
"Minum dulu jus nya yah,bu!" kata Hana yang sudah menyimpan empat gelas jus mangga di atas meja yaitu untuk kedua orang tuanya,untuk suaminya dan untuk dirinya sendiri.
"Emangnya ini enak?" tanya bu Nur.
"Enak dong!" jawab Hana.Bu Nur tersenyum dan kemudian meneguk jus mangga itu diikuti oleh ayah Bima.
"Gimana? enakkan?" tanya Hana.
"Emh,enggak ah! rasanya gak enak!" jawab ayah Bima.
"Gak enak? masa sih? perasaan aku sudah buat seenak mungkin!" ujar Hana.
"Rasanya manis,gak pait!" kata ayah Bima.
"Ih Ayah!" Hana memeluk ayahnya dari samping karena memang posisi mereka sekarang adalah Hana duduk di antara ayah ibunya dan kang Hatim di hadapannya.
"Kamu gak berubah ya,ibu kira setelah kamu menikah kamu gak akan manja manja lagi sama ayah kamu!" kata bu Nur.
"Kalau gak sama ayah,mau manja manja sama siapa lagi?" tanya Hana tanpa melepas pelukannya pada ayahnya.
"Kan ada suami kamu!" kata ayah Bima.
"Kang Hatim gak mau di peluk sama Hana yah,jadi Hana gak bisa manja manja!" kata Hana.
"Lah,kenapa gak mau di peluk?" tanya ayah Bima.
__ADS_1
Kang Hatim kaget,takut di marahin mertuanya karena memang Hana tidak pernah memeluknya.
"Karena kang Hatim yang selalu meluk aku duluan yah!" Kata Hana membuat orang tuanya yang tadinya sudah pasang wajah serius menjadi tersenyum mendengar kalimat yang Hana sampaikan.
Kang Hatim tersenyum malu dengan pipi sedikit memerah.
"Bukannya saya yang tidak mau di peluk Hana yah,tapi Hana yang selalu tidak mau meluk saya!" kata kang Hatim.
Sekalian malu! nanggung kalau malunya sedikit! kata hati kang Hatim.
"Oouh,gitu?! kenapa kamu gak mau peluk suami kamu?" tanya ayah Bima.
"Kan aku maunya di peluk yah!" jawab Hana.
"Ternyata anak ibu dan ayah sudah besar ya?!" kata bu Nur sambil mengusap kelopak matanya yang basah karena air mata.
"Nggak nangis kok,ibu cuman terharu saja! rasanya baru kemarin kamu berebut jajanan sama kakak kamu! rasanya baru kemarin ibu menyusui kamu! tapi nyatanya kamu sudah dewasa!" kata bu Nur semakin tidak bisa membendung air matanya.
Hana mengelap air mata yang menetes di pipi bu Nur dengan jempolnya.
"Terima kasih ya,ibu sudah menjaga dan membesarkan aku hingga aku dewasa!" kata Hana kembali memeluk ibunya.
"Kamu tidak perlu berterima kasih!" kata bu Nur sambil mencium pucuk kepala Hana yang tertutup hijab.
"Ibu sudah makan?" tanya Hana mengalihkan topik agar suasana menjadi tidak sedih.
__ADS_1
"Sudah,ibu sudah makan!" jawab bu Nur.
"Kapan?" tanya Hana.
"Tadi pagi!" jawab jawab bu Nur.
"Itu sarapan bu,bukan makan!" kata Hana.
"Kalau gitu,kita masak sama sama!" kata Hana.
"Kenapa gak kamu aja masakin ibu?" tanya bu Nur.
"Aku belum bisa masak,jadi sekalian belajar!" jawab Hana sambil cengengesan.
"Ya ampun,terus selama ini kamu gak masakin suami kamu?" tanya bu Nur.
"Masakin bu,tapi yang gampang gampang! seperti tumis kangkung!" jawab Hana.
"Ya Allah!" bu Nur geleng geleng kepala.
"Hana juga pernah masakin saya daging kecap kecap gitu bu,rasanya sangat enak bu!" kata kang Hatim.
"Semua orang sudah tahu! bohong itu dosa!" kata Hana.
"Emangnya kenapa?" tanya bu Nur.
__ADS_1
"Aku memang masakin kang Hatim semur daging kecap,tapi keasinan!" kata Hana.