Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Ekstra part 8


__ADS_3

"Vick, kok operasinya lama sekali?" tanya Rasti yang sudah menunggu cukup lama di luar sana.


"Mungkin sebentar lagi, Tante."


Rasti sudah menghabiskan mocca latte yang diberikan asisten sekaligus sahabat dari putranya ini. Namun, Kenan belum juga keluar dari ruangan itu.


Dret ... Dret ... Dret ...


Ponsel Rasti berdering menampilkan nama Kiara di layar itu.


"Hallo."


"Hallo, Mam. Bagaimana Hanin? Sudah selesai operasinya?" tanya Kiara.


"Belum, Ra. Sudah satu setengah jam kakakmu di dalam. Mami jadi khawatir. Hanin tidak apa-apa kan?"


"Insya Allah tidak apa-apa, Mam."


"Haduh, Mami benar-benar khawatir," jawab Rasti.


Hanin memasuki ruang operasi pukul 6 pagi dan saat ini waktu sudah menunjukkan hampir pukul 8.


"Ini Kiara sama Mas Gun juga udah OTW ke sana, Mam."


"Iya, Ra. Hati-hati ya."


"Mami mau dibawain makanan apa?" tanya Kiaa pada sang ibu yang sudah datang ke rumah sakit ini sejak subuh.


"Tidak usah, disini Mami juga sudah dibelikan makanan dan kopi oleh Vicky."


"Oh, baiklah."


Kemudian, Rasti menurup telepon itu.


Ceklek


Kenan keluar dari ruangan itu. Ia langsung tersenyum ke arah sang ibu dan Rasti langsung berlari menghampiri Kenan.


"Bagaimana Hanin, Ken?" tanya Rasti, di iringi langkah Vicky yang juga ingin mengetahui keadaan istri bosnya.

__ADS_1


Kenan langsung memeluk sang ibu. Ia turut merasakan perjuangan Hanin ketika melahirkan putranya.


"Terima kasih, Mami. Terima kasih karena selalu mendoakan yang terbaik untukku. Terima kasih atas semua perjuanhan Mami untukku." Kenan menciumi tangan Rasti dan memeluknya.


"Iya, Sayang. Mami juga terima kasih karena kamu sudah menjadi anak mami yang baik."


Kenan meneteskan airmata. Entah mengapa ia mebjadi pria melankolis sejak tadi. Mungkin karena semua hal yang ia lalui sangatlah indah dan hal itu yang membuat airmata itu tak terbendung.


"Ternyata perjuangan seorang ibu dalam melahirkan itu luar biasa," ucap Kenan.


"Ya, seperti itulah, Nak," jawab Rasti. "Lalu, bagaimana Hanin? Semua berjalan baik kan?"


Kenan mengangguk. "Hanin sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Mam. Sedangkan putra kami masih di cek kesehatannya."


"Apa putra?" tanya Rasti.


Kenan tersenyum dan mengangguk. "Iya, Mam. Putra. ternyata anak Kenan, laki-laki, Mam. Jadi selama ini usg nya salah."


Rasti terkejut hingga menutup bibirnya. Ia masih tak percaya. "Sungguh, Ken?"


"Wah, Bro. Selamat ya. Akhirnya lu jadi bapak dan semua berjalan sesuai harapan lu." Vicky memeluk sahabatnya.


Kenan pun langsung menerima pelukan hangat dari sang sahabat yang selalu ada untuknya.


"Ini emang udah tugas gue, secaa gue kan dapet duit dari lu."


Kedua pria itu pun tertawa diringi senyum lebar dari Rasti.


Setelah pelukan antara pria itu melonggar, Rasti menggantikannya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu memeluk erat sang putra.


"Selamat, Sayang. Ini benar-benar surprise."


"Iya, Mam."


"Berarti, ini kado terindah di ulang tahun lu kali ini, Ken," celetuk Vicky.


Sontak, Kenan dan Rasti menoleh ke arah Vicky.


"Oh, ya ampun. Mami sampai lupa. Iya hari ini ulang tahunmu, Ken." Rasti menengadahkan kepalanya, menatap wajah sang putra kesayangan.

__ADS_1


"Iya, Mam. Aku saja tidak ingat," jawab Kenan tersenyum.


Semakin lengkap kebahagiaan Kenan. Kesibukannya menemani sang istri, melupakan hari lahirnya sendiri. Lagi pula sejak dulu, Kenan memang tidak pernah peduli dengan itu. Jika tidak diingatkan sang adik atau sang ibu, dan mantan kekasihnya dulu, ia tidak pernah ingat hari lahirnya sendiri, tapi dalam pekerjaan ia tak pernah lupa.


Kemudian, mereka pun beralih ke ruang perawatan Hanin. Ruang perawatan super ekslusif yang sudah Kenan siapkan untuk istri tercinta.


Rasti sudah tak sabar untuk menggendong cucu lelakinya. Senyum itu terus mengembang di sudut bibir Rasti. Namun, sesekali senyum itu memudar tatkala ia ingat karena sempat membuat Hanin tertekan untuk permintaannya itu.


"Hanin." Rasti langsung menghamburkan pelukan ke arah menantunya yang baik ini, setelah Kenan membuka pintu ruangan itu.


"Mami."


"Mami tidak tahu harus berkata apa." Rasti terisak. "Selamat ya, Nak."


"Ini semua berkat doa, Mami," jawab Hanin menerima pelukan erat dari sang ibu mertua.


"Terima kasih, Sayang," ucap Rasti lagi.


"Wah anak lu ganteng banget, Ken." celetuk Vicky saat melihat putra Kenan yang belum terpikir oleh sang ayah untuk diberi nama apa? karena dari awal Kenan hanya mempersiapkan nama anak perempuan.


"Iya lah, secara bibitnya aja ganteng," sahur Kenan jumawa.


"Sombong." kesal Vicky, kemudian Kenan tertawa.


Vicky hendak menggendong bayi laki-laki tampan itu. Namun Kenan langsung menepak tangannya.


"Jangan digendong! Badan lu bau, dari semalem belum mandi," kata Kenan.


"Plis deh, Ken. Bisa ngga sih jadi orang ngga nyebelin." Kali ini Vicky benar-benar kesal.


"Emang, Dia itu makhluk paling nyebelin," sahut Hanin.


"Tapi cinta kan?" Kenan menghampiri sang istri dan duduk di samping tempat Hanin berbaring.


Ia duduk sembari merangkulkan tangannya pada kepala sang istri. Sementara Rasti menghampiri cucunya dan hendak menggendong.


"Bukan cinta lagi, tapi cinta buaanget," kata Hanin dengan menatap sang suami.


"Ish amit-amit." Vicky tambah kesal.

__ADS_1


Pasalnya Kenan dan Hanin memang sengaja membuat cemburu pria jomblo itu.


Rasti hanya tertawa melihat kelakuan anak muda itu, sembari memandangi wajah cucunya yang tampan persis seperti Kenan kecil.


__ADS_2