
Malam ini,santri baitussalam awal di undang ke baitussalam sani.Setelah maghrib mereka semua sudah berkumpul di madrasyah baitussalam dan sudah siap dengan qur'an mereka masing masing.
Malam ini seluruh santri termasuk gurunya yaitu kakak kakak kang Hatim,mau itu kakak kandung ataupun kakak ipar semuanya akan begadang.
Mereka semua akan berjamaah membaca surat yusuf.Kemudian surat Al Imron,setelah itu yasin juga tidak lupa mereka baca.Ar Rahman,Waqiah,al mulk,juga al kahfi tidak mereka lewatkan untuk mereka baca.
Pukul sebelas malam baru beres membaca surat waqiah setelah beres membaca surat yang pendek pendek terlebih dauhulu.Belum al kahfi,al imrom,dan yusuf.
"Hana!" kata teh Alvi.
"Iya teh?" tanya Hana.
"Ngantuk?" tanya teh Alvi.
"Belum teh!" jawab Hana.
"Ayo teteh antar kamu ke rumah! Kamu istirahat aja!" kata teh Alvi.
"Nanti aja teh,aku belum ngantuk kok!" kata Hana.
"Ya sudah,kalau kamu ngantuk ngomong ya! Nanti teteh antar ke rumah kamu! Soalnya si Ustadz nitipin kamu ke teteh!" kata teh Alvi dengan mata sinis ke arah kang Hatim yang duduk di depan dan kang Hatim juga menyadari itu.
"Maaf ya teh jadi merepotkan!" kata Hana.
"Nggak kok! Yang buat teteh geram itu bukan gara gara si Ustadz nitipin kamu nya! Tapi cara ngomongnya itu! Nyebelin!" kata teh Alvi.Hana bingung harus jawab apa hingga akhirnya tidak di jawab.Dan mereka melanjutkan ikut membaca al qur'an lagi.
Setengah jam berlalu dari sana,kang Hatim tiba tiba berdiri.Orang lain tidak menggubrisnya karena menyangka dia mungkin akan ke toilet atau ke mana gitu ada hajat.
Kang Hatim keluar madrasyah dan kebetulan di sana ada teh Dawa pulang dari toilet.
"Mau ke mana kamu?" tanya teh Dawa.
__ADS_1
"Mau nganterin Hana pulang! Ini sudah malam gak baik kalau dia ikut begadang!" jawab kang Hatim.
"Hana nya mana?" tanya teh Dawa.
"Di dalam! Aku nitipin dia ke teh Alvi agar kalau dia ngantuk bisa di antar sama teh Alvi! Tapi pasti dia gak berani bilang!" jawab kang Hatim.
"Ya pastilah dia gak bakal berani bilang! Kan dia orangnya pemalu!" kata teh Dawa.
"Aku boleh minta tolong gak?" tanya kang Hatim.
"Minta tolong apa?" tanya balik teh Dawa.
"Panggilin Hana! suruh dia ke sini! Bilangin aja aku tunggu di sini!" jawab kang Hatim.
"Ya sudah! Tunggu di sini! Tapi kalau sudah ngantar Hana pulang! Kamu jangan gak balik lagi ke sini!" kata teh Dawa.
"Iyaa! Semoga aja aku kuat!" kata kang Hatim.
"Kuat menahan godaan kasur empuk,bantal empuk selimut hangat!" jawab kang Hatim.
"Di siram tau rasa!" kata teh Dawa sambil pergi masuk ke madrasyah.
Sesuai permintaan kang Hatim,teh Dawa menyampaikannya pada Hana.Hingga tak lama kemudian Hana datang ke luar madrasyah masih memakai mukena nya melihat kang Hatim ada di sana>
"Ada apa kang?" tanya Hana.
"Sini sini!"
Hana nurut menghampiri kang Hatim mendekati kang Hatim.
"Ayo pulang!" kang Hatim langsung menuntun tangan Hana.
__ADS_1
"Eh gak mau ah!" Melepaskan pegangannya."Kan aku lagi ngaji!" kata Hana.
"Ini sudah malam bi! Gak baik begadang!" kata kang Hatim.
"Aku gak ngantuk!" kata Hana.
"Pokoknya pulang dulu aja! Masalah ngantuk atau tidak urusan belakangan!" kembali menarik tangan Hana namun penuh kasih sayang.
"Akang ih! Malam ini aja! Aku mau ibadah!" kata Hana.
"Kamu bisa ibadah setiap malam dan pahalanya lebih besar dari ngaji!" kata kang Hatim.
"Ibadah apa?"
"Kan kamu punya suami! Memanjakan suami itu juga ibadah! Pahalanya lebih besar!" jawab kang Hatim.
"Ih,beda akang!"
"Sama sama ibadah kan?"
"Ibadah itumah enak di akang!"
"Itu menurut kamu enak di akang! Kalau masalah ganjaran ya enak di kamu dong! Kamu mah ke suami,senyum di beri pahala,bicara lembut,pahala! Cium,pahala! Kamu manja juga dapat pahala!" Hana tidak bicara lagi dan nurut mengikuti suaminya membawanya ke rumah.
"Kamu lanjut ngajinya di rumah! Pasti kedengaran kok spiker nya ke rumah!" kata kang Hatim.
Kang Hatim tidak mengantar Hana sampai ke rumah,tapi sampai kamar.
"Mau ngaji apa mau tidur?" tanya kang Hatim.
"Tidur aja boleh gak?" membuat kang Hatim tersenyum geleng geleng kepala.
__ADS_1
"Ya sudah,tidur yang nyenyak! Baca doa!" kata kang Hatim.Hana pun berbaring di tempat tidurnya dan kang Hatim memakaikannya selimut dan mencium keningnya.