Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
melepaskan semua penat


__ADS_3

Di apartemen, Kenan masih memeluk tubuh sang istri dengan erat, jutru semakin erat ketika Hanin sudah terbangun lebih dulu dan hendak memindahkan tangan suaminya dari tubuhnya.


“Istirahatlah lagi, masih pagi,” gumam Kenan yang terdengar jelas oleh Hanin.


“By, aku janji sama Kiara akan datang pagi.”


“Sebentar lagi.” Kenan menempelkan tubuh pada b*k*ng sintal sang istri.


Hanin dapat merasakan sesuatu di bawah tubuhnya yang menempel pada tubuh sang suami. Ia menoleh ke belakang dan melihat wajah suaminya.


“Matanya masih merem, tapi rudalnya udah bangun aja.”


Kenan tersenyum, padahal matanya masih terpejam. Lalu perlahan ia membuka mata dan kembali memeluk erat sang istri.


“Sudah beberapa hari kita tidak melakukannya.”


Hanin ikut tersenyum. “Nanti semakin telat datang ke rumah Mami.”


“Tidak apa.”


Kenan menindih tubuh Hanin. Ia mengecup seuruh wajah wanita yang sangat ia cintai itu.


“Maaf, Sayang. Maaf, jika sikapku akhir-akhir ini membuatmu sedih,” ucap Kenan lirih.


Hanin tersenyum dan mengangguk. Sejenak, ia melupakan segala hal yang terkadang mengusik pikirannya itu.


Kenan kembali melakukan aksinya. Ia mulai mencumbu tubuh itu, mmeberi tanda merah di beberapa bagian yang ia sukai, juga menggigit kuat p*ting Hanin, hingga yang punya pun meringis.


“Aww.. sakit, By. Pelan-pelan!”


“Maaf, Sayang. Aku gregetan.”


Kemudian, Kenan memberi sentuhan yang tidak bisa Hanin tolak. Kenan memang benar-benar lihai membuat Hanin terbuai. Pria itu memainkan bagian sensitif Hanin dengan bibir dan lidahnya, hingga Hanin merasakan pelepasan pertama.


“Aaah ...” Hanin melonglong panjang seraya menggeliat melekukkan tubuhnya karena sensasi hebat itu.


Kenan tersenyum senang saat melihat ekspresi sexy sang istri. “Aku mulai, Sayang.”


Hanin menganggukkan kepalanya. Lalu, Kenan pun mulai menyatukan miliknya pada milik sang istri yang terasa semakin ketat.


“By, jangan lama-lama! Nanti kita terlambat ke rumah Mami.”


“Tidak bisa janji, Sayang,” jawab Kenan yang masih semangat berada di atas tubuh Hanin.


****


Kenan tampak gagah mengenakan kemeja koko berwarna pink. Begtu pun dengan Hanin, yang tampak sangat cantik mengenakan gamis kaftan peyet berwarna sama dengan koko yang Kenan kenakan. Hanin semakin terlihat segar dengan make up yang tidak terlalu tebal dengan warna pink natural pada bibir dan perona pipinya.


Kenan dan Hanin sampai di rumah utama keluarga Kenan. Di sana sudah terlihat ramai. Banyak juga kerabat Gunawan yang datang dari Solo.


“Assalamualaikum.”


Kenan dan Hanin menyapa semua orang yang ada di dalam sana.


“Ya ampun, kalian baru datang,” ucap Rasti.


Tangan Kenan yang tidak pernah lepas dari pinggang Hanin pun, melangkah mendekati para tamu yang sudah datang.


‘Hai, Ken,” sapa salah satu sepupu Gunawan yang memang Kenan kenali.


“Hei, apa kabar?” tanya Kenan berbasa-basi.


“Baik. Ini istri lu?” tanya pria yang usianya sama seperti Kenan.


Kenan mengangguk dan Hanin tersenyum.

__ADS_1


Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Hanin. “Ternyata, wanita seperti ini yang Kenan cintai. Soalnya sejak SMA, dia tidak pernah dekat dengan perempuan loh.”


Hanin tertawa.


"Terus, cerita aja semua kejelekan gue waktu SMA," ucap Kenan kesal pada pria itu.


Pria itu pun tertawa. Begitu juga Hanin, yang memang tahu seperti apa suaminya dulu, karena Kenan sering bercerita tentang dirinya.


Di dalam sana, Misya sudah datang lebih dulu, membantu Rasti dan Kiara. Ternyata, Misya adalah salah satu anggota sosialita yang baru bergabung dengan Rasti. Rasti yang memang sangat mengenal Misya pun tidak butuh waktu lama untuk akrab.


“Om Kenan,” teriak Marcel.


Anak lelaki itu berlari riang ke arah Kenan.


“Hai.” Kenan terlihat sumringah saat mengetahui anak itu ada di rumah ini.


Kenan membentangkan tangannya untuk menerima pelukan Marcel.


“Kamu di sini?” tanya Kenan.


“Ya, Mamiku dengan Mamimu berteman dekat.”


“Oh ya?” tanya Kenan mengeyitkan dahi dengan senyum.


Berbicara dengan Marcel seperti berbicara dengan teman. Anak ini terlalu dewasa dengan usianya yang baru akan genap dua belas tahun.


“Siapa, By?’ tanya Hanin.


“Ini dia, putra temanku, yang pernah kamu lihat di restoran donat itu,” jawab Kenan, memperkenalkan Marcel pada Hanin.


