
"Langsung saja,kita lakukan ijab kobul silahkan pak Bima bersalaman dengan Ustadz Hatim!" kata penghulu.
Ayah Bima pun langsung menggenggam tangan kang Hatim.
"Silahkan pak,mau di tuntun atau sudah hafal kalimatnya?" tanya penghulu.
"Sudah hapal pak!" jawab ayah Bima.
"Ya sudah,silahkan! tapi,setelah nanti syah,di mohon untuk tidak bertepuk tangan! bagusnya kita langsung mengucapkan Alhamdulillah!" kata penghulu.
"Bismillaahir-rahmaanir-rohiim
Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka Farhana Sri Cempaka Indah binti Bima bimahrin 'asyarotu jaroomaatinn minazzahabi waadawatis solati haalan!" kata Bima dan langsung di jawab oleh kang Hatim.
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan!" jawab kang Hatim dengan lancar dan lantang.
"Bagimana saksi?" tanya penghulu.
"Syaaaaaaah!" jawab semua orang yang ada di mesjid dengan kompak.
"Silahkan kepada Ustadz Roni untuk meminpin doa!" kata penghulu.
Kang Roni pun memimpin doa yang di awali dengan basmallah dan sholawat dan di akhiri dengan sholawat dan hamdalah.
__ADS_1
"Silahkan kepada pengantin wanita supaya bisa berada di dalam mesjid untuk sesi penanda tanganan!" kata penghulu.
Hana pun keluar dari rumah dengan di damping oleh tujuh orang temannya.
Hana menggunakan baju syar'i warna abu abu dengan dihiasi mute mute yang senada dengan warna bajunya juga warna cadarnya juga yang senada dengan warna cadarnya.
Semua orang yang melihat ke arah Hana langsung terkagum kagum melihat Hana yang walaupun wajahnya tidak terlihat,tapi aura kecantikkannya tatap terpancar.
Hana berjalan dengan anggun dari rumah umi menuju mesjid di mana ijab kobul di laksanakan.
Maklum masuk masjid,Hana harus melepaskan sepatu dan harus menginjak air bak sebelum masuk ke dalam mesjid.
Hana langsung duduk di samping kang Hatim.
Hana langsung memegang tangan kang Hatim dan dengan malu malu dia menciumnya dengan lembut.
"Tahan!" kata seorang fotografer.
"Cium keningnya!" kata penghulu.Kang Hatim langsung berdiri dengan lututnya dan cup mencium kening Hana.
Fotografer tidak ketinggalan mengabadikan momen itu.Kang Hatim menyimpan tangan kanannya di atas kepala Hana dan tangan kirinya menengadah.Lanjut dia berdoa untuk kebaikannya dan kebaikan istrinya.
"Silahkan Ustadz,tanda tangan di sebelah sini!" kata penghulu menyerahkan beberapa lembar kertas dan buku nikah untuk di tanda tangan.
__ADS_1
Setelah kang Hatim,lanjut giliran Hana yang menanda tangani surat surat itu.Setelah Hana lalu ayah Bima setelah ayah Bima kyai Cahya dan setelah kyai Cahya adalah kang Ahmad.
"Pegang ini!" kata penghulu sambil menyerahkan kotak cukup besar kepada kang Hatim yang ternyata isi kotak itu adalah mukena dan sajadah mas kawin kang Hatim untuk Hana yang belum di berikan.
"Manggil apa sama istrinya Ustadz? mamah? mimih? umi? bunda? atau apa?" tanya penghulu.
"Hubbi!" jawab kang Hatim dan semua orang bersorak mendengar jawaban kang Hatim.Hana hanya menunduk malu.
"Apa artinya?" tanya penghulu.
"Cintaku!" jawab kang Hatim dan lagi lagi semua orang bersorak mendengar jawaban kang Hatim.
"Ternyata Ustadz muda ini romantis!" kata penghulu sambil sedikit tertawa.
"Harus pak,karena kanjeng nabi juga romantis pada istri istrinya!" kata kang Hatim.
"Bagus,kalau mbak Hana manggil apa sama Ustadz Hatim? ayah? abi? papah? mas? aa? atau apa?" tanya penghulu.
"Akang,dia manggil akang! saya juga sudah bilang panggil mas atau sayang aja juga gak papa,tapi dia kekeh mau manggil akang!" jawab kang Hatim saat Hana baru bernafas untuk menjawab pertanyaan penghulu.
Semua orang kembali bersorak.Entah kenapa kang Hatim yang tadinya dingin,kaku sekarang jadi suka bercanda.
Hana semakin menunduk malu dengan tingkah laku suaminya.
__ADS_1