Ustadz Muda

Ustadz Muda
#39


__ADS_3

Adzan maghrib sudah berkumandang,tetapi kang Hatim masih belum pulang.Ada rasa khawatir di hati Hana.Namun,rasa itu kalah dengan pikirannya saat ini.


"Hana,kamu telepon kang Hatim!" kata ayah Bima.


"Emh,ayah saja yang telepon!" jawab Hana dengan lesu.


"Yah...!" bu Nur memandang suaminya mengisyaratkan agar ayah Bima tidak bicara lagi.Bu Nur sangat mengerti dengan perasaan anaknya yang masih syok dengan kebenaran.


"Hana,kita ke depan yu? kita minum teh sambil mengobrol!" ajak bu Nur yang kebetulan bu Nur juga sedang libur sholat sama seperti Hana.


"Tidak bu,Hana di sini saja!" jawab Hana masih lemas dan malas.


"Ayo sayang,nanti siapa tahu dengan kita minum teh berdua di depan bisa menenangkan pikiranmu!"


"Ya sudah ayo bu!" dengan senyum yang terpaksa.


Ibu dan anak itupun pergi ke teras depan rumah setelah meminta bi Mar agar membuatkan teh hangat untuk mereka berdua.


Sementara itu,ayah Bima sedang menelepon menantunya yang sudah larut malam belum pulang ke rumah.


"Assalamualaikum yah!"


"Waalaikum salam,Hatim,kamu di mana?"

__ADS_1


"Aku sedang di jalan yah,mau pulang!"


"Pulang kemana?"


"Ke rumah!"


"Rumah siapa? kenapa kamu gak bilang dulu?"


"Aku mau pulang ke rumah ayah,bukan mau pulang ke rumah umi kok!"


"Astaghfirullah,ah yasudah,hati hati!"


"Iya yah!"


"Assalamualaikum!"


Di teras,Hana memandang bintang ke bercahaya di kegelapan.Teh hangat sudah tersaji di atas meja dengan air yang masih mengeluarkan asap.


"Hana!" panggil bu Nur dengan lembut.


"Emh,iya bu?" tidak berpaling dari menatap langit dengan bintang bercahaya berserakan.


"Kamu kenapa? apa kamu marah sama ibu dan ayah karena sudah menikahkan mu?"

__ADS_1


"Tidak bu,Hana tidak marah,Hana hanya syok saja.Hana juga bingung!"


"Bingung kenapa?"


"Hana bingung bagaimana jika nanti Hana bertemu dengan kang Hatim.Hana bingung bagaimana menjelaskan pada teman teman Hana yang sangat mencintai kang Hatim.Teman teman Hana sangat mengagumi kang Hatim.Hana gak enak sama mereka!"


"Kenapa kamu memikirkan yang belum terjadi? apa saat kamu kecil kamu pernah memikirkan akan bagaimana keadaan di pesantren? apa saat kamu bayi kamu sudah memikirkan agar kamu nikah sama kang Hatim?"


"Tidak bu!"


"Tapi walaupun tidak di pikirkan kamu bisa hidup sampai sekarang.Kamu tidak pernah kepikiran bagaimana kamu saat hidup dewasa,tapi kamu bisa hidup dewasa.Sekarang kamu tidak usah memikirkan pernikahanmu,karena ibu yakin kamu pasti bisa menjalaninya!"


"Iya bu,Hana cuman takut!"


"Buang semua pikiran jelek terhadap suamimu,buang semua yang membuat hatimu tidak yakin kamu bisa menikah!"


"Hana juga merasa tidak pantas jika menikah dengan kang Hatim.Kang Hatim laki laki yang sholeh,kang Hatim pria yang pintar,kang Hatim punya banyak kelebihan.Sedangkan Hana? Hana banyak kekurangan dari pada kelebihan!"


"Kamu harus yakin bahwa kang Hatim akan menerimamu apa adanya.Ingat kata ibu! kang Hatim tidak akan sembarangan menjadikan kamu seorang istri!"


"Tapi ma...!"


"Jika kang Hatim berani menyakiti kamu juga,kakak kang Hatim yang siap membelamu,kakak kakak kang Hatim,yaitu guru gurumu akan selalu mendidikmu agar menjadi seorang istri yang baik,yang dari segalanya.Ibu yakin,kamu percaya dengan kedahsyatan doa seorang ibu? jika kamu benar benar percaya itu,maka jalani saja pernikahanmu ini!"

__ADS_1


Bersambung....


Follow ig/fb :AuthorSyiba


__ADS_2