Ustadz Muda

Ustadz Muda
#218


__ADS_3

"Paman Hatiiiiiim!" teriak Alvin saat kang Hatim dan Hana masih di ambang pintu antara masuk dan keluar rumah sambil berlari merentangkan tangannya mengisyaratkan ingin di gendong.


Bukannya kang Hatim menangkap Alvin yang lari ke arahnya,kang Hatim malah sembunyi di balik Hana.


"Paman! Alvin mau di gendong!" rengek Alvin kang Hatim malah tertawa.


"Minta ijin dulu sama bibi!" kata kang Hatim.Alvin melirik ke arah wajah Hana dan malah nunduk.


"Ayo atuh ngomong dulu!" kata kang Hatim,tapi Alvin malah nunduk.


"Bibi,boleh gak paman Hatim gendong Alvin! Gitu ngomongnya!'' kata kang Hatim dan Alvin melirik wajah Hana lagi.


''Bibi!" kata Alvin sambil nunduk.


"Bibi siapa?" kang Hatim.


"Bibi Hana!" jawab Alvin.


"Ayo lanjutkan!"


"Alvin mau di gendong paman Hatim! Boleh gak?" Alvin.


"Kalau gak boleh gimana?'' Hana.Bukannya ngejawab,Alvin malah nangis dan lari ke ibunya teh Alvi.


"Astaghfirullah,kang nangis!" Hana jadi gak enak hati karena yang tadinya ingin bercanda,malah nangis.


"Hhahahah!" Kang Hatim malah tertawa saat Hana merasa tidak enak hati.


"Kenapa?" tanya teh Alvi sambil menggendong Alvin.

__ADS_1


"Mau di sama paman!" jawab Alvin.


"Itu paman itu! Sana samperin!" ucap teh Alvi.


"Gak boleh sama bibi!" kata Alvin.


"Tanggung jawab tuh,Alvin nangis!'' kata kang Hatim.


"Kan cuma bercanda kang!" kata Hana dan kang Hatim malah tertawa.


"Teh,aku bercanda!" kata Hana.


"Iya Hana,gak papa kok! Tenang aja! Namanya juga anak anak!" kata teh Alvi.


"Alvin,maaf ya,kan bibi bercanda!" kata Hana.


''Ayo ayo sini!" kata kang Hatim.


"Ayo,jajan mau?" bujuk kang Hatim.


''Gak mau!'' Alvin.


"Jajan es cream mau?" kang Hatim dan dengan kalimat itu Alvin luluh mau di gendong sama kang Hatim.


"Cahya,Liza,mau es cream juga?" tanya kang Hatim.


"Mau!" jawab Liza dengan teriak.


"Cahya mau?" tanya Kang Hatim dan Cahya menjawab pertanyaannitu dengan anggukan karena Cahya ini mirip dengan ibunya.Ibunya teh Putri sedikit pendiam,kalau Cahya lebih pendiam.

__ADS_1


"Ya sudah,ayo berangkat!'' kata kang Hatim dan menggiringkan dua ponakan lucunya yaitu Liza dan Cahya sedangkan Alvin di gendong.


"Kamu gak ikut bi?" tanya kang Hatim.


''Emangnya harus ikut?" tanya balik Hana.


"Ayo ikut!" kata kang Hatim.Hana pun mengikuti kang Hatim setelah pamitan dengan isyarat pada kakak kakak iparnya dan uminya.


"Gak pacaran juga bisa romantis ya,walau kadang mereka suka susah menyamakan fikiraan! Tapi tetep lucu!" kata teh Zahra sambil tersenyum melihat adiknya.


"Kan kalian semua emang gak ada yang pacaran!" kata umi Nurul.


"Bukannya teh Dawa pacaran ya umi?" tanya teh Alvi.


"Pacaran pacaran apaan? Sama kang Rahmat juga awalnya benci!" kata teh Dawa.


"Acieee,benci jadi rindu!" kata teh Alvi.


"Sampe sekarang Alvi!" kata teh Dawa.


"Apanya?" tanya teh Alvi.


"Benci nya!" jawab teh Dawa.


"Masa benci sama suami bisa punya anak empat!'' ledek teh Zahra.


"Itu gak sengaja!'' kata teh Dawa.


"Waw,gak sengaja ya? Masa gak sengaja maca doa!''

__ADS_1


"Sudah! Yang penting sekarang kalian ssaling menyayangi,antara kalian sama suami kalian! Agar bisa di contoh sama Hatim!" kata Umi.


Keempat kakak beradik perempuan itu asik mengobrol berkumpul di rumah umi,sedangkan para suami suami mereka juga asik ngopi,merokok bareng di teras madrasyah.


__ADS_2