Ustadz Muda

Ustadz Muda
#251


__ADS_3

Hana terbangun dari tidurnya pukul setengah empat dini hari,tapi dia tidak melihat kang Hatim di sampingnya yang berarti dia belum pulang.Tapi spiker sudah tidak berbunyi tidak lagi terdengar suara ngaji.


Dia melihat jam dinding sambil memposisikan dirinya menjadi duduk dengan masih mengucek matanya berusaha melihat jam dinding dengan jelas.


"Kok kang Hatim belum pulang ya?!" tanya Hana pada dirinya sendiri.Setelah beberapa menit merenung,Hana bangkit dari duduknya,melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Setelah wudhu,Hana mengambil mukena dan sajadahnya dan lanjut melaksanakan sholat tahajud.


Setelah sholat sunat tahajud dua rakaat,Hana terus membuka al-qur'an dan membacanya.


Tidak tahu kang Hatim sudah masuk ke kamar mereka dan duduk di kursi yang ada di sana.Seperti biasa dia memperhatikan istrinya baca al-qur'an.


"Hubbi!" panggil kang Hatim setelah setengah jam berlalu.


"Akang? Sejak kapan ada di sini?" tanya Hana setelah kaget di panggil kang Hatim.


"Sejak kamu merasa nyaman saat mulai membaca kitab suci itu!" jawab kang Hatim.


'Iya sih,tadi tiba tiba aku merasa nikmat banget saat ngaji! Merasa aman!' kata hati Hana.


"Akang bisa tahu apa yang hatimu katakan!" kata kang Hatim.Hana menutup Al-Qur'an dan menciumnya.

__ADS_1


"Beruntung sekali ya Allah,kitab suci bisa di cium oleh istriku menggunakan bibirnya yang indah! Yang aku saja jarang dia cium! Tapi kitab suci mu bisa dengan mudah mendapat ciuman istriku!" kata kang Hatim.


"Apa apaan sih kang,cemburu sama Qur'an!" kata Hana sambil tersenyum malu.


"Bukan hanya sama Al-Qur'an,sama semua yang kamu pakai,yang bisa selalu di sentuh sama kamu!" kata kang Hatim.


"Aku lapar!" kata Hana setelah melepaskan mukenanya.


"Sini duduk!" kata kang Hatim menepuk tempat duduk di sampingnya.Hana nurut duduk di samping istrinya.


Kang Hatim memegang kepala Hana dan mencium kening istrinya dan dia tahan sedikit lama.


"Semoga sehat selalu ya! Ama di sini bersamamu! Akan selalu menjagamu dan menjaga ibumu! Semoga kamu lahir dalam keadaan sehat,jadi anak yang tampan! Pintar! juga jadi anak yang sholeh! Bisa berbakti sama orang lain! Bisa berguna bagi orang lain!" kata kang Hatim dengan tangan mengelus perut istrinya.Begitu juga dengan matanya,fokus ke perut Hana seakan akan sedang ngobrol sama bayi yang sudah lahir.


"Semoga kamu juga bisa seperti ayah mu! Malaikat mu! Menjadi Ustadz! semoga kamu jadi hafidz! Jadi qori! Jadi dai juga!" kata Hana tapi tidak melihat ke perutnya,dia malah memandang sahdu suaminya yang wajahnya sangat damai.Enak untuk di pandang.


"Sulthaan! Semoga namamu menjadi doa!" kata kang Hatim.


"Akang!" kata Hana.


"Apa? Kamu mau apa?" tanya kang Hatim.

__ADS_1


"Aku ingin tahu! Akang kenapa?"


"Kenapa apanya?" tanya kang Hatim.


"Kok tiba tiba seperti ini? Bicara seperti itu! Sedih tahu! Aku juga takut!"


"Akang juga gak tahu! Rasanya ingin aja gitu,bicara seperti itu! Menunjukkan rasa sayang akang ke si Sulthaan! Si putra mahkota! Si Putra yang akan ikut mengharumkan nama Baitussalam! Mengharumkan nama ayahnya! Ama Muhammad Hatim Husni Abdurahman! Mengenalkan nama umma nya! Umma Farhana Sri Cempaka Indah! Wah,pasti bangga sekali kita ya! Selaku orang tuanya!" kata kang Hatim.


"Aku juga akan bangga banget! Gak bisa bayanginnya! Pasti bangga banget! Pasti terharu banget!" kata Hana.


"Sudah ah! Bentar lagi adzan! Akang siap siap ke mesjid lagi!" kata kang Hatim.


"Iyaa! Mau mandi dulu gak?" tanya Hana.


"Dingin bi! nanti siang aja!" jawab kang Hatim mencium kening istrinya lagi dan bangkit dari duduknya.


"Aku boleh ikut ke mesjid gak?" tanya Hana.


"Emmm,ya sudah! Boleh deh!" jawab kang Hatim.


"Okey! Tunggu aku pakai mukena dulu dan mau wudhu dulu!" kata Hana dengan semangat.Kang Hatim tersenyum karena dengan hal kecil seperti itu saja,bisa membuat istrinya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2