
Wanita yang berdiri di depan Gunawan, langsung pergi berlari keluar. Ia meninggalkan Gunawan yang masih berdiri mematung di sana. Belum sempat Gun menyapa wanita itu, tapi wanita itu sudah pergi. Gunawan melihat beberapa belanjaan yang terjatuh dan akan ia berikan pada wanita itu.
Gunawan masih sangat ingat wanita itu. Ia hafal benar raut wajah wanita polos yang pernah ia mesumi dan menjadi korban kebrengs*kannya. Namun, hal itu sudah empat belas tahun berlalu. Mereka hilang kontak karena Gunawan berkuliah di kota lain. Sibuk dengan aktifitasnya sendiri, membuat Gunawan melupakan wanita itu hingga wanita itu menghilang tanpa jejak dan baru kali ini, mereka dipertemukan lagi.
“Kiara.” Gunawan baru mengingat keberadaan istrinya.
Gunawan mencari ke seluruh penjuru yang ada di dalam toko itu. Namun, Kiara tak juga ditemukan. Ia pun bertanya pada kasir.
“Oh, sepertinya ibu yang memakai dres pink itu sudah keluar dari sini sejak tadi, Pak,” jawab si kasir.
“Terima kasih.” Gunawan langsung pergi dari toko itu menuju supermarket yang terletak di lantai dasar.
Di dalam supermarket, Kiara mendorong troli sendiri dengan langkah kaki yang pelan. Ia mengambil barang-barang yang dibutuhkan. Terdengar suara panggilan telepon dari ponsel yang ia taruh di dalam tasnya. Namun, ia mengabaikan panggilan itu, kebetulan panggilan itu memang bersuara sangat pelan, sehingga Kiara pun tak menyadarinya.
Ya, Gunawan berulang kali menelepon sang istri untuk mengetahui keberadaannya. Gunawan belum menghubungkan GPS dari ponsel Kiara ke ponselnya. Seperti, nanti hal itu akan ia lakukan, agar ia selalu tahu dimana Kiara berada.
Gunawan menelusuri setiap lorong di supermarket itu. Namun, ia masih tak menemukan Kiara.
“Shit.” Gunawan meremas rambutnya. Ia sungguh bodoh, meninggalkan istrinya sendirian dan malah terlena oleh sosok wanita di masa lalunya itu.
“Di mana kamu, Ra?” tanya Gunawan pada dirinya sendiri sembari terus menghubungi nomor telepon Kiara.
Kiara mengambil barang yang terdisplay di paling bawah. Ia pun harus berjongkok untuk mengambil benda itu. Ia berjongkok cukup lama, karena tengah memilih dan melihat komposisi yang etrcantum pada kemasan itu. Kemudian, Kiara berdiri kembali. Saat Kiara berdiri, Gunawan baru menangkap sosok wanita yang ia cari. Ia pun segera berlari ke arah Kiara. Namun, Kiara yang tak melihat Gunawan berlari menghampirinya, malah kembali berjalan menjauh.
“Ra,” panggil Gunawan.
Kaki Kiara terhenti dan menoleh ke belakang.
“Ya ampun, Ra. Kamu kemana aja sih? Aku dari tadi nyariin kamu.” Nafas Gunawan sedikit tersengal-sengal.
Kiara dengan santai kembali berjalan dan mendorong troli itu tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
“Sini! aku yang dorong.” Gun mengambil alih troli itu dan mendorongnya.
“Kenapa langsung kesini sendiri? Keluar dari toko itu ga bilang-bilang. Aku nyariin kamu kaya orang gula,” sungut Gun, tapi Kiara malah asyik memilih barang yang ia lewati tanpa berniat menjawab pertanyaan itu.
Gunawan kesal dan menarik tangan Kiara yang terus berjalan. “Aku lagi tanya sama kamu, Ra?”
Kiara menoleh dan menatap mata suaminya.
__ADS_1
“Aku kan tadi udah bilang kalau aku bisa belanja sendiri. Lagi pula aku lihat, kamu bertemu teman kamu di toko tadi, jadi aku ga mau ganggu dan memilih kesini sendiri,” jawab Kiara dengan nada lembut.
Ia menjelaskan dengan tenang dan biasa saja, seolah ia tidak masalah dengan apa yang Gunawan lakukan. Bahkan jika sang suami bercinta dengan wanita lain di depan matanya pun, mungkin ia akan biasa dan tetap tenang, karena hati Kiara masih beku. Ia tetap akan menjadikan hatinya beku agar tidak merasa sakit lagi.
