
Tok tok tok
"Permisi!" kata Auni setelah mengetuk pintu ruangan yang suka diisi oleh Bu NUraeni yang sekarang di dalam ruangan itu ada Hana dan kang Hatim.
"Masuk!" kata Hana.
Auni pun masuk dengan sopan setelah mendengar jawaban dari Hana.
"Permisi non!" kata Auni setelah masuk ke dalam ruangan itu.
"Silahkan duduk!" kata Hana dengan ramah juga hingga akhirnya Auni duduk.
"Boleh tau namamu?" tanya Hana.
"Nama saya Auni Lastari!" jawab Auni.
"Sepertinya masih muda? Berapa usiamu?" tanya Hana.
"Saya baru dua puluh tahun non!" jawab Auni.
"Tuh kan bener! Sudah lulus kuliah?" tanya Hana.
"Masih non!" jawab Auni.
"Masih?"
"Masih kuliah!" jawab Auni.
__ADS_1
"Iya iya! Biar enak kalau kamu manggil saya mba atau kakak gimana?" tanya Hana.
"Ah gak enak non!" jawab Auni.
"Eh gak papa,saya kan anak tunggal,Suami saya anak bungsu! Jadi gak punya adik! Padahal pengen banget punya adik! Jadi kalau boleh aku ingin menganggapmu adik!" kata Hana dan setelah mendengar kalimat Hana,Auni langsung turun dari kursi duduk di bawah memegang tangan Hana sambil menangis.
''Kamu kenapa?" tanya Hana dengan kaget.
"Aku sudah tidak punya orang tua! Pak Bima dan Bu Nuraeni yang aku anggap orang tua! Aku pernah mendengar kalimat seperti itu dari pak Bima!" kata Auni.
"Apa ayahku juga menganggapmu anaknya?" tanya Hana.
"Iya non! Bahkan aku sampai kuliah juga di biayai oleh pak Bima!" jawab Auni.
"Bangun bangun! Aku seneng banget!" kata Hana membangunkan Auni dan mereka berpelukan.
"Tadinya aku bener bener takut untuk mengakui itu! Aku takut non Hana jadi benci padaku gara gara aku bisa hidup di biayai oleh pak Bima!" kata Auni masih berpelukan dengan Hana.
"Kalau non tau,aku jadi seperti ini juga aku melihat non Hana! Aku tertarik sama non Hana! Sebelumnya aku tidak kenal kerudung! Sholatpun aku di ajarkan oleh Aya-Maaf pak Bima!" kata Auni yang memang cara berpakaiannya sama dengan Hana namun dia tanpa cadar.
"Apa kamu juga memanggil ayahku ayah?" tanya Hana.
"Maaf,tapi beliau yang menyuruhku!" jawab Auni setelah duduk kembali di tempat asalnya.
"Tidak tidak! Kau sekarang adikku! Panggil ayah!" kata Hana.
"Terima kasih!'' kata Auni.
__ADS_1
"Kamu tinggaal di mana?" tanya Hana.
"Dekat sini!" jawab Auni.
"Rumah sendiri?" tanya Hana.
"Masih ngontrak!" jawab Auni.
''Kalau gitu,kamu tinggal di rumah ayah saja! Kan aku sudah punya rumah di kampung! Otomatis rumah kosong! Gimana kalau kamu tinggal di sana?" tanya Hana.
"Ah gak usah! Ayah sudah banyak membantuku!" jawab Auni.
"Kan kamu anaknya,pastilah ayah selalu membantumu! Ingat! Panggil aku kakak! Dan sekarang kamu tinggal di rumah ayah!' kata Hana.
"Waktu ayah dan ibu meninggal aku sangat sangat terpukul! Aku berpikir kalau sudah tidak ayah sama ibu gak akan ada lagi orang yang sayang padaku! Ternyata masih ada! Putri ayah! Yang sekarang menganggapku adiknya sendiri! Yang baiknya juga sama seperti ayah!" kata Auni dengan suara serak menahan agar tidak nangis lagi.
Hana dan Auni terus mengobrol segala hal sedangkan kang Hatim di cuekkan.Kang Hatim hanya bisa mendengarkan curhatan dua perempuan itu.
"Kan tadi sudah kakak katakan,kakak punya rumah di kampung! Jadi kakak gak bisa ngurus butik ini! Kakak serahkan semuanya,pada kamu!" kata Hana.
"InsyaAllah kak! Aku akan menjaga amanat dari kakak!'' kata Auni.
"Ya sudah ya,kakak mau pulang dulu! Sore nanti pak Yogi akan menjeemputmu!" kata Hana.
"Iya kak! Sekali lagi terima kasih banyak!" kata Hana.
"Ayo kang!" ajak Hana.
__ADS_1
"Ayo ayo!" jawab kang Hatim dan bangkit dari duduknya yang membosankan itu.
Hana dan Auni berpelukan sebelum Hana pergi.Dan semuanya sudah deal Auni akan tinggal di rumah peninggalan ayah Bima dan dia akan mengurus semua urusan butik yang nantinya akan di bantu oleh Arjuna.