
Kenan menyelesaikan urusannya di kantor. Ia pun menyelesaikan sedikit kejutan untuk sang istri besok, karena sepertinya ia akan meninggalkan Hanin selama dua hari di sini dan pulang ke Jakarta untuk menemui sang ibu. Setelah, keadaan kondusif, ia akan memboyong sang istri ke Jakarta, karena ia pasti tak akan bisa melewati malam sendirian lagi, ia sudah candu dengan tubuh sang istri yang selalu menjadi teman tidurnya selama sepuluh hari terakhir.
Setelah menyelesaikan urusannya. Ia bergegas kembali ke apartemen. Ia sengaja tidak mengabari Hanin, jika hari ini ia pulang lebih cepat. Di tengah perjalanan, ia menangkap pandangan sebuah toko bunga di pinggir jalan. Ia pun menghentikan mobilnya dan keluar. Langkah kakinya berjalan menuju toko bunga itu. Ia membeli satu puket bunga mawar yang cukup besar.
“Terima kasih.” Kenan menerima satu puket bunga yang ia tunjuk tadi dan menerima uang kembalian, setelah selesai bertransaksi.
Kenan tersenyum, sembari mencium aroma wangi bunga itu. ia bisa membayangkan ekspresi wajah sang istri ketika di beri bunga ini, pasti sangat menggemaskan, pikirnya.
“Ah.” Kenan menatap ke bawah celananya yang lagi-lagi mengembang ketika membayangkan wajah sexy sang istri dan ia pu tersenyum. Lalu, kembali melajukan mobilnya.
Kenan tidak menyadari bahwa di belakang mobilnya, tengah ada seseorang yang mengikuti. Seseorang itu adalah orang suruhan James, yang penasaran akan wanita yang sudah di nikahi putra Kean. Ia penasaran wujud seperti apa wanita yang bisa membuat seorang Kenan jatuh cinta.
Kenan memberhentikan mobilnya tepat di pintu lobby dan menyerahkan kunci mobil itu pada petugas yang akan memarkirkan mobilnya ke basement. Petugas yang memang sudah Kenan percaya di banding petugas yang lain.
Orang suruhan James pun kehilangan jejak Kenan, karena ia haruss memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Sementara Kenan sudah masuk ke dalam dan hilang dari pandangannya. Kenan tidak bodoh, ia sengaja membeli apartemen ini atas nama Vely, adik perempuan Vicky yang masih kuliah di Australia. Semula, ia melakukan ini hanya ingin memiliki privasi dengan merehatkan sejenak pikiran dan raga tanpa gangguan dari siapapun termasuk Vanesa yang saat itu masih berstatus pacar sekaligus tunangannya.
Orang suruhan James, menanyakan pada resepsionis keberadaan flat yang Kenan gunakan. Namun, ia tak berhasil mendapatkan nomor flat dan lantai berapa apartemen Kenan. Orang suruhan James itu sudah menyebut semua nama keluarga Aditama, tapi tidak ada, karena memang kepemilikan apartemen itu bukanlah dari nama keluarga Aditama.
“Ah, si*l. Pria itu benar-benar licik,” gumam orang suruhan James, karena tak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sementara dari balik tembok, Kenan menyaksikan seoang pria yang tengah putus asa dan meninggalkan apartemen ini dengan lesu. Ya, Kenan menyadari bahwa dirinya tengah dibuntui. Oleh karena itu, ia segera bertindak cepat.
Kenan tersenyum menyeringai, saat meihat punggung pria tak di kenal itu benar-benar pergi. Lalu, Kenan menaiki lift dan dengan tidak sabar ingin bertemu sang istri. Sesampainya di flat yang cukup mewah itu. Ia menekan passcode, lalu masuk. Di sana, ia melihat sosok sang istri tengah berada di dapur.
Hanin sedang serius membuat kue. Pantas saja, tadi pagi ia pesan pada Kenan untuk menyuruh orang membeli beberapa bahan makanan dan mengirimnya ke apartemen ini.
Kenan tersenyum melihat pemandangan indah di depannya itu. Bagaimana tidak indah? Pasalnya Hanin saat ini benar-benar terlihat sexy. Ia hanya menggunakan bra kemben dan celana super pendek yang hanya menutupi b*k*ngnya saja. Rambut Hanin pun di gelung ke atas. Sungguh, istrinya benar-benar sexy. Apalagi, saat ini Kenan tengah berada di belakang Hanin yang sedang bergoyang karena alunan musik Maroon 5.
Kenan langsung memeluk Hanin dari belakang dan mencium bahunya. “Kamu sexy sekali, Sayang.”
Hanin pun terdiam dan merasakan sentuhan sang suami, karena bibir Kenan beralih pada leher jenjang Hanin dan menggigitnya kecil.
“Hmm ...” Hanin menggigit bibir bawahnya, karena sensasi sentuhan itu begitu terasa hingga darah Hanin mengalir lebih cepat.
“Kamu pulang lebih cepat.”
