
Vanesa terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Ia membuka selimut tebal itu.
“Ah, ****.” Vanesa mengumpat, menyesali kebodohannya semalam.
Ia sadar bahwa semalam dirinya tengah bercinta. Namun, Ia tak sadar dengan siapa ia bercinta. Vanesa mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar itu. Tidak ada seorang pun selain dirinya di sini, hanya ada sebuah nampan yang tergeletak di nakas dengan secarik kertas.
Vanesa kembali mengusap wajahnya. Ia meremas rambutnya sendiri. Lalu, beralih pada tasnya. Meraih tas yang ada di tergeletak di pinngiran sofa kecil. Perlahan, ia bangkit dan meraih tas itu, lalu mengambil ponselnya. Ia melihat puluhan panggilan dari sang ayah. Ia lemas bercampur bingung. Tak tahu harus mengatakan pada sang ayah yang pastinya akan menanyakan keberadaan yang menghilang sejak kemarin. Vanesa melempar ponsel dan tas itu asal. Matanya kembali tertuju pada nampan yang berisi sandwich dan susu, juga kertas yang diselipkan di bawah nampan itu.
Vanesa berjalan ke arah nakas. Ia memang bangun sangat siang, sehingga pria yang semalam bersamanya sudah pergi. Mungkin pria itu sudah berangkat ke kantor, pikirnya. Vanesa semakin penasaran dengan secarik kertas itu. Ia pun meraih kertas itu dan menariknya.
“Hai, Sayang. Akhirnya kita bertemu lagi. Maaf, kita melakukannya lagi semalam.”
Vanesa mengeryitkan dahi. Ia bingung dengan kata ‘kita’ yang dituliskan pria itu. apa ia mengenal pria yang semalam menikmati tubuhnya di saat ia sedang tak sadarkan diri? Namun, ia pun merasakan sentuhan pria itu memang tidak asing baginya.
“Aku meninggalkan sandwich dan susu untukmu, pasti kamu lapar, karena semalam kamu sangat agresif. But, I like it. Sorry aku meninggalkanmu lebih dulu, karena pagi ini aku ada meeting. See you my first love – Riza.”
Deg
Jantung Vanesa tiba-tiba berdegup kencang. Seketika, tubuh Vanesa kembali melemas. Ia tak menyangka bahwa pria itu adalah mantan kekasihnya dulu. Pria malas, tidak pintar, dan semaunya sendiri. Namun, sangat menyayanginya. Memang karakter Riza remaja sangat berbeda dengan Kenan, karena Kenan remaja tidak seperti remaja lain yang tanpa beban dan masih bermain-main. Kenan remaja sudah di jejali dengan segudang tanggung jawab, sehingga sudah berpikir dewasa.
Vanesa memakai pakaian yang terserak di lantai. Ia mencoba ingin segera keluar dari apartemen ini. Namun, sesampainya di pintu. Ia tak bisa membuka pintu itu. Pintu apartemen itu terkunci dari luar. Riza sengaja mengurung Vanesa agar wanita itu tak keluar dari apartemennya hingga ia pulang dari kantor.
“Si*l.” Vanesa menedang-nemdang pintu itu. lalu, ia beralih ke seluruh penjuru, mencoba mencari celah untuk keluar.
Vanesa melewati dapur dan di lemari es, Riza kembali menempelkan pesan di sebuah kertas berwarna biru.
“Maaf, aku mengurungmu di sini. Aku tidak ingin lagi kehilanganmu. Jika kamu lapar, di dalam si banyak bahan makanan. Kamu bisa memasaknya dan memasakkan untukku.”
“Cih, percaya diri sekali dia,” umpat Vanesa yang masih tidak terima, karena yang memtuskan hubungan mereka saat itu memang Riza sendiri.
****
__ADS_1
Di apartemen yang lain, Kenan sudah siap untuk pergi ke kantor. Hari ini, ia akan memperkenalkan Hanin pada seluruh karyawannya yang berkantor di kota ini.
Hanin berdiri di depan cermin. Ia menata dirinya agar terlihat maksimal berdampingan dengan sang suami.
Kenan berada sudah berada di luar kamar, menemani sang ibu di meja makan. Lalu, ia kembali menuju kamar dan mendapati sang istri yang telah berpakaian anggun dan berdandan cantik. Kenan memeluk Hanin dari belakang.
“Kamu cantik.” Kenan menempelkan bibirnya pada daun telinga sang isti.
Hanin tersenyum dan memandang suaminya dari cermin. “Kamu juga tampan. Aku harus bisa mengimbangimu.”
Tiba-tiba Hanin terdiam.
“Mengapa diam?” tanya Kenan.
“Aku malu bertemu teman-temanku disana. Apa reaksi mereka, jika tahu aku adalah istrimu.” Hanin membalikkan tubuhnya.
“Terkejut? Hmm .... atau takut. Terutama Pak Juan dan orang-orang yang pernah memarahimu.”
