
Setelah dzuhur,Baitussalam sani kembali ramai dengan orang orang.Para bapak bapak tetangga pesantren,berdatangan untuk membantu membereskan sisa sisa resepsi malam tadi dan kemarin.
Kang Hatim juga kakak kakak iparnya juga ikut beres beres.Berusaha agar pesantren bersih seperti semula.
Para kakak kakak kang Hatim membantu bi Ani masak di dapur untuk memberi makan orang orang yang bantu bantu beres beres termasuk.
Sedangkan para santri perempuan,di perintahkan oleh teh Dawa agar membantu menyapu halaman,menyapu parkiran,ngepel mesjid,kobong, juga memungut sampah sampah yang di pimpin oleh Hana.
Beres beres,mulai dari bongkar panggung,bongkar tenda,membereskan kursi kursi dan lain lain sudah selesai dan jam menunjukkan pukul lima sore.
"Bapak bapak,mari kita makan dulu!" kata kang Hatim.
"Aduh gak usah repot repot tadz!" kata salah seorang bapak bapak.
"Ah gak ngerepotin kok pak,justru saya yang ngerepotin!!" kata kang Hatim.
Bapak bapak pun pergi ke dapur umum dan mengantri untuk prasmanan makan bersama.
Hari semakin sore,bapak bapak yang membantu beres beres telah pulang.Pesantren kembali sepi seperti semula,hanya para santri saja yang berkeliaran.
"Kamu sudah mandi bi?" tanya kang Hatim.
"Sudah dua kali,akang yang belum!" jawab Hana.
"Masa? sudah!" kata kang Hatim.
__ADS_1
"Kapan?" tanya Hana.
"Tadi pagi!" jawab kang Hatim.
"Mandi lagi sana,bau! bau keringat!" kata Hana.
"Gak mau!" kata Hana.
"Iiiih,ya sudah jangan tidur di rumah! tidur di dapur umum aja sana! atau gak tidur di mesjid aja sana!!" Ujar Hana.
"Lah kok gitu?" tanya kang Hatim.
"Bau! atau gak ikut aja sama tetangga yang ternak kambing,atau sapi! dan akang numpang tidur di kandang kambing itu!" Hana.
"Orang punya rumah,punya kamar masa mau numpang tinggal di kandang domba orang!" kang Hatim.
"Bi kamu mau ke mana?" tanya kang Hatim sambil mengikuti istrinya.
"Ke kamar! dan akang jangan harap bisa masuk kamar sebelum mandi!" kata Hana sambil menaiki tangga dengan tempo yang di percepat.
"Bii jangan gitu bi!" kang Hatim juga ikut mempercepat tempo jalannya tapi Hana malah berlari.
"Jangan lari bi,jatuh!" teriak kang Hatim sambil ikut berlari.Sesuai ucapan kang Hatim,Hana tersandung dan tubuhnya langsung oleng.
Kang Hatim dengan sigap menangkap tubuh Hana yang melayang.
__ADS_1
Hana yang kaget malah memandang wajah panik kang Hatim.Begitu juga kang Hatim yang memandang wajah Hana.
Cup,kang Hatim mencium pipi Hana menyadarkan Hana dari lamunannya akibat kaget.
Bukannya membantu Hana berdiri lagi,kang Hatim malah menggendong Hana dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Dengan perlahan kang Hatim membaringkan tubuh Hana di atas ranjang.
"Kamu gak papa?" tanya kang Hatim.
"Nggak,cuman sakit ibu jari kakak saja!" jawab Hana.
Kang Hatim membuka kaos kaki yang Hana pakai.
"Eh,mau apa?" tanya Hana.
"Mau buka kaos kakinya!" jawab kang Hatim.
"Gak usah,biar nanti aku aja!" kata Hana.
"Akang mau lihat kaki kamu! takut kenapa napa! diam aja! kalau gak diam ....!"
"Kalau gak diam apa?" tanya Hana.
"Apa aja boleh!" kata kang Hatim dan berhasil membuka kaos kaki Hana itu.
__ADS_1
"Yang sakit bukan yang itu,tapi yang kiri!" rengek Hana dengan manja.
"Manja! tadi aja gak mau!" kata kang Hatim sambil membuka kaos kaki yang satunya.