Ustadz Muda

Ustadz Muda
#155


__ADS_3

Setelah sholat subuh kang Hatim langsung menyiapkan mobilnya untuk di pakai mengantar Zulfi ke pesantren yang di Kubang Sari.


Yang akan ikut mengantar Zulfi hanya kang Hatim,Hana,kang Rahmat dan kang Roni beserta teh Alvi pasti dengan Alvin.Dan yang ingin ikut Taufiq.


Kang Hatim dan kang Roni membantu Zulfi dan kang Rahmat memasukan barang barang yang akan di bawa oleh Zulfi ke bagasi.


"Sudah selesai?" tanya teh Alvi.


"Sudah!" jawab kang Roni.


"Ayo berangkat!" kata kang Hatim setelah membukakan pintu depan untuk Hana.


Kang Hatim jadi supir dan Hana di sampingnya,di bangku ke dua Zulfi,Taufiq dan kang Rahmat dan di bangku ketiga bangku terakhir teh Alvi dan kang Roni beserta Alfin.


Semua sudah siap,sudah memasang sabuk pengaman dan sudah duduk dengan nyaman.


Subhaanal ladzii sakhhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniina wa innaa ilaa robbinaa lamungqolibuuna.


Mereka membaca doa naik kendaraan sebelum berangkat agat di beri kelancaran dalam perjalanan.


Hanya membutuhkan waktu empat jam setengah untuk sampai di pesantren impian Zulfi si calon qori juara internasional.Itu impian anggota keluarga Zulfi.


"Man,di depan ada super market,tolong mampir dulu man!" kata Zulfi.


"Mau apa Zul?" tanya kang Hatim.


"Beli adrahi!" jawab Zulfi.


"Oh iya!" ujar kang Hatim dan kembali fokus ke jalanan.


Tidak lama kemudian,mobil kang Hatim terparkir di halaman super market.


"Bii,hubbi!" kang Hatim membangunkan Hana yang secara tidak sengaja dia tertidur.


"Apa?" tanya Hana.

__ADS_1


"Mau beli sesuatu gak? akang mau ke super market!" jawab dan tanya kang Hatim.


"Belum sampai?" tanya Hana.


"Belum,sebentar lagi!" jawab kang Hatim.


Mereka di mobil tinggal berdua karena yang lain sudah turun untuk membeli sesuatu atau ke toilet.


"Mau ke toilet!" kata Hana.


"Ya sudah,ayo!" kang Hatim turun dan membukakan pintu untuk Hana.


"Mereka berjalan bergandengan tangan seperti biasa menunjukkan keromantisannya di hadapan umum membuat yang lain merinding kagum.Maklum super market itu sudah dekat dengan lingkungan pesantren.Jadi tidak aneh jika ada orang yang bercadar,atau laki laki yang memakai sarung,koko dan peci.


"Mau beli sesuatu gak?" tanya kang Hatim setelah selesai dengan urusan toilet.


"Mau minuman yang segar kang!" jawab Hana.


"Ya sudah ayo!" kata kang Hatim dan lanjut mencari minuman yang diinginkan Hana.


"Kang!" kata Hana.


"Mau eskrim!" jawab Hana.Dia tiba tiba ingin eskrim karena melihat kulkas eskrim itu.


"Mau es?" tanya kang Hatim.


"Boleh?" tanya balik Hana yang seperti anak kecil yang meminta ijin ingin makan es kepada ibunya dan takut di larang.


"Ya boleh lah,mau yang mana? sekalian beli buat Taufiq dan Alvin!" kata kang Hatim.


"Asyik!" Hana langsung memilih eskrim yang dia mau.


"Aku mau yang ini!" kata Hana memperlihatkan eskrim yang berbentuk corong berukuran paling besar di antara yang lainnya kepada kang Hatim.


"Ya sudah,ambil tujuh!" kata kang Hatim dan langsung di turuti oleh Hana. Mengambil tujuh biji eskrim dan memasukkannya kepada kantong belanja.

__ADS_1


"Sudah? atau mau beli sesuatu lagi?" tanya kang Hatim.


"Mau cemilan boleh?" tanya Hana.


"Boleh!" jawab kang Hatim.


"Ayo!" Hana menggandeng tangan kang Hatim untuk mencari cemilan dan minuman.


Saat keluar dari super market,kang Rahmat,kang Roni,teh Alvi,Alvin,Zulfi dan Taufiq sudah menunggu di depan mobil karena mobil di kunci jadi mereka tidak bisa masuk.


"Kenapa gak nunggu di dalam? kan panas nunggu di sini!" tanya kang Hatim yang mungkin bisa di bilang oon.


"Kan mobilnya di kunci Tim!" kata teh Alvi.


"Eh,iya ya,lupa!" kata kang Hatim dan mengeluarkan kunci mobil beserta sebuah remot dari dalam sakunya.


Setelah berada di dalam mobil Hana memberikan masing masing satu eskrim kepada semua orang.


"Makasih bibi!" kata Alvin dengan suara lucunya.


"Sama sama!" jawab Hana.


"Kang gak mau?" tanya Hana setelah mobil kembali melaju.


"Mau!" jawab kang Hatim.


"Lah,kenapa gak beli?" tanya Hana.


"Mau di suapi kamu aja!" jawab kang Hatim dan membuat orang lain yang mendengarnya tersenyum.


Pipi Hana memerah di balik cadarnya.


"Ya sudah,Ini buat akang aja!" Hana memberikan es itu pada kang Hatim.


"Gak mau bi,mau di suapi aja!" kata kang Hatim.

__ADS_1


"Auw! sakit bi!" kata kang Hatim yang pahanya di cubit Hana.


"Orang lain yang menyaksikan itu memalingkan wajah sambil tersenyum dan mungkin ada rasa baper....


__ADS_2