Ustadz Muda

Ustadz Muda
#89


__ADS_3

"Kang,jalan jalan yu?" ajak Hana sambil melipat mukena yang baru dia pakai sholat subuh.


"Jalan jalan? kemana? tumben,biasanya juga mau tidur lagi!" kata kang Hatim.


"Ke mana aja,yang penting jalan jalan,tapi jangan naik mobil jalan kaki aja!" kata Hana.


"Emangnya kamu gak mau tidur lagi?"


"Nggak,ayolah kang!"


"Ya sudah,ayo siap siap!" kata kang Hatim.


Hana langsung bersemangat memakai niqop karena mau ke luar rumah bahkan ke luar lingkungan pesantren.


"Ayo kang!" kata Hana setelah selesai dengan pakaiannya.


"Mau berangkat sekarang?"


"Iya!"


"Tapi ini masih terlalu pagi! ini baru jam lima,dan di luar masih gelap!" kata kang Hatim.


"Iiiih,gak apa apa!"


"Dingin!"


"Masa dingin,aku saja nggak!"


"Ya sudah,kita pergi sekarang,tapi saya sambil meluk kamu!"


"Lah,kenapa begitu?"


"Biar gak dingin!"


"Malu!"


"Mau tidak?"


"Ya sudah,tunggu nanti saja!" Hana merajuk dan kembali duduk di atas ranjang dengan bibir yang enggan untuk tersenyum seperti tadi di balik cadarnya.

__ADS_1


"Kamu marah?" tanya kang Hatim sambil pindah duduk.Yang tadinya di sopa menjadi di atas ranjang di samping Hana.


"Hey,ayolah jangan marah!" Hana hanya diam walau kang Hatim merayunya hingga kang Hatim bernyanyi.


"Dinda jangan marah-marah


Nanti ada yang ke dua


Kanda bisa sampai tiga


Tapi takkan mendua" kata kang Hatim yang bermaksud menghibur tapi Hana malah semakin marah.Bukannya menjadi luluh,Hana malah berbalik badan membelakangi kang Hatim.


"Nanti kalau kamu marah ada yang ke dua loh!" kata kang Hatim.


"Terserah!" kata Hana dengan jutek.


"Eh,mau tambah lagi satu,jadi tiga?" tanya kang Hatim.


"Terserah!" tegas Hana.


"Tambah lagi?"


"Tambah saja,sampai tiga belas agar sama seperti baginda Nabi!" kata Hana.


"Pusing? apa yang membuat akang pusing? karena aku suka makan?"


"Pusing gimana caranya minta maaf kalau marah seperti ini!" kata kang Hatim.


"Ayo maafkan saya!" kata kang Hatim menyimpan dagunya di pundak Hana.


"Kalau kamu tidak memaafkan saya,jalan jalannya gak akan jadi!" kata kang Hatim.


"Gak penting!" kata Hana.


"Kalau gak penting,kenapa kamu marah hanya karena jalan jalannya agar menjadi agak siang?" tanya kang Hatim dan Hana hanya diam.


"Ayo kita jalan jalan,dengan syarat maafkan saya dulu! mau?" tanya kang Hatim dan di jawab anggukan oleh Hana.


"Nah begitu dong!"

__ADS_1


"Sebagai permintaan maaf saya,nanti kamu bebas mau makan atau jajan atau beli apa saja yang kamu mau!" kata kang Hatim.


"Benar?" tanya Hana dengan semangat.


"Iya,tapi ada syaratnya!" kata kang Hatim.


"Apa syaratnya? kan sudah aku maafkan,masa harus ada syarat lagi!" kata Hana.


"Syaratnya gampang!" kata kang Hatim.


"Apa?" tanya Hana.


"Kamu harus mandi dulu!"


"Apa? kenapa?"


"Mau tidak?"


"Iya mau,ya sudah aku mandi dulu ya,tapi setelah mandi langsung berangkat!" kata Hana.


"Eh nanti dulu,biar mandinya gak dingin,kamu harus di panaskan dulu!" kata kang Hatim.


"Di panaskan apa?" tanya Hana.


"Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna,kamu tahu kan itu doa apa?" tanya kang Hatim.


"Ini sudah hampir pagi kang!" kata Hana.


"Ya gak papa,mau siang bolong juga gak papa!" kata kang Hatim.


"Tapi!"


"Ibnu Abas mengatakan bahwa aku mendengar rosul bersabda:


“LAU ANNA IMROATAN JA’ALAT LAILAHAA QIIYAAMAN WANAHAAROHAA SHIYAAMAN WA’AAHAA ZAUJUHAA ILAA FIROOSYIHI WA TAAKHKHOROT ‘ANHU SAA’ATAN WAAHIDATAN JAAAT YAUMALQIAMATI TUSHABU BISSALAASILI WALAGHLAALI MA’ASYSYAYAATHIINI ILAA ASFALI SAAFILIINA” (AL-HADITS)


Artinya


Seandainya seorang istri menjadikan seluruh waktu malamnya untuk beribadah dan siangnya selalu berpuasa, sementara suaminya mengajak dia tidur bersama (yakni bersetubuh) tetapi ia terlambat sebentar saja memenuhi panggilan (ajakannya), maka kelak di hari kiamat ia datang dalam keadaan terantai dan terbelenggu, serta ia dikumpulkan bersama syetan ditempat neraka yang paling bawah.Kitab apakah itu?" tanya kang Hatim.

__ADS_1


"Uqudulujain!" jawab Hana.


"Pandai,jadi gimana?" tanya kang Hatim.


__ADS_2