Ustadz Muda

Ustadz Muda
#82


__ADS_3

Kang Hatim sedang menunggu Hana di depan ruangannya.Namun sudah hampir lima belas menit dia menunggu,Hana belum datang datang juga.Biasanya kang Hatim hanya menunggu sekitar sepuluh menit atau kurang dan Hana sudah datang.


"Assalamualaikum!" Hana datang dan langsung saja membuka pintu dan langsung masuk setelah mengucapkan assalamualaina waala ibadillahissholihin.


"Waalaikumusalam!" jawab kang Hatim.Kang Hatim heran dengan sikap Hana yang sepertinya marah.


"Hana!" panggil kang Hatim,tapi Hana tidak berhenti berjalan menaiki tangga.Bahkan menoleh juga tidak.


"Ya Allah,ada apa lagi ini?" kang Hatim bingung dengan sikap Hana.


Tok tok tok


"Boleh saya masuk?" tanya kang Hatim setelah mengetuk pintu kamar Hana yang sebenarnya kamarnya.


"Masuk saja,gak di kunci!" jawaban jutek dari Hana.


Kang Hatim langsung masuk dan melihat Hana sedang menyiapkan tas dan sudah membuka lemari,seperti mau kabur.


"Kamu sedang apa?" tanya kang Hatim.


"Aku mau pindah ke kobong lagi kang!" jawab Hana yang masih tidak melirik sama sekali ke arah suaminya.


"Eh,kenapa?"

__ADS_1


"Saya malu tinggal di sini,saya gak hapal tiga puluh juz!" jawab Hana dengan tidak di sengaja air matanya menetes.


"Astaghfirullah" kang Hatim bingung harus membuat apa.Ternyata yang di katakan saat sedang ngajar menyakiti hati istrinya.Padahal,niat kang Hatim berkata seperti itu agar menjadi motifasi bagi orang lain.


"Hana,maafkan saya,saya tidak bermaksud seperti itu!" kata kang Hatim.


"Cari saja perempuan lain kang,yang sudah hapal tiga puluh juz Al-Qur'an,yang hapal ribuan hadist agar sebanding dengan akang!" Hana tidak bisa lagi membendung air matanya.


Kang Hatim semakin salah tingkah dan tidak tega jika istrinya harus menangis karena dia yang salah ucap.


"Kan sudah saya katakan tadi,kenapa saya gak nikah sama perempuan yang hapal tiga puluh juz Al-Qur'an,itu karena saya cintanya sama kamu,saya hanya sayang sama kamu!" kata kang Hatim berusaha membuat Hana percaya.


"Akang juga mempermalukan ku!"


"Sudahlah,jangan menangis,maafkan saya!" kang Hatim mengusap air mata Hana yang membasahi pipi mulus itu.


"Saya minta maaf ya!" Hana hanya diam.Kang Hatim memeluknya dengan erat.Hanya isak tangis yang terdengar.


"Sudah ya,jangan nangis lagi.Saya gak akan mengulangi kesalahan saya lagi!" mencium kening Hana.


"Ingat ya,saya cuma cinta sama kamu,hanya kamu yang akan menjadi istri saya! ya,walaupun saya sebagai lagi lagi ada hak punya istri tiga atau empat!" kata kang Hatim yang membuat Hana kembali menangis.


"Udah niat!" kata Hana di sela sela tangisan.

__ADS_1


"Hahah,kan niat bagus itu harus,jika kita berniat akan melakukan hal bagus,maka malaikat akan mencatat seolah olah kita sudah melakukan hal bagus itu,padahal baru niat.Sedangkan jika kita berniat buruk,malaikat tidak akan mencatat seolah olah kita sudah berbuat buruk kecuali kita sudah melakukannya.Itulah maha penyayang Allah terhadap makhluknya!"


"Tapi jangan di laksanakan!" kata Hana.


"InsyaAllah!"


"Sudah ya,tasnya simpan lagi,lemarinya tutup lagi!" kata kang Hatim.Hana hanya diam tetap di pelukan kang Hatim.


"Nyaman ya,diam di pelukan saya?" tanya kang Hatim dan tanpa di sangka Hana mengangguk.


"Ya sudah,tapi duduk dulu,saya pegel!" kata kang Hatim.Mereka duduk di samping ranjang,dengan posisi Hana masih memeluk kang Hatim.


"Malam ini saya gak akan ngajar,teh Dawa yang ngajar,kamu juga gak perlu ngaji ya,temani saya saja di sini!" kata kang Hatim dan di jawab anggukan oleh Hana.


"Kamu sudah mandi?" tanya kang Hatim.


"Sudah!"


"Oh iya ya!"


"Tapi kalau gak ngaji ngapain? masa diam saja gitu!" tanya Hana.


"Kita ngaji fathul izzar ya,agar bisa sekalian!"

__ADS_1


"Sekalian apa?"


__ADS_2