Ustadz Muda

Ustadz Muda
#152


__ADS_3

Kang Hatim yang bernama asli Muhammad Hatim Husni Abdurahman dan sang istri yaitu Farhana Sri Cempaka Indah yang sudah enak dan gampang di panggil Hana.


Mereka bergandengan tangan berjalan menuju rumah teh Dawa.Sesampainya di sana,kang Hatim langsung mengetuk pintu rumah teh Dawa.


Tok tok tok


"Assalamualaikum!" kata kang Hatim dan belum ada jawaban.


"Teh!" panggil kang Hatim.


Taufiq datang membuka pintu dengan buru buru.


"Eh paman,bibi!" Taufiq mencium tangan kang Hatim dengan sopan dan mengatupkan tangan kepada Hana.Dan Hana juga menjawab nya dengan mengatupkan tangannya.


"Ada apa man?" tanya Taufiq.


"Ibumu ada?" tanya balik kang Hatim.


"Ada!" jawab Taufiq.


"Lagi apa?" tanya kang Hatim.

__ADS_1


"Lagi bantu bantu kak Zulfi beresin baju!" jawab Taufiq.


"Zulfi belum berangkat?" tanya kang Hatim.


"Belum,eh iya ayo masuk man!" jawab Taufiq dan mengajak pamannya supaya masuk ke dalam rumah.


"Di mana ibumu?" tanya kang Hatim setelah masuk dan duduk di kursi.


"Di kamar,sebentar aku panggilkan!" jawab Taufiq dan langsung pergi ke kamar Zulfi karena memang teh Dawa beserta suami yaitu kang Rahmat sedang di kamar Zulfi membantu Zulfi beres beres baju.


Tidak lama kemudian muncul teh Dawa,kang Rahmat beserta Zulfi dari arah dapur karena pintu kamar Zulfi ada di dapur.


Seperti biasa mereka bersalaman dengan ramah.


"Di suruh tadi pagi,tapi banyak alasan,belum ini,belum itu,belum kemas kemas lah,belum pamitan lah,banyak alasan pokoknya!" ujar teh Dawa.


"Kenapa? gak mau berangkat sekarang?" tanya kang Hatim dan di jawab anggukan oleh Zulfi dengan wajah cemberut seperti anak kecil tidak mau sekolah.


"Kenapa gak mau berangkat sekarang? punya pacar santriawati di sini?" tanya kang Hatim.


"Teteh buatkan air minum dulu!" kata teh Dawa sambil pergi ke dapur.

__ADS_1


"Tim!" panggil kang Rahmat dan memberi kode supaya kang Hatim menasehati Zulfi.


"Iya kang!" jawab kang Hatim sambil tersenyum dan mengangguk mengiyakan kalimat kang Rahmat ayahanda Zulfi.


"Duduk!" kata Zulfi dengan wajah serius.Dengan wajah masih tetap cemberut dia duduk.


"Kenapa?" tanya kang Hatim,tapi Zulfi tidak menjawabnya.


"Aku mau ke rumah umi dulu!" kata Hana yang mengerti situasi dan kondisi.Di jawab anggukan oleh kang Hatim.


"Bareng bi!" kata Taufiq dan mengikuti Hana yang keluar rumah setelah mencium tangan kang Hatim.


"Sok jawab!" kata kang Hatim.


"Aku punya masalah man!" kata Zulfi dan meneteskan air mata.Namun,kalimat yang Zulfi sampaikan membuat kang Hatim bingung.


"Masalah apa? semua orang punya masalah!" kata kang Hatim.Zulfi tidak menjawab pertanyaan kang Hatim.Dia takut menjawab pertanyaan itu dan di dengar oleh ibu dan ayahnya.


"Emh!" Zulfi malah bergumam.Untung kang Hatim mengerti dengan sikap Zulfi.


"Jangan pernah kamu menyembunyikan masalah mu dari orang tuamu! sepandai padai nya seseorang menyembunyikan bangkai pasti akan tercium aroma yang tidak enak! Begitu juga kamu! walaupun kamu merahasiakan masalahmu pada orang tuamu,atau pada keluargamu,perlahan lahan pasti akan terungkap! Dari pada nanti ibu dan ayahmu tahu masalah mu dari orang lain,lebih baik tahu sekarang dari mu!" kata kang Hatim.

__ADS_1


"Iya man!" jawab Zulfi.


"Sekarang,lebih baik kamu ceritakan masalah mu itu,kalau tidak mau cerita langsung sama ibu dan ayahmu,bicara dulu sama paman! nanti paman yang bilang pada ibumu!" kata kang Hatim.


__ADS_2