Ustadz Muda

Ustadz Muda
#262...


__ADS_3

Teh Dawa langsung mengganti kain si bayi,bahkan baju yang di pakai pun dia ganti karena basah juga.


"Kayanya dia nyaman banget tidurnya! Sampai di ganti baju juga gak bangun!" kata teh Dawa.Ya memang si bayi tetap tidur dengan nyenyak sambil memasukkan jempolnya ke dalam mulut sebelum tangannya di bungkus lagi dengan kain oleh teh Dawa.Hingga saat tangannya di ambil,dia membuka matanya.


"Eh,bangun juga ternyata!" kata teh Dawa.


"Gendong teh!" kata kang Hatim.Teh Dawa nurut menggendong keponakannya.Teh Dawa menyentuh nyentuh pipi dekat bibir si bayi.


"Dia kayanya lapar Tim!" kata teh Dawa.


"Eh,emang cirinya apa? Kok teh Dawa tahu?" tanya kang Hatim.


"Ih kamu! Lihat ini!" teh Dawa menyentuh nyentuh lagi pinggir bibir si bayi.Mulutnya langsung bergerak dengan lidahnya seperti mencari apa yang ada di dekat bibirnya.


"Ooh gitu!" kang Hatim mengangguk mengerti."Lucu ih!" kata kang Hatim dengan nada bicara gemas.Inginnya sambil meloncok loncat.


"Kamu susuin dulu Han!" kata teh Dawa.Hana langsung di bantu oleh kang Hatim mengposisikan dirinya untuk duduk.Setelah mernah,teh Dawa memberikan si bayi ke ibunya.Dan Hana mulai memeberikan asi kepada si bayi dengan si bayi di masukkan ke dalam kerudung besarnya.Membuat teh Dawa geleng geleng kepala dan tersenyum.


"Itu salah satu kewajiban mu sebagai perempuan! Sudah dari sananya perempuan harus melakukan itu! Kamu harus dengan senang hati melaksanakannya! memang akan terasa ada sakit,pegal,rasa ini itu ini itu akan kamu rasakan! Jalani dengan sabar! Nikmati prosesnya dulu,nanti kamu bisa menikmati hasilnya!" kata teh Dawa.


"Iya teh!" jawab Hana.


"Siapa nama si bayi Tim? Teteh lupa lagi!"


"Muhammad Sulthaan Khaerussalam H A!" jawab kang Hatim.


"Apa H A?"


"Hatim Abdudrrahman atau gak Husni Abdurahman juga bagus! Atau Hasan Abdurahman! Atau Husain Abdurahman! Artinya sama!"

__ADS_1


"Halah,terserah kamu aja deh,pusing! Ke muhsola dulu!" kata teh Dawa dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban kang Hatim atau Hana.


"Kalau namanya mau di ganti,ganti aja kang! Namanya gak harus Sulthaan! Asal rizki sama derajatnya aja sama dengan sultan!" kata Hana.


"Ganti dengan apa?" tanya kang Hatim.


"Terserah akang aja! Tapi harus yang lebih bagus kata katanya,dan bagus artinya!" kata Hana.


"Akang cari dulu!" mengetuk dagunya menggunakan telunjuk beberapa lagi mengisyaratkan dia sedang berpikir.


"Kalian belum tidur?" tanya teh Zahra tiba tiba mengagetkan mereka.


"Astaghfirullah,kaget loh kita teh!" kata kang Hatim.


"Maaf maaf! teh Dawa ke mana?" tanya teh Zahra.


"Ke mushola!" jawab kang Hatim.


"Ini teh!" kata Hana.


"Ya Allah,hati hati dia gak bisa nafas di tutup gitu!" kata teh Zahra.


"Oh gitu ya teh?"


"Iyaa!" Buru buru Hana membuka sedikit kerudungnya hingga memperlihatkan wajah si bayi namun tetap menutupi bagian sensitifnya.


"Teteh mau nyusul Dawa dulu ya!" kata teh Zahra.


"Iya teh silahkan!" kata Hana.

__ADS_1


"Jagain istri sama anakmu!" kata teh Zahra.


"Biasa aja kali!" ledek kang Hatim.


"Gimana kang?" tanya Hana setelah teh Zahra pergi.


"Udah ah,itu aja yang kamu buat!" jawab kang Hatim.


"Ih jangan! Aku tuh maunya Sulthaan nama panggilan aja! Nama aslinya beda lagi! Harus akang yang bikin!"


"Muhammad Arroyyan Dylan Alfarizqi!"


"Nah itu bagus! Jadi fiks ya,namanya Muhammad apa barusan?"


"Arroyyan Dylan Alfarizqi!"


"Nah iya itu,panggilannya Sulthaan!" kata Hana.


"Terserah kamu aja hubbi!"


"Artinya apa?" tanya Hana.


"Anak laki laki yang selalu membawa rezeki dan berwawasan luas dengan penuh kekuatan!" jawab kang Hatim.


"Wah bagus tuh,artinya! Sesuai dengan cita cita aku,ingin dia jadi tahfidz,qori,da'i pasti wawasannya harus luas! Aamiin! Laksanakan cita cita umma ya nak ya!" kata Hana.


#Vote


#Like

__ADS_1


#Komen


................._-*


__ADS_2