
"Ya sudah bi,maafkan akang ya?! mungkin itu hanya halusinasi akang,mungkin itu hanya ketakutan akang!" kata kang Hatim sambil mengelus lembut punggung Hana.
"Hiks,Akang percayakan sama aku? aku gak akan mungkin berani bentak akang!" kata Hana di sela sela tangisannya.
"Iya bi,akang percaya!" kata kang Hatim sambil memegang pundak Hana dan mengusap air mata di pipi Hana dengan jempolnya.
"Tidak mungkin kan,seorang bidadari surga,sang istri ustadz muda seperti itu?" goda kang Hatim membuat pipi Hana memerah dan tersipu malu.
Karena malu,Hana kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang kang Hatim.
"Ini hari apa sih bi?" tanya kang Hatim.
"Senin!" jawab Hana masih menyenderkan kepalanya di dada kang Hatim.
"Bukannya Zulfi mau berangkat hari ini ya?" tanya kang Hatim.
"Iyaa,tapi dia belum ke sini!" jawab Hana.
"Mau apa kesini?" tanya kang Hatim.
"Pamit!" jawab Hana.
"Iya ya,masa iya gak pamit!" ujar kang Hatim.
"Lebih baik kamu temui saja dia!" kata Hana.
__ADS_1
"Ya sudah,akang pergi dulu!" kata kang Hatim.
"Eh tunggu!" Hana menahan tangan kang Hatim agar tidak dulu pergi.
"Apa?" tanya kang Hatim.
"Gak mau makan dulu?" tanya Hana.
"Mau!" jawab kang Hatim dengan semangat.
"Ya sudah ayo,aku sudah masak,enak benget! khusus buat akang!" kata Hana dan menggandeng tangan kang Hatim menuju meja makan.
Dimeja makan,sudah terhidang sepiring ayam goreng,timun yang sudah di potong potong panjang,sambal cabe rawit merah dengan satu wadah penuh nasi putih yang sepertinya sudah agak dingin.
"Wah,kayanya enak nih!" kata kang Hatim sambil duduk.
Kang Hatim beranjak dari duduknya dan menuju wastafel untuk mencuci tangan.
"Aku gak masak banyak,tapi masak ini juga lumayan lama dan ribet!" kata kang Hatim.
"Iya gak apa bi,ini juga cukup kok,dari pada banyak banyak gak ke makan! kan mubazir!" kata kang Hatim.
"Iya sudah,ayo makan!!" kata Hana dan menambahkan nasi ke piring kosong satu lagi.
"Itu buat siapa bi?" tanya kang Hatim.
__ADS_1
"Untukku,kan aku juga mau makan!" jawab Hana.
"Jangan!" kata kang Hatim.
"Jangan apa?" tanya Hana.
"Jangan pisah piring,makan sepiring berdua aja!" kata kang Hatim dan membawa Hana agar duduk.
Merekapun mulai makan setelah membaca doa.Mereka makan dengan hati yang bahagia,wajah keduanya berseri seri bahagia.Mereka makan menggunakan tangan dengan sesekali mereka saling menyuapi.
"Sudah kenyang bi?" tanya kang Hatim.
"Hampir kenyang,tapi kan kata hadist nabi kita harus makan sebelum lapar,dan berhenti sebelum kenyang!" jawab Hana.
"Dapat dari kitab mana bi keterangan itu?" tanya kang Hatim.
"Gak tahu,aku denger ibu!" jawab Hana.
"Makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, Ternyata Bukan hadist Rasulullah SAW. Banyak hadist soal adab makan yang disampaikan Rasulullah SAW. ... Anjuran ini kerap disebut salah satu hadist Rasulullah SAW, padahal sebenarnya ini bukanlah hadist. Rasulullah SAW tidak pernah menganjurkan hal tersebut!" kata kang Hatim.
"Jadi? itu bukan hadist?" tanya Hana.
"Hadits ini dhaif, akan tetapi maknanya benar.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,Maknanya benar, namun sanadnya dha’if, silakan merujuk ke kitab zaadul ma'ad dan al-bidayah Wan nihayah. Bermanfaat bagi seseorang jika makan ketika sudah sudah lapar atau sedang membutuhkan. Dan ketika makan, tidak boleh berlebihan sampai kekenyangan. Adapun kekenyangan yang tidak membahayakan, tidak mengapa! itu kata Syaikh Abdul Aziz bin Baz!" jelas kang Hatim.
__ADS_1
"Oouh,jadi begitu ya!" Hana mengangguk angguk mengerti.