
Kang Hatim dan Hana sudah berjalan meninggalkan pesantren.
"Sebenernya ada apa kang? Kenapa tiiba tiba ngajaka ke Jakarta apa yang terjadi?" tanya Hanaa.
"Tadi pak Ardi telepon!" kata kang Hatim.
"Pak Ardi mana?" tanya Hana.
"Pak Ardi yang kerja jadi security di rumah kamu!" jawab kang Hatim.
"Kenapa pak Ardi telepon akang? Ada apa? terus kenapa akang tiba tiba kaya cemas dan akang juga ngucap innalillahi tadi!" pertanyaan panjang Hana.
"Pak Ardi memberi tahu akang bahwa ayah Bima dan ibu kecelakan lalu lintas!" Jawab kang Hatim dengan rasa tidak tega menyampaikan hal itu.Karena dia yakin kalau istrinya akan langsung panik dan cemas saat mendengar hal itu.
__ADS_1
"Apa? Astaghfirullah! Jangan bercanda kang1 mereka itu orang tuaku! kalau akang memang bener bener sayang sama aku,akang juga harus sayang sama orang tuaku! jangan bicara seperti itu! Ucapan adalah doa!" kata Hana dengan nada bicara marah dan air mata juga mulai menetes.
"Tenang bi,tenang! Akang sayang sama kamu! Akang cinta sama kamu! Akang juga sayang sama orang tua kamu! orang tuamu sama saja orang tua akang!" kata kang Hatim.
"Terus kenapa akang bicara seperti itu? aku takut kang! aku gak mau kehilangan ayah sama ibu!" kata Hana.
"Itu yang di sampaikan pak Ardi bi! Akang juga agak tidak percaya makanya kita langsung ke sana! kamu tenang dulu! Ayah itu kecelakaan! Bukan meninggal! Semoga kabar itu tidak benar! Walaupun kabar itu benar semoga kecelakaanya tidak begitu parah!" kata kang Hatim sambil membuka ikatan cadar Hana dan melepaskannya.Kang Hatim mengelap air mata Hana dengan tangannya.
"Tenang dulu bi! berdoa saja yang baik baik! Semoga tidak terjadi apa apa sama ibu dan ayah!" kata kang Hatim menggenggam tangan kiri Hana berusaha agar Hana bisa lebih tenang.
"Ini sudah cukup cepat bi,dari pada akang nambah kecepatan terus bagaimana kalau kita juga celaka,lebih baik kita tenang aja dan sampai pada tujuan dengan selamat!" jawab kang Hatim.
"Sekarang ayah sama ibu di mana?" tanya Hana.
__ADS_1
"Kata pak Ardi sih,ayah sama ibu di rumah sakit medika!" jawab kang Hatim.
"Agak jauh dari rumah berarti!" kata Hana.
"Emangnya kamu mau ke rumah dulu?" tanya kang Hatim.
"Nggak! langsung aja ke rumah sakit! takutnya kelamaan!" jawab Hana.
"Ya sudah,kamu tidur dulu! biar perjalanannya gak kerasa! biar nanti saat ketemu sama ayah dan ibu kamu gak ngantuk dan semangat!" kata kang Hatim.
"Tapi gak ngatuk!" kata Hana.
"Nyender dulu! tutup mata!" kata kang Hatim dan Hana pun nurut.Lama kelamaan Hana tertidur dengan mata yang sembab dan tangan yang Hatim yang dia genggang tidak dia lepaskan.
__ADS_1
Setelah sekian cukup lama perjalanan,akhirnya mobil kang Hatim sampai di parkiran rumah sakit medika di jam sepuluh malam dan Hana masih pulas tidur dengan tangan kang Hatim masih di genggamnya hingga tangan kang Hatim kesemutan.Kang Hatim tidak berani menarik tangannya karena takut Hana bangun dan kalau bangun dia akan sedih.