“Ken, Han, ayo!” ajak Rasti yang sudah rapih, berdiri di luar pintu kamar pasangan suami istri ini.
“Ayo!” Kenan menggenggam tanga Hanin yang dingin.
Entah mengapa, Hanin gugup? karena ini adalah kali pertama ia go publik. Sejak sekolah, ia bukanlah gadis yang famous. Ia hanya seorang Hanin yang biasa saja, tidak pintar, dan tidak mempunyai bakat lebih. Hidupnya standar, walau sebenarnya Hanin memiliki wajah yang cantik. Namun, ia menutupi dengan tidak pernah berandan sama sekali, bahkan hanya memakai bedak pun, ia malas. Hingga, akhirnya pada saat bekerja ia mulai memoleskan bedak di wajah dan lipstik di bibirnya. Kemdian, bertemu dan berpacaran dengan Gunawan, membuatnya semakin ingin terlihat cantik.
Vicky sudah menunggu Kenan di lobby. Lalu, mereka berjalan bersama menuju perusahaan ekport tambak udang terbesar seAsia.
Sesampainya di kantor itu, Kenan tetap menggenggam tangan Hanin. Ia tak melepaskan tangan itu, hingga mereka sampai di ruangan Kenan. Sedangkan, Rasti berjalan di belakang Kenan bersama Vicky. Mereka seperti orang yang tengah mengiringi sepasang pengantin yang sedang berjalan menuju singgasana kursi raja dan ratu semalam.
Semua orang yang di lewati Kenan dan Hanin pun berdiri. Tak jarang, mereka pun terlihat saling berbisik, walau dengan sembunyi-sembunyi.
“Mami, tunggu di sini ya! Kenan tidak lama,” Ucap Kenan pada Rasti saat akan meninggalkan wanita paruh baya itu di ruangannya.
__ADS_1
“Mami, Hanin tinggal dulu ya,” sahut Hanin yang juga pergi bersama sang suami. Tangannya masih setia dalam genggaman tangan Kenan.
“Pergilah!” Rasti mengagguk dan tersenyum. Ia duduk di sofa yang ada di seberang kursi dan meja kerja putrnya.
Di ruang meeting, semua staff sudah berkumpul. Mereka pun tercengang, saat Kenan memasuki ruangan itu dengan menggenggam tangan Hanin Aqila, karyawan baru yang pernah membuat rugi perusahaan ini.
Kenan berdiri di temani Hanin di samping Kanan dan Vicky di samping kiri. Semua orang yang menunggu kedatangannya pun ikut berdiri, sejak Kenan memasuki ruangan ini.
“Maaf, hari ini saya meminta kalian semua untuk meeting dadakan. Pagi ini, saya tidak bertanya seputar pekerjaan. Saya hanya ingin mempublikasikan kepada kalian bahwa Hanin Aqila, salah satu staf keuangan yang pernah bekerja beberapa hari di sini adalah istri saya.”
“Hah ...”
Seketika ruangan itu menjadi riuh. Riza yang berada di antara orang-orang yang ada di dalam ruangan itu pun terkejut. Ia tak menyangka gadis polos yang ia pilih untuk mengisi kekosongan kursi di bagian keuangan itu adalah istri Kenan. Padahal sebelumnya, ia sempat tertarik dengan wajah cantik dan suara lembut Hanin, tapi lagi-lagi Kenan mengambilnya.
Berbeda dengan karyawan yang lain. Irma justru terlihat sumringah, melihat sahabatnya bersanding dengan bosnya itu. Sejak sampai di ruangan ini, mata Hanin hanya tertuju pada Irma dan tersenyum senang ke arah wanita yang terhitung mulai besok akan cuti hamil.
Mata Hanin juga tertuju pada Riza yang sedari tadi menatapnya. Ia tak mungkin melupakan pria itu, karena sejak berada di kantor ini, Riza selalu memperlakukannya dengan baik.
“Attension, please,” ucap Vicky dengan suara keras, agar semua orang di dalam ruangan itu kembali diam, karena Kenan belum selesai menyampaikan perkataannya.
“Saya dan Hanin sudah hampir dua bulan menikah. Kami menikah di Kuala Lumpur dan saya juga sudah memutuskan pertunangan saya dengan model itu, karena sejauh ini yang kalian tahu adalah itu.”
Pak Juan dan kedua petinggi yang pernah memarahi Hanin pun tertunduk. Mereka tidak berani mengangkat wajahnya apalagi melihat ke arah Hanin. mereka baru sadar, mengapa pada waktu itu mereka di skors.
“Well, hanya itu yang ingin saya sampaikan pagi ini.” Kenan mencium beberapa kali punggung tangan Hanin yang masih ia genggam.
Kenan pun tersenyum ke arah sang istri dan laangsung di balas oleh istrinya. Terlihat jelas chemistry yang kuat dari wajah keduanya.
“Ada yang ingin kamu sampaikan, Sayang?’ tanya Kenan berbisik.
Hanin pun menggeleng malu.
__ADS_1