Ustadz Muda

Ustadz Muda
#149


__ADS_3

"Bi,akang mau ke rumah teh Alvi,mau ikut gak?" tanya kang Hatim saat Hana sedang membuat sarapan.


"Mau apa?" tanya Hana tanpa berbalik badan menghadap kang Hatim.


"Ada yang perlu akang bicarakan!" jawab kang Hatim.


"Apa?" tanya Hana lagi.


"Ya sudah,kamu ikut saja! biar tahu!" jawab kang Hatim.


"Gak mau! emangnya gak lihat aku lagi apa?" Hana bicara dengan nada tinggi membuat kang Hatim heran.


"Kenapa bicaranya begitu bi?" tanya kang Hatim.


"Begitu apanya? dari tadi juga begini!" bentak Hana.


"Lah,ya sudah kalau kamu gak mau ikut! akang pergi dulu!" kata kang Hatim dengan heran.


"Pergi saja! gak di larang dari tadi juga!" kata Hana masih menggunakan nada tinggi.


"Gak mau cium tangan dulu bi?" tanya kang Hatim.


"Lagi repot!" jawab Hana singkat.


"Ya sudah,Semoga kamu cepat sembuh ya!" kata kang Hatim.


"Emangnya aku sakit?" tanya Hana.


"Akang pergi dulu,Assalamualaikum!" kata kang Hatim.


"Bukannya jawab malah mau pergi!" ujar Hana.


Dia kenapa ya? kenapa jadi begini? biasanya dia lemah lembut! kata hati kang Hatim sambil berjalan keluar rumah.


Tidak lama,kang Hatim sudah sampai di rumah teh Alvi.Tanpa membaca salam dia langsung masuk ke rumah teh Alvi.Kebetulan,pintu rumah teh Alvi tidak di kunci.

__ADS_1


Karena teh Alvi ada di dapur,kang Hatim juga langsung ke dapur.Langsung duduk di kursi yang ada di meja makan.


"Astaghfirullah Hatim,ngaji fikih,ngaji alat,ngaji tasahuf,ngaji tauhid,ngaji mantek,ngaji bilagoh,ngaji sorof,bayan,ma'ani,tapi akhlaq tidak punya!" kata teh Alvi.


Bukannya menanggapi kalimat kalimat teh Alvi,kang Hatim malam meneguk teh hangat di atas meja makan itu.


"Woy!" teh Alvi menggeprak meja hingga menyadarkan kang Hatim.


"Astaghfirullah!" kang Hatim mengerjap kaget.


"Min husni islaamil mar i tarkuju maa laaa ya'niihi


Dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak menjadi urusannya!" kata teh Alvi.


"Maaf maaf!" kata kang Hatim.


"Kenapa? sampai melamun begitu keras!" tanya kang Hatim.


"Aku heran teh!" jawab kang Hatim.


"Barusan,aku pamit pada Hana!" jawab kang Hatim.


"Terus? kenapa heran?" tanya teh Alvi lagi.


"Eh,ngomong ngomong Alvin sama kang Roni ke mana?" tanya kang Hatim.


"Kang Roni ngajar,dan seperti biasa Alvin selalu ikut ngajar!" jawab teh Alvi.


"Oouh!" sambil kembali meneguk teh hangat yang tadi dia teguk.


"Teh itu punya teteh Tim!" kata teh Alvi.


"Ikhlaskan saja teh,teh hangatnya enak!" ujar kang Hatim.


"Terserah!" kata teh Alvi.

__ADS_1


"Lanjutkan cerita Tim!" kata teh Alvi.


"Oh iya,sampai mana tadi?" tanya kang Hatim.


"Pamit!" jawab teh Alvi.


....


Kang Hatim pun menceritakan semua apa yang terjadi tadi pagi kepada kakaknya.Dengan serius teh Alvi mendengarkan cerita kang Hatim hingga teh Alvi juga terbawa bingung dan merasa aneh.


"Aku bingung teh dengan sifat Hana! waktu itu juga pernah bersikap seperti itu,dia marah marah ke tukang ketoprak,dan yang paling parah,dia marah marah karena hal yang tidak masuk akal!" kata kang Hatim.


"Apa emangnya?" tanya teh Alvi.


"Dia mau ketoprak pakai saos! sedangkan pedagang ketoprak itu tidak menyediakan saos karena memang ketoprak tidak ada yang pakai saos! tapi Hana ingin ketoprak itu pakai saos,hingga dia marah marah pada pedagang ketoprak itu,dia bilang kalau dagang harus komplit,harus itu,harus ini!" jawab kang Hatim.


"Apa mungkin dia ngidam?" tanya teh Alvi.


"Gak mungkin,eh tapi mungkin juga,tapi masa iya?"


"Emangnya kamu belum apa apa sama Hana?" tanya teh Alvi.


"Gak perlu tahu!" jawab kang Hatim.


"Kalau bener hamil gimana?" tanya teh Alvi.


"Ya gak papa,tapi kok cepat amat!" jawab kang Hatim.


"Iya juga ya!" teh Alvi bingung.


"Emangnya kalau orang ngidam suka begitu?" tanya kang Hatim.


"Biar para pembaca yang pernah ngidam yang jawab!" kata teh Alvi karena bab ini Bersambung...


Maaf baru up gays,insyaAllah untuk kedepannya Author akan jadwal untuk up! insyaAllah Ustadz Muda akan Up setelah satu hari dari Up Bidadari Bercadar...

__ADS_1


Terima kasih atas perhatiannya....


__ADS_2