“Hmm .... karena kamu selalu membuatku rindu ingin segera pulang,”
Hanin tersenyum.
“Sexy,” ucap Kenan dengan suara berat. Gairah Kenan kembali naik.
“Bukankah semua pakaian yang di sediakan untukku seperti ini? Tidak ada pilihan," jawab Hanin lesu.
Kenan memang menyediakan Hanin pakaian-pakaian yang sexy. Entah itu lingeri, celana-celana super pendek, tangtop, bra kemben atau yang bertali spageti. Kenan juga menyediakan dres, tapi dres itu pun dres yang sangat menunjukkan lekuk tubuhnya, sangat pendek, dan dengan satu tali di bagian bahu.
Kenan membalikkan tubuh sang istri dan tersenyum. Ia mnyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Hanin. “Tapi kenapa kalau aku pulang kerja, kamu tidak pernah memakai ini?”
Hanin memang selalu memakai kaos Kenan yang longgar, saat sang suami pulang. Ia masih malu jika memakai pakaian kurang bahan ini di hadapan suaminya.
“Aku masih malu.” Wajah Hanin tertunduk malu.
Lalu, Kenan mengangkat dagu Hanin agar mereka saling bertatapan. “Mengapa malu, aku sering melihatmu tanpa menggunakan apapun.”
“Ken.” Hanin mencubit pinggang suaminya, hingga Kenan pun tertawa.
Tring
Kemesuman Kenan terhenti saat microwave yang tengah memanggang kue yang Hanin buat berbunyi.
“Kueku matang.” Mata Hanin berbinar dan menghampiri alat elektronik itu.
“Kamu buat apa?” tanya Kenan yang kembali melingkarkan kedua tangannya di perut Hanin. Dagunya pun menempel pada bahu Hanin.
Pria dingin, galak, angkuh dan sombong itu seolah menjadi singa jinak saat ini, malah terkesan manja sambil bergelayut di belakang tubuh sang istri.
“Aku buat fudgy banana brownies. Hmm ...” Hanin mencium aroma kue yang ia keluarkan dari microwave itu.
__ADS_1
“Hmm ...” Kenan pun ikut mencium kue buatan Hanin. “Sepertinya lezat.”
“Iya dong, kalau kamu jago buat pasta. Kalau aku jago buat kue,” ucap Hanin.
“Satu lagi,” sahut Kenan dengan menampilkan jari telunjuknya ke atas.
“Apa?”
“Jago buat aku ketagihan.”
“Apa sih, Ken. Omonganmu kesitu terus,” rengek Hanin sambil menghentakkan sikunya ke perut Kenan yang rata.
Kenan tertawa. Namun, pria itu tetap bergelayut di belakang Hanin, padahal Hanin sedang beraktifitas.
“Ken, berat," protes Hanin yang terus di gelayuti sang suami, karena ia masih membersihkan beberapa perlengkapan masak yang kotor setelah membuat kue tadi.
“Biarin.”
“Ken, mandi dulu sana.” Hanin mengibaskan bahunya dengan nada manja. Ia tak lagi bersikap galak seperti dulu.
“Aku ingin di sini menemanimu.” Tangan Kenan aktif memainkan dua benda kenyal di dada Hanin.
“Ken.” Hanin memperingatkan tangan Kenan yang nakal. Pasalnya, ia tak bisa menepis kedua tangan nakal itu karena kedua tangannya sendiri sedang berlumur busa.
Semakin di peringatkan, tangan Kenan semakin aktif untuk menyentuh tubuh itu, belum lagi bibir Kenan yang tak berhenti menelusuri leher jenjangnya dan menggigit belakang telinga Hanin.
“Ah, Ken.” Hanin semakin melenguh karena kini tangan Kenan aktif mempermainkan bagian sensitifnya.
“Aku ingin, Sayang. Aku sudah menahannya sejak di kantor.”
“Hmm ... tapi ta .. di ... pa ..gi kan sudah, Ah.” Suara Hanin terbata-bata, karena jari Kenan semakin aktif mengenai bagian sensitifnya, membuat Hanin tak kuasa menahan gejolak itu.
“Tetap, ingin lagi.” Kenan mengangkat kedua tangannya dan memegang kedua tangan Hanin untuk dibersihkan.
Keempat tangan itu terguyur di bawah guyuran air kran wastafel dan Kenan menggendong Hanin ala bridal. Lalu, membawa sang istri ke kamar. Is pun memulai aksinya. Semakin hari, sentuhan Kenan semakin lembut dan memabukkan, hingga Hanin terbiasa dan menyukai sentuhan itu.
Kenan tersenyum senang mendengar permintaan sang istri.
“Suka, Sayang?” tanya Kenan berbisik di telinga Hanin.
Hanin pun mengangguk dengan mata yang sayu dan wajah yang sexy. Kenan pun, semakin bersemangat dan menuntaskan hasrat itu hingga ia benar-benar puas. Namun, puas untuk sore ini. Malam nanti, mungkin ia akan melakukannya lagi.
