
Sejak duduk di bangku SMP, Vely diambil oleh salah satu kerabat dari ibunya dan tinggal bersama mereka. Hal itu dilakukan untuk mengurangi beban Vicky, karena pada saat itu Vicky pun masih sekolah dan baru duduk di bangku SMA.
Velicia bertemu Gunawan tepat pada saat akhir tahun, ketika mereka tengah menikmati liburan tengah semester. Pada saat itu, Vely tengah duduk di kelas sembilan SMP, ia dekat dengan teman sebangkunya yang merupakan sepupu Gunawan, atau anak dari paman Gunawan. Saat itu paman Gunawan memang masih tingga di Jakarta. Kala itu, mereka ingin berlibur ke kampung halaman di Solo. Dan, Vely pun di ajak oleh keluarga temannya itu. Di sanalah ia bertemu Gun dan menjadi akrab, karena selama satu minggu mereka berada di rumah yang sama, yaitu rumah peninggalan nenek Gunawan di Solo. Hingga pada saat Vely dan keluaga pamannya kembali ke Jakarta, Gun mengungkapkan ketertarikannya pada Velicia dan mulai dengan status pacaran. Vely yang takut dengan Vicky pun tak pernah menceritakan kekasihnya pada sang kakak.
Sejak kenal dengan Vicky, Gunawan pun hanya beberapa kali main ke rumahnya. Di sana tidak banyak foto keluarg Vicky, hanya ada Foto ketiga anak itu ketika kecil. Mereka juga lebih sering bermain di rumah Gunawan yang memang lebih besar. Di tambah, ketika dekat dengan Kenan, basecamp mereka pindah ke rumah Kenan, apalagi di rumah Kenan saat ini disediakan studio musik oleh Kean, membuat ketiga orang ini lebih nyaman bermain di rumah itu.
Gunawan tahu bahwa Vicky memiliki adik kembar, yang bernama Vedy dan Vely sesuai cerita Vicky. Namun, Gunawan hanya pernah bertemu Vedy tidak dengan Vely. Dan lagi, ketika ia berkenalan dengan Vely, justru adik Vicky itu malah menyebut nama dengan nama panggilannya saja. Oleh karena itu, Gunawan hanya tahu nama wanita itu adalah Cia.
Banyak hal yang telah Vely lalui, setelah Gunawan mencampakkannya. Namun, hal itu membuat Vely kuat dan berusaha untuk berdiri. Walau Vicky tidak pernah tahu kejadian itu, tetapi Vely tetap merasa bersalah. Ia merasa bersalah dengan sang kakak yang sudah memperjuangkan adik-adiknya. Oleh akrena itu, ia ingin membuktikan diri pada sang kakak bahwa dirinya bisa sukses, sekaligus untuk menebus rasa bersalah itu. Lalu, ia bersungguh-sungguh mengejar mimpi hingga akhirnya kesempatan untuk kuliah di Australia itu pun didapatkan. Tentunya, juga dengan peran sang kakak dan Kenan.
Tepat satu minggu yang lalu, Vely mendapat undangan pernikahan Kenan dari Vicky. Vely harus hadir, karena jasa Kenan terlalu banyak padanya. Tanpa di sengaja, Vely pun melihat undangan Kenan tergeletak di meja kekasihnya saat ia datang ke kantor kekasihnya itu. Akhirnya, mereka berangkat ke Indonesia bersama, sekalian Vely menjenguk keponakannnya yang baru lahir dan tunangannya yang ingin kerjasama pengusaha Indonesia, walau Vely tidak pernah tahu bahwa tunangannnya itu bekerja sama dengan pria yang sempat merusak hidupnya.
Waktu itu, Vely membeli perlengkapan bayi untuk anak kembarannya yang baru lahir. Dan, pada saat bersamaan, ia bertemu Gunawan di tempat itu. Bertemu Gunawan seperti membuka masa lalu yang jauh sudah ia kubur dalam-dalam. Sejak kejadian buruk itu, Vely berjanji pada dirinya untuk tidak lagi menengok ke belakang, apalagi saat ini ia telah mendapat pria yang mencintainya dengan tulus seperti Dave. Walau semula kepolosannya selalu dimanfaatkan oleh beberapa pria yang ia temui. Namun, akhirnya Dave datang bak seorang pangeran berkuda yang memulihkan hatinya dan mengembalikan kepercayaannya terhadap cinta.
