Ustadz Muda

Ustadz Muda
#230


__ADS_3

"Akang!" kata Hana saat mereka sudah di rumah duduk di balkon kamar merka yang dari atas sana bisa melihat seluruh lingkungan pesantren.


"Apa bi?" tanya kang Hatim.


"Aku minta maaf ya!" ucap Hana.


"Minta maaf apa?" tanya kang Hatim.


"Gara gara aku,kang Hatim jadi di marahin sama kakak kakak! Terus gara gara aku juga akang jadi berbohong! Dan gara gara aku juga akang di siram sama teh Zahra!" jawab Hana.Kang Hatim tersenyum.


"Gak papa bi,mereka marah karena akangnya aja yang kesiangan bangun! Padah waktu di pesantren,setiap malamnya jarang tidur! Terus akang berbohong juga buakan gara gara kamu! Akangnya aja yang kurang ajar! Masalah di siram,kan sudah akang katakan,akang sengaja! Akang rindu di siram kaya gitu!" kata kang Hatim.


"sebenarnya tidak masuk akal kang! Kerugian saat di siram! Pertama jadi kedinginan! Kedua selimut,sprei,sama kasurnya pun ikut basah! Terus yang lebih parah jika kita bangun dengan di siram,pasti akan kaget! kalau kaget terus janjungnya berhenti berdetak gimana? Jadi dari tidurnya hanya bangun beberapa detik dan langsung meninggal! Terus lagi,gara gara kebangun kagget,jadi gak berdoa! Itu terjadi padaku tadi,saat teh Zahra ngetuk pitu,aku bangun dan langsung membangunkan akang! Gak berdoa!" kata Hana.


"Iya juga ya,bisa bahaya kalau gitu!" kata kang Hatim.


"Ih akang gimana sih? Kok gitu aja gak tahu?"


"Gak kepikiran bi!'


"Terlalu banyak mikirin fikih tuh jadi gitu!" kata Hana.

__ADS_1


"Bukan bi,fikihmah kecil!" kata kang Hatim dengan sombong.


"Idih somse anda!" kata Hana.


"Apa somse?"


"Sombong sekali!" jawab Hana dan kang Hatim malah tertawa.


"Bukan gitu bi,maksudnya,fikih memang susah! Sangat susah! Sesusah aku melupakanmu!" kata kang Hatim.


"Emangnya akang mau ngelupain aku?"


"Eh tuh kan salah! Bukan bukan,maksudnya melupakan kenangan bersama masa lalu! Dan mengingat kenangan bersamamu!" jawab kang Hatim.


''Ih salah lagi!" kang Hatim menepuk jidatnya.


''Intinya,fikih susah! Sangat susah! Tapi tasawuf lebih susah!"


"Bagi akang apa sih yang susah? Secara kan akang ini pinter,IQ tinggi! Turunan bagus!" puji Hana.


"Yeh kamu mah bi,tasawuf itu ya bi,memang mempelajari nya gampang! Lebih gampang dari nahwu,sorof dan lainnya! Tapi yang susah adalah mempraktekannya! Bagaimana kita hidup qonaat!"

__ADS_1


"Ooh gitu!"


"Bagaimana caranya kita rendah diri,bersyukur dengan apa yang di berikan Allah itu susah! Allah selalu memberi kenikmatan,tapi kita selalu saja mengeluh! Selalu merasa Allah itu tidak adil sama kit! Selalu merasa Allah itu terlalu ini terlalu itu!" kata kang Hatim.


"Aku yang suka begitu kang!" kata Hana.


"Bukan hanya kamu! Akang juga! Bahkan hampir setiap manusia seperti itu! Saat senang,lupa syukuran,lupa ibadah tapi saat susah,nyalahin Allah,terus berdoa! Minta cepet cepet ddi kabulkan! Sedangkan waktu senang gak ibadah,kalau di hp gak di isi pulsa! Mau gimana nyampe?!"


"Iya kang!" Hana.


"Bagus gak bi?" tanya kang Hatim.


"Apanya?" tanya balik Hana.


"Ceramahnya!" jawab kang Hatim.


"Baaaagus!" jawab Hana bingung.


"Beneran?"


"Iya,tapi emangnya barusan itu cermah?"

__ADS_1


"Iya,latihan buat nanti bi! Di nikahan si Indri!" jawab kang Hatim.


"Ya Allah akang! Segitunya!" kata Hana.


__ADS_2