Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Resepsi mewah Kenan dan Hanin


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Kenan sudah terlihat lebih baik. Walau terkadang masih sedikit mual. Namun, dengan telaten Hanin mengurus suaminya. Hanin pun tak pernah absen setiap siang ke kantor Kenan hanya untuk menyuapi sang suami untuk makan siang.


Rasti sangat senang dengan berita bahagia itu. Kiara dan Gunawan pun sama. Kini, Gunawan tidak lagi canggung pada Hanin dan mulai mencair pada Kenan. Gunawan dan Kena terlihat lebih sering berbincang di banding dulu.


Pertemuan dengan wanita masa lalunya itu sudah selesai. Dan kini, Gunawan mantap untuk melangkah dan mempertahankan pernikahannya dengan Kiara. Walau, semakin hari Kiara semakin dingin padanya. Namun, ia tetap berusaha untuk mencairkan hati yang beku itu. Meski terkadang ia sedikit putus asa, karena melihat kedekatan Kiara dengan Vicky yang semakin dekat, terlebih saat ini, mereka menjadi orang yang paling sibuk menyiapkan resepsi mewah pernikahan Kenan dan Hanin yang akan di gelar malam ini.


“Ra, bagaimana? Bagus kan?” Vicky memperlihatkan penampilannya untuk malam ini pada Kiara.


Mereka tengah berada di kamar hotel, tepatnya di kamar kedua mempelai yang akan menjadi raja dan ratu semalam.


Kiara mengangguk. “Bagus. Gagah banget.” Ia tersenyum. “Ganteng deh pokoknya.”


“Eh iya, lu laen banget Vick. Siapa yang milih jas ini?” tanya Kenan.


“Nih.” Vicky menunjuk ke arah Kiara. “Siapa lagi kalau bukan adik lu yang paling cantik.”


“Gombal.” Kiara tertawa.


“Hei, bagaimana dengan aku?” Hanin perlahan mendekati Kenan, Vicky, dan Kiara.


Hanin masih ditemani tata rias yang mengangkat gaun belakangnya saat ia berjalan.


“Waaaw ... Hanin ... Kamu cantik banget,” ucap Kiara dengan sedikit berteriak.


Kenan menatap istrinya tak berkedip. Hanin memang terlihat sangat cantik dengan gaun putih panjang dan make up yang sangat sesaui dengan wajahnya yang cantik natural.


“Kamu cantik, Sayang,” Kenan mendekati istrinya dan merangkul pinggang yang masih ramping itu.


Hanin tersenyum malu.


“Kamu juga cantik, sayang,” ucap Vicky pada Kiara dan merangkul pinggang wanita hamil itu dengan nada meledek. Pasalnya pinggang Kiara tidak seperti Hanin.


“Ngeledek?” tanya Kiara dengan membulatkan matanya ke arah Vicky.


Vicky melepas tangan yang semula ada di pinggang Kiara dan tertawa. Kenan dan Hanin pun ikut tertawa. Mereka merasa seperti keluarga yang utuh.


Sementara Gunawan hanya bisa melihat keakraban yang terjadi pada keempat orang itu melalui sedikit celah pintu yang terbuka. Ia tersenyum. Roda memang selalu berputar dan kini keadaan seakan berbalik padanya. Dulu, ia yang sering menyakiti Kiara dengan bermain wanita di luar sana. Namun kini, ia merasakan sakit hati yang pernah Kiara rasakan dulu. Ternyata seperti ini sakitnya, jika melihat orang yang kita cintai tengah tertawa bahagia bersama orang lain.

__ADS_1


“Gun, kenapa berdiri di sini. Ayo masuk!”


Gunawan dikejutkan oleh suara Rasti dari belakang. Akhirnya ia masuk ke kamar itu bersama Rasti.


Vicky juga seperti pria yang tak tahu malu, mengejar istri orang. hal itu terlihat dari perhatian yang diberikan Vicky terhadap Kiara. Vicky pun sering membeli makanan kesukaan Kiara dan Kiara dengan senang hati menerimanya. Walau Kiara hanya menganggap Vicky seperti seorang kakak, tapi bagi Gunawan tidak seperti itu. Ia cemburu dan menyimpan kecemburuan itu dalam-dalam. Gunawan tidak meluapkan kecemburuan itu dengan berbuat kasar pada kiara seperti yang pernah ia lakukan dulu.


Kini, Gunawan memang sudah menerima takdirnya, karena ia sadar bahwa apa yang ia dapat hari ini karena sesuatu yang telah ia lakukan di masa lalu.


Seketika tawa Kiara luntur, saat mendapati Gunawan tengah berjalan mendekati mereka.


“Ayo kita turun! Semua tamu sudah menunggu,” ujar Rasti pada Kenan, Hanin, Kiara, Gunawan, dan Vicky.


“Ayo!” seru Vicky bahagia. Pria itu memang selalu ceria dalam keadaan apapun.


Tepat di Aula hotel yang luas itu, Hanin berdiri. Rasanya ia ingin menangis melihat resepsi pernikahan yang mewah ini. Ia tidak menyangka bahwa Rasti akan menyiapkan resepsi semewah ini. Ia menoleh ke samping, tempat Kenan berdiri. Pria itu tampak gagah dengan setelan jas yang pas pada tubuhnya. Hanin melingkarkan tangannya pada lengan Kenan yang kokoh.