Flashback On
Gunawan sudah berada di cafe yang sesuai dengan tempat yang sudah mereka kesepakati bersama. Cafe yang berada di tengah antara kediaman Aditama dan hotel tempat mereka tadi bertabrakan. Cafe itu juga salah satu cafe yang Kiara kunjungi karena Kiara sangat menyukai vanila latte buatan cafe itu.
Gunawan duduk persisi di dekat kaca dengan kaca bening yang dapat terlihat dari luar. Ia menunggu kedatangan Vely dan melupakan janjinya pada Kiara. Ia hanya ingin meminta maaf pada Velicia, agar ke depan hidupnya tidak lagi terasa sulit.
Sepuluh menit Gunawan menunggu, akhirnya Vely datang. Gunawan melihat wanita itu tengah membuka pintu cafe. Ia menengadahkan kepala dan menatap Velicia yang berjalan mendekatinya. Veli tetap tersenyum ke arah Gunawan. Gunawan membalas senyum itu dan ternyata hatinya biasa saja, tidak ada lagi getaran atau degupan kencang di hatinya. Itu berarti, ia sudah tidak ada perasaan lagi terhadap wanita masa lalunya ini.
__ADS_1
“Maaf, menunggu lama,” ucap Velicia sembari menggeser kursi di depan Gunawan dan mendudukkan diri di sana.
“Ah, ngga. Belum satu jam,” jawab Gunawan tersenyum.
Velicia ikut tersenyum. Namun, beberapa saat mereka terdiam, bingung untuk memulai pembicaraan dari mana.
“Oh iya, kamu mau pesan apa? Biar aku pesankan,” Gunawan memulai pembicaraan.
Velicia mengangguk, lalu menyebutkan minuman yang ia inginkan. Kemudian, Gunawan memanggil waiters dan memesankan minuman untuk Vely.
“Ekehm.” Gunawan menegakkan tubuhnya.
Veli pun ikut terlihat canggung, walau sebenarnya ia pun sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap pria yang duduk dihadapannya itu.
“Apa kabarmu?” tanya Velicia.
Mereka sama-sama bersuara dan menanyakan kabar bersamaan. Lalu, mereka tersenyum.
“Kamu dulu,” kata Gun.
“Tidak, kamu saja dulu, karena kamu kan yang mengajakku bertemu,” jawab Velicia.
__ADS_1
“Baiklah.” Gunawan menarik nafasnya kasar.
Gunawan meletakkan kedua tangannya di atas meja itu. Ia sedikit mengecap minumannya sebelum memluai bicara.
“Cia, aku minta maaf. Maaf karena waktu itu aku tidak pernah menghubungimu. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sehingga melupakanmu. Dan saat aku ingat padamu, kamu bagai hilang di telan bumi. Aku mencoba mencari keberadaanmu, tapi tidak ketemu.” Gunawan menatap kedua bola mata Velicia. Ia berkata sunggung-sungguh. “Cia, maafkan aku.”
Velicia hanya tersenyum kecut. Ia mengingat lagi tiga belas tahun silam, dimana masa-masa kelam itu terjadi.
“Ya, kamu memang pria tidak bertanggung jawab.”
Gunawan menunduk. “Maaf, Cia.”
“Rasanya aku ingin memukulmu, mencakarmu, dan menendangmu dengan keras.” Mata Velicia mulai berkaca-kaca. “Banyak hal yang terjadi padaku waktu itu, Kak. Banyak.”
Veli merasa hatinya kembali sesak, seperti pada saat Gunawan melupakannya.
“Apa pada saat itu kamu hamil?” tanya Gunawan.
Veli menatap Gunawan tajam. “Ya.”
Seketika tubuh Gunawan membeku. Ia semakin menundukkan kepalanya. Ternyata, ia sudah menjadi ayah tepat di usia dua puluh tahun. Mata Gunawan pun mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
“Lalu, di mana dia sekarang? Pasti dia sudah besar, usianya dua belas atau akan memasuki tiga belas tahun. Dia sudah SMP?” tanya Gunawan antusias.
Namun, Velicia diam. Sungguh, waktu itu adalah masa yang paling kelam dalam hidupnya. Masa terburuk yang hampir membuatnya ingin mengakhiri diri. Namun, wajah kedua orang tua yang sudah tiada, serta wajah sang kakak yang selalu menyayanginya membuat dirinya tersadar dan bertekad untuk bangkit.