Ustadz Muda

Ustadz Muda
#257


__ADS_3

Kang Hatim dan Hana sudah sampai di klinik tempat seorang bidan praktek persalinan.Hana juga langsung di bawa ke ruangan khusus yang di pintunya bertuliskan ruang bersalin.


Kang Hatim dengan agak panit mundar mandir di depan ruangan yang ada Hana di dalamnya.Kang Hatim juga tidak berhenti berdzikir mendoakan Hana dan bayinya.


Lima belas menit kemudian,pintu ruangan itu terbuka dan muncul bidan perempuan itu.Dengan buru buru kang Hatim bertanya pada bidan itu.


"Gimana keadaan istri saya bu?" tanya kang Hatim.


"Mbak nya baik baik aja Ustadz! Mbaknya sudah saya beri opat perangsang juga dan penahan rasa sakit!" jawab bidan.


"Perangsang? Perangsan apa bu?"


"Perangsang untuk membantu mempercepat proses lahiran!" jawab Bidan.


"Lah,emang perkiraan lahirannya kapan?" tanya kang Hatim.


"Emangnya ustadz gak tahu istrinya mau lahiran?" tanya balik bu bidan.


"Tidak bu! Kan niat saya datang ke sini mau periksa! Soalnya tadi kata istri saya,perutnya sakit!" jawab kang Hatim.


"Pantesan saya perhatikan kenapa Ustadz ini ngantar istri mau lahiran tapi ggak bawa apa apa!" kata bu bidan.


"Saya gak tahu bu,kalau istri saya mau lahiran sekarang! Soalnya saya dengar dari dokter di Jakarta,Diperkirakan istri saya lahiran minggu depan!" kata kang Hatim.


"Tidak ustadz,sekarang istri Ustadz sudah pembukaan lima,jika proses pembukaannya cepat bisa saja dalam satu jam kedepan sudah melahirkan! Atau bahkan satu jam lagi itu sudah beres semuanya! Mulai dari lahiran,dan bahkan bisa saja sudah boleh di bawa pulang,walau gak mungkin sih!"


"Terus saya harus gimana dong bu?" tanya kang Hatim.


"Sebaiknya Ustadz telepo saja orang rumah,minta tolong ke orang rumah supaya membawa perlengkapan bayi! Mulai dari sabun mandinya,baju nya,kainnya, dan lain lainnya! Usahakan minta tolongnya ke orang yang sudah berpengalaman punya anak agar faham!" kata bidan.


"Ooh gitu,kalau saya saja sama istri saya pulung dulu gimana?" tanya kang Hatim.


"Yeh jangan,bahaya! Kalau kebrojolan di jalan gimana?"


"Oh iya juga ya?! Ya sudah,kalau gitu,saya titip istri saya,saya mau pulang dulu!" kata kang Hatim.


"Eh,jangan juga! Kalau istrinya lahiran,terus gak ada bapaknya gimana?"

__ADS_1


"Lah iya!"


'Ini Ustadz kenapa jadi bodoh gini si?' batin bu bidan merasa aneh.


"Ya sudah ustadz,turuti saja apa yang saya sarankan! Telepon orang rumah suruh nganterin keperluan buat di sini! Juga suruh buat bawa baju ganti mbak nya!" kata bidan.


"Oh ya sudah kalau gitu,saya akan telepon kakak saya! Tahu gitu,kenapa gak nyaranin dari tadi sih?" kata kang hatim sambil membuka hand phone nya.Sedangkan si bu bidan geleng geleng kepala menyaksikan tingkah laku si ustadz.


"Bu,saya boleh masuk ke dalam?" tanya kang Hatim dengan hand phone sudah di tempelkan ke telinga kananya menunggu panggilannya di angkat.


"Boleh boleh,silahkan masuk! Saya juga mau ke ruangan dulu! Nanti kalau ada apa apa tinggal panggil aja di sana!" jawab bidan menunjukan ruangannya yang di depan ruangan bersalin itu.


"Terima kasih bu!" kata kang Hatim.


"Hallo Tim Assalamualaikum!" kata teh Alvi mengangkat panggilan.


"Waalaikumussalam! Teh lagi apa?"


"Gak lagi apa apa! Ada apa?"


"Ada!"


"Aku boleh minta tolong gak?"


"Minta tolong apa malam malam begini?"


"Gini teh,tadi kan perut Hana tiba tiba sakit,aku langsung bawa dia ke bidan Sumi,ternyata setelah di periksa Hana sudah mau lahiran,kata bidan sudah pembukaan berapa gitu,pokoknya sudah salam,puji puji,sholawat salam semuanya sudah!"


"Emangnya pembukaan pidato apah!"


"Hheh iya pokoknya gitu! Kata bidan kalau prosesnya cepet,Hana bisa melahirkan malam ini juga!"


"Iya,terus gimana? Teteh harus ke sana?"


"Iya harus ke sini! Temenin aku! Tapi karena niatan aku bawa hana ke sini hanya buat periksa,jadi aku gak bawa apa apa!"


"Gak bawa apa apa gimana?"

__ADS_1


"Iya,aku gak bawa perlengkapan bayi juga perlengkapan ibunya!"


"Oooh,jadi mau minta tolong bawain itu semua ke sana?"


"Iya,teh Alvi tahu kan apa saja yang harus di bawa?"


"Iya tahu!"


"Barang barangnya ada di kamar atas,yang dari teh Alvi!"


"Iyaa!"


"Juga tolong beri tau umi dan yang lain!" kata kang Hatim.


"Iyaa!"


"Minta di doakan juga sama santri baitussalam awal dan sani!"


"Iyaa!"


"Ooh iya,tolong bawa air yang sudah di bacakan doa oleh umi!"


"Iyaa!"


"Bawa makanan juga!"


"Iyaa! Ada lagi?"


"Sepertinya sudah deh! Cepetan ya teh! Nanti kalau ada apa apa aku butuh sesuatu lagi aku langsung kabarin!"


"Iya!"


"Terima kasih ya! Assalamualaikum!"


"Iya sama sama! Waalaikumussalam!"


Tuuut teh Alvi mengakhiri sambungan telponnya dan kang Hatim melanjutkan masuk ke dalam ruangan Hana.Diamana hana di sana sudah di pasangkan jarum infus dan Hana terbaring di atas ranjang.

__ADS_1


__ADS_2