
Kang Hatim dan Hana sudah selesai makan.Sekarang mereka sedang berada di ruang keluarga dan semua ART yang ada di rumah itu di panggil untuk mengobrol bersama Hana dan kang Hatim.
"Pak Ardi,pertama saya ucapkan terima kasih sudah memberikan kabar tentang ayah dan ibu pada saya tepat waktu!" kata kang Hatim.
"Iya sama sama kang Ustadz!" jawab pak Ardi.
"Pak Iman apa kabar?" tanya Hana pada salah satu ART laki laki yang bantu bantu mengurus taman,memandikan mobil atau motor dan yang lain lainnya.
"Alhamdulillah baik non!" jawab pak Iman.
"Alhamdulillah! pak Yogi gimana kabarnya?" tanya Hana lagi pada pak Yogi supir dari ayah Bima dan bu Nuraeni.
"Alhamdulillah saya juga baik non!" jawab pak Yogi.
"Bi Mar,bi Ina dan bi Asih apa kabar?" tanya Hana.
"Alhamdulillah kami semua baik non!" jawab bi Mar mewakili.
"Pertama,aku ucapkan terima kasih pada kalian semua yang selama kalian kerja di rumah ini,kerja di rumah ayah kalian semua jujur dan bekerja dengan baik!" kata Hana.
"Itu sudah kewajiban kami non untuk bekerja dengan baik dan benar dan yang paling penting adalah kejujuran!" jawab bi Mar.
"Nah,untuk sekarang ini,seperti yang kalian tahu,ayah dan ibu sudah tidak ada di dunia lagi! Sedangkan aku juga sudah punya suami,sudah punya rumah!" kata Hana.
"Aku mau nanya dulu! Apa kalian semua masih betah kerja di sini?" tanya Hana.
"Aduh non! bukan betah lagi! kami sudah seperti menganggap rumah ini rumah sendiri yang harus kami rawat dan kami jaga!" jawab bi Mar.
__ADS_1
"Iya non,kami sudah betah banget di sini! kalau bisa non ya,non jangan pecat kami! kalau gak di sini,di mana kita akan kerja!" kata bi Asih.
"Nggak nggak! aku gak bakal pecat kalian! malahan aku seneng kalau kalian gak mau di pecat! berarti kalian betah kerja di sini! Apalagi kan rumah ini bakal kosong! kalau gak kalian,siapa lagi yang ngisi rumah ini?" ucap Hana membuat semua ART nya bernafas lega karena pikir mereka,mereka di kumpulkan akan di pecat.
"Bagaimana kalau gini,kan rumah ini kosong,otomatis pekerjaan kalian akan kurang! kan ada tiga orang,bagaimana kalau yang dua orang ikut kami?! Kerja di rumah kami!" kata kang Hatim.
"Maksudnya?" tanya Hana.
"Buat bantu bantu kamu bi,bantu masak,beres beres!" jawab kang Hatim.
"Oouh,gimana kalau bi Asih sama bi Ina aja? kan bi Asih sama bi Ina,maaf janda! kalau bi Mar kan ada pak Iman!" kata Hana.
"Siapa aja boleh!" kata kang Hatim.
"Gimana?" tanya Hana.
"Saya sih mau mau aja non! tapi anak bungsu saya gimana?" tanya bi Asih.
"Enam belas tahun!" jawab bi Asih.
"Laki laki atau perempuan?" tanya kang Hatim.
"Laki laki!"
"Masih sekolah?"
"Udah lulus dari SMP gak di lanjut ke SMA!" jawab bi Asih.
__ADS_1
"Bawa aja bi,biar dia tinggal di pesantren di asrama!" kata kang Hatim.
"Bukannya pesantrennya khusus perempuan?" tanya bi Asih.
"Kan pesantrennya ada dua! ada yang khusus perempuan,ada yang khusus laki laki! tapi masih pesantren umi saya!" kata kang Hatim.
"Oh gitu? ya sudah! nanti saya ajak anak saya saja!" kata bi Asih dengan semangat.
"Kalau bi Ina gimana?" tanya Hana.
"Bibi siap non! anak anak bibi sudah besar besar! sudah pada mandiri!" jawab bi Ina.
"Ya sudah kalau begitu!" kata Hana.
"Kalau saya gimana non? kan saya supir?" tanya pak Yogi.
"Kang,butuh supir gak?" tanya Hana.
"Kan akang jarang keluar bi,jarang keluar jauh" jawab kang Hatim.
"Gimana ya?" Hana bingung.
"Gimana kalau pak Yogi juga ikut saja ke pesantren? nanti kalau sudah di sana banyak kerjaan!" kata kang Hatim.
"Boleh boleh!" jawab pak Yogi.
"Pak Yogi gak punya anak istri kan?" tanya Hana.
__ADS_1
"Ah tidak non! kan saya belum nikah!" jawab pak Yogi.
"Ah bagus kalau gitu! siapa tahu dapet jodoh anak santri di sana!" kata kang Hatim karena memang yang bernama Yogi itu masih muda,mungkin masih seumur atau lebih satu dua tahun dari kang Hatim.