Ustadz Muda

Ustadz Muda
#163


__ADS_3

Setelah cukup lama perjalanan,akhirnya kang Hatim dan yang lainnya sampai di depan rumah umi Nurul.


Jam menunjukkan pukul setengah enam,yang berarti sebentar lagi maghrib.


Kang Hatim dan yang lain singgah di rumah umi Nurul.Kang Hatim juga mau klarifikasi tentang Zulfi.


"Umi,Hatim minta maaf!" kata kang Hatim yang duduk di bawah.Kepalanya di tidurkan di pangkuan umi Nurul.



"Maaf kenapa?" tanya umi Nurul sambil melepaskan peci kang Hatim dan umi mengusap usap kepala kang Hatim dengan penuh kasih sayang.


"Teh Alvi yang akan jelasin!" jawab kang Hatim.


"Uluh,jelasin aja sendiri!" kata teh Alvi.


"Ada apa vi?" tanya umi Nurul.


"Tanya aja sama Hatim mi!" kata teh Alvi.


"Gak boleh gitu teh,kalau di tanya jawab!" kata kang Hatim.


"Gini mi............." teh Alvi menceritakan semua yang terjadi sesuai yang tadi kang Hatim jelaskan.


"Oooh gitu,ya sudah gak papa!" kata umi Nurul setelah teh Alvi menjelaskan.


"Iya umi,tapi aku takut sama teh Dawa umi!" kang Hatim dengan nada manja.


"Manja!" teh Alvi sirik.


"Nanti umi yang ngomong!" kata umi Nurul.


"Terima kasih umi!" kang Hatim bangun dari duduknya mencium tangan umi kemudian pipi uminya.

__ADS_1


"Ih,gak punya malu sama istri sendiri!" kata teh Alvi.


"Paan sih,syirik mulu!" kang Hatim.


"Umi,sekarang jadwal kang Roni ngajar,aku mau pulang dulu aja mi!" kata teh Alvi.


"Ya sudah,kalau begitu!" kata umi Nurul.


Teh Alvi dan kang Roni beserta Alvin mencium tangan umi Nurul,kemudian kang Hatim mencium tangan teh Alvi dan kang Roni dan Hana mencium tangan teh Alvi saja.


"Teh Zahra ke mana mi?" tanya kang Hatim.


"Di dapur umum!" jawab umi Nurul.


"Oouh,ya sudah umi,aku juga mau pulang dulu,mau bersih bersih!" kata kang Hatim.


"Pergilah!" kata umi Nurul.


"Gak apa!" jawab umi Nurul.


"Ya sudah,aku pulang dulu ya!" kang Hatim mencium tangan umi Nurul lagi diikuti oleh Hana.


"Assalamualaikum!" kata kang Hatim.


"Waalaikumussalam!" jawab umi.


Kang Hatim kembali pulang ke rumahnya.Namun aneh,rumah kang Hatim tidak pernah padam lampu sekalipun waktu orang lain mati lampu.Namun,kali ini rumah kang Hatim gelap.


"Lampu di padamin bi?" tanya kang Hatim.


"Nggak,aku kira akang yang madamin lampu nya!" jawab Hana.


"Lah,ya sudah ayo masuk saja! mungkin ada yang koslet!" kata kang Hatim sambil membuka pintu.

__ADS_1


Hana memegang tangan kang Hatim.


"Kenapa?" tanya kang Hatim.


"Takut!" jawab Hana sambil cengengesan.


Kang Hatim langsung menekan tombol lampu.Dan lampu langsung menyala dengan terang seperti biasa.


"Mungkin tadi akang yang mematikan lampu bi!" kata kang Hatim.


"Aduh!" Hana memegang perutnya yang tiba tiba sakit.


"Kenapa bi?" tanya kang Hatim dengan cemas.


"Perut aku sakit kang,seperti di tusuk tusuk!" Hana terus memegangi perutnya bi.


"Innalillah!" kang Hatim menggendong Hana.Dia membawa Hana ke lantai atas ke kamar dengan Hana yang terus menjerit jerit kesakitan.


"Minum minum!" kang Hatim memberikan segelas air putih.


"Sakit kang!" Hana menangis.


"Iya minum dulu bi!" kata kang Hatim.Hana meminum sedikit air itu dan dia malah semakin teriak teriak.


"Sakiiiiiiiit!" jerit Hana.


Allahuakbar Allahuakbar adzan maghrib berkumandang dan Hana masih menjerit jerit kesakitan.


"Aduh gimana ini!" kang Hatim bingung.


"Istighfar bi"


"Astaghfirullah ya Allah,Sakiiiiiit!"

__ADS_1


__ADS_2