Kenan ambruk di samping Hanin. kedua insan ini bernafas tersengal-sengal. Hanin menoleh ke arah Kenan, begitupun Kenan. Tangan Kenan terangkat untuk mengelus pipi Hanin.
“Terima kasih, Sayang.”
Hanin tersenyum. “Sama-sama.”
Setelah, nafas mereka teratur, Hanin beranjak ke kamar mandi. Ia membersihkan sisa percintaannya tadi. Sedangkan Kenan, memgambil boxernya dan keluar kamar. Ia melupakan satu puket bunga itu di meja mini bar. Karena terlalu terkesima melihat penampilan sexy Hanin yang berada di dapur tadi, Kenan meletakkan bunga itu asal dan lupa memberikan pada sang istri.
Hanin hanya membersihkan bagian sensitifnya dan melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar mandi itu. setelah ia membuka pintu kamar mandi, ia melihat satu puket bunga yang cukup besar tepat di hadapannya.
Hanin tersenyum lebar dan menutup mulutnya tak percaya. Ternyata, Kenan pria yang romantis.
“Apa ini?” tanya Hanin menerima puket bunga itu.
“Bunga.”
Hanin tersenyum. “Iya, ini bunga. Untukku?”
Kenan mengangguk. “Untuk istriku tercinta.” Senyumnya mengembang.
“Hmm ...” Sontak Hanin memeluk Kenan.
“Mengapa kamu jadi sweet seperti ini?” tanya Hanin dengan sedikit melonggarkan pelukannya dan menatap dekat wajah sang suami.
“Karena aku mencintaimu.”
__ADS_1
“Sejak kapan?” tanya Hanin lagi.
“Sejak kamu menjadi wanita yang menggoda suami adikku.”
“Ken.” Hanin memukul pelan dada suaminya.
Kenan tertawa. “Sungguh, aku menyukaimu sejak melihatmu pertama kali, saat kamu berdiri di zebra cross dan menyebrangi jalan, tepat di depan kantormu itu.”
Hanin mencoba mengingat. “Jadi kamu mengintaiku terus?”
“Bahkan aku memasang cctv di depan rumahmu.”
“Kenan.” Hanin terus memukul dada Kenan. “Mengapa kamu menyebalkan, menyebalkan.”
Kenan tertawa dan berusaha menahan pukulan sang istri yang sama sekali tidak terasa.
“Aww ... sakit, Sayang,” ucap Kenan berbohong. Ia pun berlari menghindari pukulan Hanin yang kian brutal.
“Awas, ya!” Hanin masih mengejar suaminya yang terus menghindar.
“Ampun, Sayang.” Kenan tertawa, sembari sengaja menghindar dari kejaran sang istri.
Lalu, Kenan sengaja menghampiri Hanin dan memeluknya. Mereka berdiri berpelukan persis di samping tempat tidur. Kemudian, Kenan sengaja menjatuhkan dirinya dan Hanin yang sedang berpelukan di atas tempat tidur itu.
Keduanya tertawa, seolah tidak ada beban dan seolah tidak ada yang akan terjadi nanti.
“Nyebelin.”
“Tapi cinta?” tanya Kenan.
Hanin pun mengangguk dan tersipu malu, membuat Kenan semakin memeluknya erat. Keduanya kembali tertawa bahagia.
“Sayang,” panggil Kenan.
“Hmm ...”
“Besok pagi, aku pulang ke jakarta.”
Hanin melepaskan pelukannya dan menatap lekat sang suami. “Lalu, aku?”
“Kamu tetap di sini dulu. Aku hanya dua hari. Aku ingin menjelaskan pernikahan kita pada Mami.”
“Aku tidak ikut?” tanya Hanin.
Kenan menggeleng. “Belum saatnya, Sayang.”
“Katamu, kita akan menyelesaikan ini bersama," ucap Hanin lirih.
“Iya, tapi tidak sekarang. Saat ini biar aku dulu yang menemui Mami dan menjelaskannya.” Kenan mengusap lembut wajah sang istri. “Doakan aku, semoga urusanku besok dipermudah.”
Hanin mengangguk. “Aku selalu mendoakanmu dan aku akan menunggumu di sini.”
Kenan tersenyum, lalu mengecup punggung tangan Hanin yang juga sedang mengusap lembut wajah sang suami.
“Kapan kamu kembali?” tanya Hanin.
“Lusa.”
“Cepat sekali. Kamu hanya satu malam di sana?” tanya Hanin lagi.
“Satu malam saja, pasti seperti satu tahun bagiku, Sayang.”
“Haish... gombal.” Hanin tertawa.
Kenan pun ikut tertawa dan kembali merengkuh tubuh sang istri. “Selama aku pergi, kamu tidak akan sendirian disini. Aku sudah menyiapkan orang untuk menemanimu.”
Hanin menatap kedua bola mata Kenan yang mengisyaratkan banyak rencana. Lalu, ia pun tersenyum.
__ADS_1