
Salah satu dari mereka mewakili yang lainnya mengetuk pintu rumah kang Hatim sambil berkata assalamualaikum.
Kang Hatim dan Hana ada orang yang mengetuk pintu rumah mereka sudah menduga bahwa yang mengetuk pintu adalah tamu yang kang Hatim undang.Oleh karena itu,Hana siap siap memakai cadarnya dan Kang Hatim bergegas membuka pintu menyambut tamu nya.
"Waalaikumussalam!" sambil membuka pintu dengan wajah gembira karena sesuai dugaannya yang datang adalah tamu agungnya.
"Ahlan wa sahlan ya akhi Fahmi Setiadi S.sn!" kata kang Hatim dan lanjut berpelukan dengan Ustadz Fahmi.
"Kenalkan,ini Ustadz Husen,atau nama aslinya Husni,namun saat di pesantren jadi Husen,Husni dan Husen itu artinya sama! Kalau di sini,dia di kenal sebagai Ustadz Muda Hatim!" kata Ustadz Fahmi memperkenalkan kang Hatim pada teman temannya yang ikut bersamanya.
"Ustadz ustadz,ustadz dari mana?" kang Hatim dengan malu.
"Tuh kan,Ustadz Husen ini guru fikih,guru tauhid dan guru tashawuf saya! jadi karena dia jago tashawuf,pasti dia selalu rendah hati dan rendah diri!" Ustadz Fahmi.
"Sudah lah,mari masuk! masa ngobrol di depan pintu,kaya orang berantem!" kata kang Hatim.Lanjut kang Hatim bersalaman dengan orang orang yang ikut Ustadz Fahmi.Teman teman Ustadz Fahmi ingin mencium tangan kang Hatim namun seperti biasa kang Hatim menolak keras tangannya untuk di cium dengan cara dia menarik tangannya dengan cepat sebelum di cium orang lain.
"Ayo ayo masuk!" kang Hatim mempersilahkan tamu tamunya masuk rumah dan membawanya ke ruang tamu.
Di sana sudah tersedia termos,gelas,sendok,kopi,gula,teh celup.
"Ayo,bikin minuman sendiri aja,Fah,gw mau ambil rokok dulu!" kata kang Hatim.
"Alah gak usah repot repot Sen kalau mau ngasih sedikit!" kata Ustadz Fahmi.
"Modus lu! mau sedikit mau banyak juga pasti di ambil!" kata kang Hatim sambil melenggang pergi meninggalkan tamu tamunya.
Tidak lama kemudian,kang Hatim datang kembali membawa dua belas bungkus rokok herbal bermerek huruf arab di tangan kanannya dan dua buah asbak di tangan kirinya.
"Ah lu tau aja mana yang gw suka mana yang gw gak suka Tim!" kata Ustadz Fahmi.
__ADS_1
"Sen,gw minta maaf sebelumnya,gw membawa teman teman gw dari Madura!" kata Ustadz Fahmi.
"Wes ora popo,gw seneng kok! nambah keluarga,nambah temen,manjangin silaturahmi,manjangin umur!" balas kang Hatim.
"Syukur kalau gitu!" kata Ustadz Fahmi.
"Oh iya Fah,jadi gini! kemarin sebelum maghrib,gw dan istri mau ke rumah! Namun aneh,rumah gw yang tidak pernah mati lampu,saat itu gelap.Gw tanya,kata istri gw dia juga gak matiin lampu? gw gak terlalu ambil pusing! langsung aja masuk rumah! gw nyalain lampu,dan rumah kembali terang.Namun,tiba tiba istri gw kesakitan! sakit perut!" jelas kang Hatim.
"Sudah kamu tanya belum,siapa tahu dia punya penyakit bawaan yang memang suka kambuh?!"
"Nggak,dia gak punya penyakit bawaan,dan kata kakak gw selama dia mondok di sini juga gak pernah seperti itu!" kata kang Hatim.
"Apa dia gak salah makan?" tanya Ustadz Fahmi.
"Sepertinya tidak,dan yang membuat gw nyangka penyakit itu bukan penyakit medis,karena saat gw bacain lafadz lafadz,dia berteriak seperti yang kesurupan!" kata kang Hatim.
"Ada lagi gejalanya?" tanya Ustadz Fahmi.
"Ada dua cara! memang mungkin jenisnya masih santet sih,ada yang ngomong teluh!" kata Ustadz Fahmi.
"Teluh itu bahasa sunda Fah kalau gak salah!" kata kang Hatim.
"Mungkin! nah caranya juga beda beda!" Ustadz Fahmi.
"Salah satu nya apa aja?" tanya kang Hatim.
"Ada yang menggunakan media patung atau boneka yang di tusuk tusuk! ada yang menggunakan foto korban! ada juga yang ngirim sesuatu ke rumah korban!" jawab Ustadz Fahmi.
"Oouh gitu,terus yang istri gw alami gimana?" tanya kang Hatim.
__ADS_1
"Gak tahu,kita deteksi dulu,mulai dari yang tidak bersentuhan antara gw dan istri lu!" jawab Ustadz Fahmi.
"Bersentuhan kulit maksudnya?" tanya kang Hatim.
"Nggak lah! masa iya lu!" jawab Ustadz Fahmi.
"Gimana kalau kita mulai sekarang aja?" tanya dan ajak kang Hatim.
"Boleh,tapi jangan di sini! aura nya terlalu enak!" ujar Ustadz Fahmi.
"Enak gimana?" tanya Ustadz Fahmi.
"Iya enak,auranya gak ada gangguan apapun!" jawab Ustadz Fahmi.
"Ya sudah kita ke sana saja!" nunjuk ruang keluarga.
"Nah boleh tuh! kalian tunggu di sini aja ya,mau ngopi silahkan ngopi,tapi jangan keluar rumah!" kata Ustadz Fahmi.
"Baik!" jawab keempat teman Ustadz Fahmi.
"Oh iya,kalau mau makan ke dapur aja ya,ada nasi kok! cuman seadanya!" kata kang Hatim.
"Baik,terima kasih Ustadz!" jawab salah seorang dari keempat teman Ustadz Fahmi mewakili yang lainnya.
"Ya sudah,kami pergi dulu ya!" kata Ustadz Fahmi.
"Silahkan mas!" jawab salah seorang dari mereka lagi.
Sesampainya di ruang keluarga yang seperti sudah di gambarkan sebelumnya ada lemari kristal yang isinya kitab kitab.Ustadz Fahmi duduk di bawah yang beralaskan karpet krem.
__ADS_1
"Di atas aja Fah!" kata kang Hatim.
"Gak nyaman kalau di atas!" kata Ustadz Fahmi.