
"Kang!" kata Nadhiirah saat sepasang suami istri itu sedang dalam perjalanan menuju kembali ke pesantren setelah selesai membeli apa yang mereka mau.
"Apa?" tanya Royyan.Tangan kanannya memegang tangan Nadhiirah dan tangan kiri nya memjinjing kangtong keresek.
"Hibban itu siapa?"
"Hibban?"
"Iya, tadi kang Izul nyebut nyebut nama Hibban!"
"Oooh,kalau kata gaya nya,manager ama! Yang nerima undangan dan ngatur jadwal ama ceramah!" jawab Royyan.
"Oooh!"
"Mang Hibban juga salah satu santri baitussalam!"
"Eh? Bukannya di baitussalam itu perempuan semua?"
"Iya, itu di baitussalam sani, kalau baitussalam awal kan laki laki aja!"
"Ooh berarti alumni baitussalam awal?"
"Iya!"
"Itu bukannya mobil ama ya?"
"Iya kayanya!"
"Darimana?"
"Uwa Alvi!"
"Ngapain?"
"Gak tau!"
Tanpa terasa,mereka berjalan sambil berbincang bincang, hingga sampailah lagi mereka di depan gerbang pesantren.
"Udah belanjanya a?" tanya mang Andi basa basi sambil membuka kembali gerbangnya.Padahal baru saja dia tutup karena masuk mobil kang Hatim.
"Udah mang! Makasih mang, maaf ngerepotin!"
"Ah iya gak papa a! Udah tugas mang ini mah!"
"Ya udah, sekali lagi makasih ya,kami permisi dulu!"
"Iya a, silahkan!" jawab mang Andi. Royyan melanjutkan perjalanan namun tanpa berbincang.
Royyan memperhatikan Nadhiirah yang sibuk melihat ke kiri dan ke kanan meneliti area pesantren.
"Aduh!" gara gara fokusnya ke area sekitar,bukan fokus ke jalanan yang akan diinjak,membuat Nadhiirah tersandung.
"Kenapa kenapa?" Royyan panik.
__ADS_1
"Tersandung!"
"Gak papa?"
"Gak kok!"
"Mana lihat!" Royyan langsung jongkok ingin melihat kaki istrinya.
Kaki Nadhiirah yang tersandung di tiup Royyan. Padahal emang kaki Nadhiirah itu gak papa.
"Sakit gak?"
"Nggak!"
"Alhamdulillah, lain kali hati hati!"
"Iyaa!"
"Bisa jalan kan?"
"Bisa lah, kan udah kamu lihat juga kaki nya gak papa!"
"Ya kan takutnya luka nya di dalam, gak keliatan!"
"Dih,malah di doakan?!"
"Bukan di doakan!"
"Hheh!"
"Astaghfirullah,ngapain di gendong? kan gak papa!"
"Ya kali aja, gak papa juga, kamu mau di gendong gituh!"
"Terima kasih atas perhatiannya!"
"Sama sama, ayo ah!"
Saat sampai di depan rumah, kini Zhaffar sedang duduk di teras istirahat.
"Selesai?" tanya Royyan.
"Alhamdulillah!"
"Hm!" gumam Royyan dan langsung melanjutkan masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, kang Hatim dan umma Hana sedang berduaan di ruang keluarga.
"Gabung aja yu?" ajak Royyan.
"Ngikut!" jawab Nadhiirah.
"Assalaamu'alaikum!" kata Royyan dan langsung salim pada kedua orang tuanya diikuti Nadhiirah.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalaam! Dari mana?" tanya kang Hatim.
"Beli makanan!" jawab Royyan setelah duduk.Begitu juga dengan Nadhiirah.
"Beli apa ngambil?"
"Ngambil sih,hheh!" jawab Royyan dengan cengengesan.Kang Hatim geleng geleng kepala .
"Eh iya ama, tadi di toko Royyan bertemu dengan kang Izul!"
"Terus?"
"Kata kang Izul dia nanyain jadwal ama ke mang Hibban besok lusa,isi ya?"
"Iya kalau gak salah! Tiga tempat!"
"Nah, kata kang Izul karena ama gak bisa, kang izul ajak Royyan buat pengganti ama!"
"Gimana gimana?"
"Kang Izul nyuruh Royyan ceramah!"
"Oooh, ya udah! Bagus!"
"Boleh ama?"
"Lah? Kenapa gak boleh?"
"Hmmm, tapi Royyan gak yakin bisa!"
"Latihan dulu!"
"Iya sih, kalah sudah ada izin dari ama dan umma, pasti Royyan latihan!"
"Gimana umma?" tanya kang Hatim.
"Ah ya terserah kamu aja nak, yang mau ngejalanin juga kamu! Tapi umma percaya,kamu bisa!"
"Aamiin!"
"Coba tanya Nadhiirah!" kata kang Hatim.
"Kata Nadhiirah juga terserah!"
"Ya udah, kamu coba! Belajar! Pasti waktu di pesantren juga ,kamu pernah kan ceramah sekali kali?"
"Pernah sih, tapi rasanya akan beda ama!"
"Sama!"
"Sepertinya beda deh!"
"Ih, makan garam di dunia ini juga duluan ama!"
__ADS_1
"Hheh!"