“Terima kasih, Sayang.” Hanin menatap wajah Kenan dengan penuh cinta.


“Terima kasih sama Mami. Dia yang menyiapkan ini semua.”


Hanin menoleh ke samping, tempat Rasti berdiri dan Rasti di temani oleh Gunawan di sampingnya.


“Mami, terima kasih.”


Di sana, Gunawan pun ikut tersenyum. Ia juga merasa senang dengan kebahagiaan yang di dapat oleh wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu.


Sedangkan di samping Kenan tengah berdiri Nida dan suaminya, Emran. Nida dan Emran sengaja datang ke negara ini hanya untuk melihat sang adik yang tengah berbahagia.


Resepsi itu berjalan dengan khidmad. Ada serangkaian acara yang memang sudah di siapkan oleh event organizer yang dipilih Rasti. Dan, semua acara itu berlangsung lancar. Orang-orang penting hadir di acara ini, termasuk beberapa pejabat pemerintahan termasuk Gubernur. Mereka semua berjejer menunggu antrean untuk memberi ucapan pada kedua mempelai.


“Hai.” Hanin melebarkan senyum, ketika yang ada di bawah panggung dan hendak berjalan mendekatinya itu adalah kedua sahabatnya.


“Selamat, Han.” Ucap Karmen sembari memeluk erat tubuh Hanin.


“Makasih.” Mereka berpelukan semabri bergoyang ke kanan dan kiri.


“Cantik banget lu, Han,” ucap Irma.


Para suami mereka pun bergantian bersalaman dengan Kenan dan mengucapkan selamat. Kenan mengembang senyum sembari membalas ucapan itu. Kemudian, mereka bersua foto.

__ADS_1


“Gaya bebas.. “


“Cherrs.”


Ceklek.


Foto ketiga keluarga berada di atas panggung itu. Irma dengan anak dan suaminya. Karmen juga bersama anak dan suaminya. Mereka mengapit Kenan dan Hanin yang berdiri di tengah. Senyum mengembang pada semua yang ada di sana.


Seketika tubuh Gunawan menegang saat ia melihat sosok wanita masa lalunya tengah berada di bawah sana bersama Kiara diiringi oleh seorang pria yang sangat ia kenal di belakangnya. Bukan, bukan kedekatan antara Kiara dan wanita itu yang membuat ia terkejut, atau kedekatan wanita itu dengan Vicky, jika hal itu ia sudah tahu. Namun, sosok pria pirang yang menjadi investor pada perusahaannya beberapa minggu lalu.


Ya, Dave berjalan mendekati kedua mempelai bersama Vicky. Di iringi Kiara yang sedang menggandeng tangan Cia, panggilan wanita masa lalunya itu, persis di depan kedua pria tadi.


“Selamat, Kak Kenan,” ucap Cia yang ternyata adalah Velicia, adik Vicky.


Kenan membalas uluran tangan Vely, bergantian dengan uluran tangan Dave.


“Selamat, Mr. Kenan,” kata Dave.


“Thank you, Dave.” Kenan menangkap uluran tangan rekan bisnisnya ini.


Sebelum Vely dan Dave mengulurkan tangannya untuk memberi selamat pada Kenan. Mereka pun terlebih dahulu berjabat tangan dengan Gunawan dan rasti yang berdiri sejajar sebelum Kenan dan Hanin.


“Gun, Mr. Dave ini tunangan Vely. Mereka akan menikah minggu depan,” ucap Kenan pada Gunawan.


“Oh.” Gunawan terkejut.


Walau ia tahu bahwa Vely sudah bertunangan, tetapi ia tak menyangka jika orang yang telah membantu menanamkan modal di perusahaannya adalah pria yang akan menjadi suami Vely.


Hah, dunia memang sempit.


Gunawan tersenyum dan mengangguk. “Pantas saja, Mr. Dave sangat fasih berbahasa Indonesia.”


“Ya, karena aku mengenal Vely cukup lama. Dan, Vely mengajarkanku bahasa Indonesia,” jawab Dave.


Gunawan melirik ke arah Vely, begitu pun Vely. Mereka semua tersenyum. Skandal antara Vely dan Gunawan, biarlah hanya mereka yang tahu. Dan, hal itu tidak akan pernah diketahui siapapun, termasuk Vicky, kakak Vely. Ia pun menyimpan rahasia ini pada Kiara, karena mereka telah menemukan cintanya masing-masing dan mengubur masa lalu itu dalam-dalam.


Hal itu yang sudah mereka ikrarkan, ketika mereka bertemu di cafe itu. Dan, pada saat yang bersamaan, Kiara mellihat keakraban suaminya dengan adik Vicky itu.


Walau Kiara tak melihat jelas wajah Vely karena saat itu Vely tengah duduk membelakanginya. Namun yang ia tahu, bahwa Gunawan belum berubah. Sang suami lagi-lagi hanyabersikap manis sementara. Padahal saat ini Kiara sudah senang. Namun, Gunawan melupakan janjinya dan lebih memilih berkencan dengan wanita lain.

__ADS_1


****************************


Flashback pertemuan Gunawan dan Velicia yang dipergoki Kiara ada di episode berikutnya ya guys. Mohon bersabar 😘😘


__ADS_2