di tuduh seperti itu oleh orang yang dicintai dan di percayai!" kata Hana dengan air mata tidak berhenti mengalir.
"Bi,akang gak maksud nuduh bi! wallah!" kata kang Hatim.
"Kalau akang sudah bosan buat mencintaiku dan menyayangiku,akang bicara saja! gampang kang,akang ceraikan aku dan biarkan aku menyusul ibu dan ayah pulang ke jakarta!" kata Hana.
"Bii,akang gak suka kamu bicara seperti itu bi,akang selalu mencintaimu sampai kapanpun!" ujar kang Hatim.
"Hatiku sakit kang!" kata Hana.
Bersambung...
Gambar di atas adalah denah wilayah pesantren Baitussalam Sani
*Keterangan
-R.T Dawa \= Rumah teh Dawa
-R.Umi \= Rumah umi Nurul
-R Hatim \= Ruangan kang Hatim
-R Hatim \= Rumah kang Hatim
__ADS_1