Ustadz Muda

Ustadz Muda
#187


__ADS_3

Kang Hatim dan Hana sudah masuk ke dalam rumah sakit.Kang Hatim menanyakan dimana ruangan atas nama tuan Bima dan bu Nuraeni.


Setelah di beri tahu,kang Hatim dan Hana langsung menuju ruangan yang sudah di tentukan.Yaitu ayah Bima ada di ruang icu di lantai tiga dan bu Nuraeni sedang di ruang operasi menunggu persetujuan untuk melakukan operasi karena pecah pembuluh darah di bagian kepala.


"Suster,apa boleh saya melihat kondisi ayah sama ke dalam?" tanya Hana setelah sampai di depan ruangan ayah Bima.


"Apa mbak putri dari pak Bima?" tanya perawat itu.


"Iya! saya putrinya!" jawab Hana.


"Kalau begitu,sebaiknya mba menemui dokter Lesha dulu untuk menanda tangan surat persetujuan akan di laksanakannya operasi pada bu Nuraeni!!" kata perawat itu.


"Ibu saya kenapa?" tanya Hana.


"Bu Nuraeni mengalami pecah pembuluh darah!" jawab perawat dan Hana langsung oleng tidak sadarkan diri setelah mendengar kabar itu.


"Bawa saja ke ruangan itu mas! saya akan suruh doktermemeriksa mba nya!" kata suster itu.Kang Hatim pun menggendong Hana dan membawa Hana ke ruangan kosong yang di tunjukkan perawat itu.Dan perwatnya langsung pergi untuk memanggil dokter.


Tidak lama kemudian datang seorang dokter perempuan yang mungkin seumuran dengan teh Dawa bersama perawat yang tadi.

__ADS_1


Dokter itu memeriksa detak jantung Hana.Kemudian denyut nadi tangan Hana dan terkhir dokter itu meraba raba perut Hana kemudian di perika menggunakan stetoskop di bagian perut Hana dan kemudian dokter itu tersenyum.


"Dengan bapa siapa?" tanya dokter itu pada kang Hatim.


"Hatim! nama saya Hatim!" jawab kang Hatim.


''Apa anda suami dari mba nya?" tanya dokter itu.


"Iya dok! saya suaminya!" jawab kang Hatim.


"Kira kira kapan terakhir mba nya menstruasi?" tanya dokter itu lagi.


"Kalau begitu,selamat ya! Ada kemungkinan istri anda sedang mengandung!" kata dokter itu membuat kang Hatim tidak mampu berkata kata.


"Beb-be-benar dok?" tanya kang Hatim menahan rasa bahagianya.


"Untuk lebih detailnya,sebaiknya anda bawa istri anda ke dokter kandungan!" kata dokter itu yang mungkin ikut bahagia.


"Te-terima kasih banyak dok! terima kasih! Alhamdulillah ya Allah!" kata kang Hatim dengan air mata bahagia yang sudah menetes.

__ADS_1


"Oh iya,sebaiknya anda tanda tangan surat persetujuan ini agar kami bisa cepat bertindak! karena jika di biarkan terlalu lama,ini bisa bahaya!" kata dokter itu menyerahkan sebuah map merah yang dari tadi di bawa bawa oleh perawat.


Dengan perasaan campur aduk,kang Hatim menanda tangan surat persetujuan itu.Dilain sisi dirinya bahagia karena mendapat kabar bahwa istrinya sedang mengandung anak pertama mereka.Dan disisi lainnya dia harus bersedih karena mertuanya sedang dalam masa kritis berjuang antara hidup dan mati.


"Lakukan yang terbaik dok!" kata kang Hatim menyerahkan kembali map merah itu pada perawat.


"Kami akan berusaha sebaik mungkin! tapi kita manusia hanya bisa berusaha dan yang menyembuhkan hanya tuhan!!" kata dokter itu.


"Suster,sadarkan mba nya! setelah itu susul saya!" kata dokter itu.


"Baik dok!" jawab perawat itu.


"Kalau begitu! saya permisi!" kata dokter itu.


"iya iya,silahkan terima kasih!" kata kang Hatim dan dokter itupun langsung pergi mungkin akan langsung mengoprasi bu Nuraeni.


Setelah di bantu oleh perawat,akhirnya Hana sadar dan langsung menangis lagi.


"Saya permisi!" kata perawat itu dan dijawab anggukan oleh kang Hatim.

__ADS_1


__ADS_2