Berbeda dengan Gunawan, justru sikap Kiara yang seperti ini membuat ia tak lagi berarti. Hatinya seperti tercubit. Ia tak lagi menjadi idola sang istri. sungguh menyesakkan.
“Oh, iya. Kamu bukannya mau cari dasi?" tanya Kiara untuk mencairkan suasana dan menegaskan bahwa dirinya baik-baik saja.
Kini Gunawan yang terdiam. Ia hanya mengikuti langkah kaki Kiara dari belakang.
“Mas,” panggil Kiara.
“Hai.” Kiara melambaikan tangannya di depan wajah Gunawan. “Kamu bengong?”
“Hmm ...” Gunawan tersadar dan melihat senyum Kiara.
Lagi-lagi hatinya kembali tercubit melihat senyum itu. Tidak ada marah atau kecemburuan dari Kiara lagi.
“Apa?” Gunawan balik bertanya.
“Tadi kamu bilang ingin mencari dasi. Ada di lantai tiga. Kamu cari gih, sana! aku masih lama di sini. Masih banyak yang harus aku beli. Nanti kamu telat nalik ke kantor lagi.”
Gunawan kembali menggeleng. “Beli dasinya kapan-kapan aja. Aku ingin menemanimu di sini.”
****
Setelah menemani Kiara belanja dan mengantarnya lagi ke rumah Rasti, Gunawan kembali ke kantor. Ia sudah beberapa kali di sms oleh sekretarisnya untuk mengingatkan bahwa pertemuan dengan investor dari Australia itu tidak boleh terlambat.
Gunawan sampai di kantor pukul dua kurang lima belas menit, masih ada waktu lima belas menit untuk mempersiapkan diri. Ia langsung menuju ruangan dan meminta beberapa data dari sekeretarisnya.
“La, Mr. Dave sudah datang?” tanya Gunawan dari telepon yang menyambungkan ke ruang sang sekretaris.
“Sudah, Pak. Beliau sudah ada di lobby.”
“Oke, langsung antar ke ruangan saya.”
“Baik, Pak.”
Sekretaris Gunawan yang bernama Lala itu pun langsung berdiri dan berjalan menuju lift untuk menyambut kedatangan investor itu.
__ADS_1
Lima menit kemudian, lift itu terbuka dan sudah ada ketiga pria berdiri di sana. Dua pria gagah yang merupakan bos dan asisten dari Australia dan satu pria paruh baya yang merupakan manager pemasaran.
“Welcome Mr. Dave,” ucap Lala menyambut tamunya.
Dave dan assistennya pun mengangguk.
“Mari saya antar ke ruangan Pak Gun,” kata Lala lagi.
“Oke.” Dave dan assistennya mengikuti langkah Lala.
Tok .. Tok ...
Lala mengetuk dua kali pintu ruangan Gunawan dan membuka pintu itu.
“Halo Mr. Dave.” Gunawan langsung menyambut tamunya itu.
Mereka berjabat tangan.
“Anda, Gunawan? Pemilik Murni Furniture?” tanya asisten Dave yang bernama Russel.
“Ya, saya pemiliknya, saya juga memiliki ratusan gerai di beberapa kota besar.”
Lalu, Gunawan mengajak kedua tamunya itu untuk duduk.
“Anda bisa berbahasa Indonesia?” Gunawan terkejut karena asisten yang berambut pirang itu fasih menggunakan bahasanya.
“Tentu saja, kami sering ke sini. lagi pula Mr. Dave berinvestor di beberapa perusahaan di sini.”
“Oh. Mr. Dave juga fasih berbahasa Indoensia?” tanya Gunawan lagi.
“Tentu saja. Tunangan saya pun orang Indonesia. Bulan depan kami akan menikah,” jawab Dave.
“Wah, selamat.” Gunawan tersenyum dan mengangguk.
“Saya memang ingin menginvestasikan dana saya di bidang ini, karena saya suka dengan ukiran-ukiran furniture yang anda hasilkan.”
“Oh ya?”
“Ya, Kenan memberitahu hasil furniture buatan anda.”
__ADS_1
Gunawan terdiam.
Lagi-lagi, Kenan yang menyelamatkan perusahaannya. Mungkin memang sudah saatnya, ia mengubur dendam itu dan memulai hidup dari awal. Melupakan apa yang pernah ‘K’ bersaudara itu lakukan pada dirinya. Ia pun lelah harus bermusuhan dengan Kenan dan menyakiti Kiara. Ia ingin hidup tenang, seperti Hanin yang menerima takdirnya menjadi istri Kenan. Mantan kekasih yang ia cintai dulu bisa menerima Kenan dan menjadi istri yang baik. Ia pun bertekad akan menjadi suami dan ayah yang baik.