Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Membuat film sendiri


__ADS_3

“Mam, Kenan dan Hanin berangkat,” ucap Kenan menghampiri Rasti yang sedang duduk bersila di teras taman.


Setiap jam enam pagi, Rasti memang tidak pernah meninggalkan aktifitasnya untuk melakukan yoga, karena dengan olahraga ini pikiran dan raganya menjadi relaks.


Rasti membuka mata. “Loh, Mami kira kamu pergi sendiri.”


Kenan menggeleng. “Tidak bisa, Mam.” Ia menunjukkan jejeran giginya yang rapih. “Ken, tidak bisa jauh dari Hanin. Nanti tidak ada yang bisa diajak bergulat.”


Rasti tertawa. “Dasar nakal.” Ia mencubit ujung hidung putranya.


Entah sejak kapan putranya ini menjadi pria mesum. Padahal sebelum mengenal wanita yang menjadi istrinya itu, Kenan tidak pernah menunjukkan gelagat kemesumannya.


“Mam, Hanin ikut Mas Ken.” Hanin ikut duduk di lantai tepat di samping Rasti yang masih bersila di atas matras.


“Ya, istri yang baik memang harus menemani kemana pun suaminya pergi,” ucap Rasti menasehati.


Hanin mengangguk dan tersenyum. “Nanti, siapa yang menemani Mami di sini?”


Rasti tersenyum dan mengangkat tangannya untuk menangkup pipi Hanin. “Ada Kiara, nanti Mami meminta Kiara untuk menginap disini sampai kalian pulang.”


“Itu ide bagus,” jawab Kenan dan mengecup pipi ibunya.


“Terima kasih, Mam.” Hanin pun melakukan hal yang sama seperti suaminya pada Rasti.


“Hati-hati dan bersenang-senanglah kalian di sana.” Rasti tersenyum. Sungguh ia sangat senang melihat putranya bahagia.


“Oke, Mam. Oiya salam untuk Kiara, tadi Hanin ingin pamit tapi pas melewati kamar mereka, sepertinya mereka masih tidur,” ucap Hanin.


Rasti mengangguk.


“Sampaikan salam Kenan untuk Kiara dan Gunawan,” sambung Kenan.


Rasti menahan tangan Kenan. “Ken, bersikaplah seperti biasa pada Gun. Seperti dulu saat kalian masih berteman dekat. Mulailah semua dari awal. Gun juga korban dari skandal itu.”


Kenan menarik nafasnya. “Tergantung, Mam. Tergantung bagaimana Gun bisa memperlakukan Kiara. Jika dia memperlakukan adik kesayanganku dengan baik. Ken pun akan melakukan yang sama.”


Rasti terdiam. Ia tersenyum melihat Kenan dan Kiara yabg saling menyayangi. Namun, entah mengapa dari lubuk hatinya mengatakan Gunawan adalah pria baik, hanya saja memang keadaan yang membuatnya seperti ini.


Rasti berusaha bijaksana dalam menyikapi permasalahan putra putrinya.


****


Kenan dan Hanin sudah berada di dalam mobil. Syamsudin membawa tuan muda dan istrinya menuju bandara. Kenan memang sudah mempersiapkan jet pribadi untuk keberangkatan hari ini. Tadinya, ia sudah menyiapkan beberapa film yang akan ia tonton untuk mengusir kejenuhannya selama berada di dalam pesawat itu sendiri. Namun, karena saat ini ia pergi bersama sang istri, seperti ia justru akan membuat film sendiri. Hihihihi.....


“Kita naik pesawat yang mana?” tanya Hanin saat mereka sudah berada di lapangan terbuka.

__ADS_1


“Itu.” Kenan menunjuk pesawat jet yang ukurannya tidak sebesar pesawat komersil.


“Ini pesawat milikmu?” tanya Hanin lagi.


Kenan mengangguk.


“Kamu benar-benar milioner, Ken?”


Kenan mengeryitkan dahi. “Kamu tidak tahu seberapa banyak aset yang kumiliki.”


Hanin menggeleng kepalanya pelan. “Tidak.”


Kenan tertawa. “Tidak pernah berusaha mencari tahu?”


Hanin kembali menggeleng. “Tidak.”


“Kenapa?” tanya Kenan lagi.


“Karena bagiku kebahagiaan tidak melulu diukur dari materi. Di sayang, dicintai, dan diberi kesempatan berkumpul dengan orang-orang yang kita sayangi adalah suatu kebahagiaan yang cukup untukku.”


Kenan terharu. Ia tersenyum lebar dan menangkap tubuh Hanin dan digendong seperti koala. Hanin pun langsung melingkarakn kedua kakinya pada pinggang sang suami.


