Ustadz Muda

Ustadz Muda
#228


__ADS_3

Kang Hatim dan Hana sudah ada di rumah umi Nurul.Dan di sana juga sudah ada teh putri dan suaminya,teh Alvi beserta suaminya dan teh Dawa.


"Ada apa sih? Kok kaya penting banget,sampai aku di bangunkan! Mana di bangunkannya di siram air lagi!" kang Hatim.


"Kenapa kamu belum bangun?" tanya teh Dawa.


"Aku baru tidur ba'da subuh! Semalaman gadang!" jawab kang Hatim.Hana hanya menunduk,dia merasa bersalah karena gara gara dia kang Hatim jadi begadang.


"Terus,kenapa kamu begadang?" tanya teh Alvi.


"hub,mindahin lugot! Ke kitab baru!" jawab kang Hatim berbohong.


"Kan bisa siang juga?" tanya teh Alvi.


"Awas aja kalau mulai!" kata teh Dawa.


"Kalau siang banyak pekerjaan yang lain!" jawab kang Hatim.


"Pekerjaan apa?" tanya teh Alvi.


"Banyak lah pokoknya,mulai dari urusan pesantren,toko toko! Dan sekarang pekerjaanku nambah lagi!" jawab kang Hatim.


"Apa?" tanya teh Alvi.

__ADS_1


"Bahagiain istri dan calon bayi!" jawab kang Hatim dengan senangnya membuat yang lain ikut tersenyum merasakan kebahagiaan kang Hatim.


"Bagus deh kalau gitu! Itu pekerjaan harus di jadikan nomer satu! Adikku Hana harus selalu bahagia gimanapun keadaanya! Karena jika ibunya bahagia,pasti anaknya juga ikut bahagia!" kata teh Alvi.


"Pasti dong!" kata kang Hatim.


"Sudah sudah,sekarang gini!" ucap teh Dawa.


"Gimana?" tanya kang Hatim.


"Sebentar lagi kan bulan rojab! Kan seperti biasa,kita memperingati isra mi'raj! Terus di bulan sya'bannya kita ngadain imtihan,atau seperti biasa lah,kita menampilkan penampilan para santri,dan terakhir mereka perpisahan! Atau perpulangan!" kata teh Dawa.


"Iya terus?" tanya kang Hatim.


"Aku mau pasaran ah! Bulan rajab sampai ramadhan!" kata kang Hatim membuat Hana melirik wajahnya dengan kaget.


"Apa yang kamu katakan? Katanya mau ngebahagiain istri dan calon anakmu! Tapi malah mau di tinggalin!" kata teh Zahra.


"Heheh,nggak kok bercanda! Tenang aja bi,gak bakal ninggalin kamu kok!" kata kang Hatim mengusap usap kepala Hana.


"Kan seperti biasa setiap bulan ramadhan kita juga mengadakan pasaran atau sanlat! Bahkan bukan hanya santri yang biasa mukim di sini saja yang ikut pasaran,tapi dari luar juga yang gak mukim di sini juga suka ada yang ikut kajian sanlat di sini!" kata teh Dawa.


"Iya,terus gimana?" tanya kang Hatim.

__ADS_1


"Kan biasanya di sini tetep khusus perempuan dan di Baitussalam hanya laki laki! Nah gimana kalau tahun sekarang kita gabungin aja?!" kata teh Dawa.


"Gabungin gimana?" tanya kang Hatim.


"Iya,jadi laki laki sama perempuan ngajinya di sini aja! Jadi di baitussalam awal hanya buat tidur laki laki saja! Sedangkan semuanya ngaji di sini!" jelas teh Dawa.


"Bisa aja,kan yang aku tahu,zaman abah dulu juga begitu kan?"


"Iya Tim!" jawab teh Dawa.


"Tapi gini teh,kan Alhamdulillah terpercaya,kurang lebih adalah empat puluh orang yang mukin,di tambah yang ngalong! Alias bulak balik! Nah,santri baitussalam awal ada berapa orang?" tanya kang Hatim.


"Adalah lima puluh!" jawab kang Asep.


"Tuh,kan mudah mudahan ada di tambah juga yang ikut kajian sanlatnya aja! Pasti tambah banyak! Apa tempatnya akan cukup?" tanya kang Hatim.


"Menurutku sih cukup Tim,kan madrasyahnya juga lumayan luas!" kata kang Ahmad.


"Gak cukup di satu tempatkan juga,bisa laki laki di lantai atas,dan perempuan di lantai bawah! Atau sebaliknya!" kata teh Zahra.


"Kedua,apa gak papa santri laki laki jadi bulak balik agak jauh?" tanya kang Hatim.


"Gak papa lah,lagian juga gak begitu jauh!" kata teh Alvi.

__ADS_1


__ADS_2