“Aku makin cinta padamu.” Kenan menyatukan keningnya pada kening Hanin.


“Aku tidak pernah berkhayal mendapat suami sekaya kamu,” ucap Hanin setelah mendudukkan diri di tempat duduk pesawat yang super empuk itu.


Perlahan pesawat yang mereka tumpangi berada di ketinggian kurang lebih tiga ribu dua ratus kaki. Pesawat itu sudah mulai berjalan aman di posisinya. Kenan berdiri menuangkan jus segar yang ada di sebuah botol di sertai es batu yang tersedia di sana. Ia menuangkan untuk dua gelas.


“Ini untukmu, Sayang.” Kenan memberikan satu gelas untuk Hanin.


Mereka duduk berdampingan. Arah mata Hanin masih tertuju pada kaca jendela, yang menyuguhkan pemandangan awan terang dan langit yang cerah, karena kebetulan matahari baru saja menampakkan dirinya dengan sempurna, menyinari bumi dengan indahnya.


“Terima kasih.” Hanin menerima gelas dari tangan sang suami.


“Aku juga tidak pernah membayangkan akan jatuh cinta dan tergila-gila pada wanita,” jawab Kenan, menanggapi perkataan Hanin tadi.


Hanin menelan air jus yang ada dimulutnya itu dengan segera, mendengar perkataan Kenan yang menyatakan ia tergila-gila padanya.


“Kamu tergila-gila padaku?” tanya Hanin tak percaya dengan menunjuk dirinya yang sepertinya biasa saja.


Kenan tersenyum dan mengangguk, sembari meminum jus miliknya.


“Kenapa?” tanya Hanin lagi, masih penasaran mengapa seorang Kenan Aditama bisa tergila-gila padanya.


“Hmm ... entahlah, karena baumu mungkin,” ledek Kenan tersenyum.

__ADS_1


“Ken ....” teriak Hanin merengek manja.


“Ken Ken jelek. Menyebalkan.” Hanin memukul lengan Kenan bertubi-tubi, hingga Kenan meringis dan berusaha menghindari pukulan itu.


Kenan tertawa. Ia memang menyukai bau tubuh sang istri. Namun, bukan bau dalam kata arti sebenarnya melainkan bau khas tubuh sang istri yang menurutnya memiliki wangi yang berbeda dengan wanita lain.


“Bau tapi nempel terus,” sungut Hanin dengan menggeser tubuhnya untuk membelakangi Kenan dan melihat ke arah jendela.


Kenan masih tertawa dan menempelkan tubuhnya untuk memeluk istrinya dari belakang.


“Tapi aku suka baumu. Baumu berbeda dengan wanita lain.”


Hanin mengeryitkan dahi dan menoleh ke arah Kenan. “Jadi, seperapa banyak kamu sering mengendus bau wanita?”


“Hmm ...” Kenan pura-pura berpikir, padahal ia tak pernah dekat dengan wanita manapun selain Vanesa. “Berapa ya? Sepertinya tidak bisa dihitung dengan jari.”


“Ken ....” teriak lagi Hanin. Sungguh, Kenan benar-benar membuatnya kesal.


Hanin langsung berdiri dan hendak meninggalkan Kenan. Kenan pun dengan sigap menangkap tangan istrinya.


“Mau kemana?” tanya Kenan.


“Tau ah, nyebelin. Mending istirahat di kamar aja.” Hanin berusaha melepas tangan Kenan yang menggenggam tangannya.


“Kalau begitu aku ikut.”


“Ngapain?” tanya Hanin.


“Kamu mau ngapain ke kamar?” Kenan balik bertanya.


“Nonton drakor.”


“Kalau gitu, aku nonton kamu.”


“Ish, apa sih. Ga jelas.” Hanin kembali berjalan menuju kamar.


Di dalam kamar, Kenan langsung menutup pintu dan menguncinya. Ia membuka semua pakaian dan hanya menyisakan boxernya saja.


“Kamu ngapain?” tanya Hanin menyipitkan mata.


“Dari pada nonton film, mending kita bikin film sendiri.” Kenan menaik turunkan alisnya. “Bagaimana?”


“Ken Ken jelek .... Nyebelin ... Mesum,” teriak Hanin, membuat Kenan tertawa terbahak-bahak dan langsung menindih tubuh sang istri.


Hanin mengerutkan bibir, sambil menggerutu, membuat Kenan tak henti tertawa dan mengulas senyum. Memang, sang istri harus dibawa kemana pun ia pergi, karena dengan kehadirannya, hari-hari Kenan selalu bahagia.

__ADS_1


__ADS_2