“Namanya Marcel,” ucap Kenan pada Hanin.


“Ini istrimu?” tanya Marcel.


“Ya, cantik bukan.”


Kenan tertawa. “Ya ... ya.”


Kenan ingat bahwa ia pernah berkata yang sama, saat dikenalkan oleh kerabat ayahnya yang membanggakan istrinya.


“Siapa yang lebih cantik? Aku?” suara Misya terdengar dan langsung ikut bergabung bersama Kenan, Hanin, dan putranya.


Kenan kembali tertawa. Sedangkan, Hanin hanya tersenyum kecut. Ia kaget mendengar suaminya berkata bahwa wanita lain lebih cantik dari dirinya. Padahal Kenan melakukan itu hanya karena malas berdebat dengan Marcel yang memang pintar bicara.


“Benar, Ken. Misya semakin cantik ya,” celetuk Rasti yang berjalan mendekati putranya.


Kenan mengangguk.


Rasti menggelayut di pundak Kenan. “Mami mengundang Misya, karena Marcel sangat mengidolakanmu dan anak itu ingin bertemu denganmu, Ken.”


“Misya, ini istriku, Hanin.”


Kenan memperkenalkan Misya pada Hanin.


Misya langsung tersenyum ke arah Hanin. Wanita yang sedari tadi di gandeng Kenan itu memang cantik. Ia pun terlihat lebih muda. Namun, gandengan itu terlepas, sejak Kenan membentangkan tangannya untuk Marcel.


“Hanin.”


“Misya.”


“Ken, Misya sekarang menetap di Jakarta. Dia sekarang yang pegang perusahaan Excel,” ucap Rasti.


Kenan mengangguk. Ia menanggapi perbincangan sang ibu yang selalu membanggakan Misya dan putranya.


“Beruntung Excel, mendapatkan anak laki-laki yang pintar seperti Marcel,” ucap Rasti lagi dan Kenan pun mengangguk.

__ADS_1


Kenan, Rasti, dan Misya saling berbincang dengan perbincangan yang tidak dimengerti Hanin. tak lama kemudian, Hanin pun menginterupsi.


“Maaf, saya tinggal dulu. Saya belum ketemu kiara,” ucap Hanin yang meninggalkan Kenan, Rasti, juga Misya.


Hanin berjalan mendekati Kiara. Namun, di sana Kiara sedang berbincang bersama Gunawan dan keluarganya.


Kemudian, Hanin mengurungkan niatnya. Ia lebih memilih ke taman belakang. Ia duduk sendiri di taman itu sembari melihat bunga-bunga yang sedang mekar.


“Hei, ngapain sendirian?” tanya Vicky mengagetkan Hanin.


“Hei, Vick. Lama tidak melihatmu. Aku kira kau tidak datang.”


“Kenapa harus tidak datang?” tanya Vicky.


“Kamu memang pria hebat, Vick.” Hanin tertawa dan menepuk dada Vicky.


“Tentu, aku kan bagian dari tim Marvel yang superhero itu. manusia-manusia kuat.”


Hanin kembali tertawa, kali ini tawanya terlihat lepas, hingga menampilkan jejeran giginya yang rapih dan putih.


“Udah kaya judul lagu tau,” ujar Hanin.


Vicky pun ikut tertawa.


Dari kejauhan, Kenan melihat kebersamaan istrinya dengan sang asisten. Vicky memang tidak tampan seperti Kenan dan Gunawan. Namun, keasyikan gayanya dan sikapnya yang humoris, mampu membuat wanita terpesona.


“Asyik banget sih, sampe lupa kalau wanita hamil ini, ada suaminya,” ucap Kenan pada Vicky dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Hanin.


“Lagian lu tinggalin wanita cantik ini sendirian. Jadi gue manfaatin ‘kan?”


“Coba aja berani. Gue ga bakalan jadi saksi pernikahan lu sama cewek di Labuan Bajo itu,” ujar Kenan.


“Wes, jangan dong!”


“Labuan Bajo? Nikah? Kamu mau nikah Vick?” tanya Hanin senang.


“Semua orang juga mau nikah, Han.”


Lengan Hanin langsung di tarik oleh Kenan. “Ayo keluar! banyak orang yang ingin aku kenalkan ke kamu.”


Hanin pun meninggalkan Vicky, mengikuti langkah Kenan.


“Masih aja posesif lu, Ken. dasar Ken Ken Jelek,” teriak Vicky.


Kenan hanya menjulurkan lidahnya ke arah sahabat sekaligus asistennya itu.


Setengah jam, Hanin mengikuti langkah Kenan yang memperkenalkannya pada relasi keluarga Aditama. Walau ia tak mengerti dengan perbincangan Kenan pada relasinya itu. Namun, ia tetap terenyum.


“Ken, aku duduk ya? Pegel banget,” bisik Hanin dan Kenan pun mengangguk.


Hanin mengambil makanan dan duduk di tempat yang jauh dari ke ramaian. Ia memilih berada di dapur.


“Loh, kok Non Hanin di sini?” tanya si Bibi.


“Pegel, Bi. Laper juga,” jawab Hanin nyengir.


Tak terasa, Hanin cukup lama berada di dapur, ditemani oleh Lastri dan si Bibi. Rasti menggunakan Even organizer untuk keberlangsungan acara ini, sehingga pelayan rumah ini tidak banyak bekerja.


Lalu, Hanin kembali ke ruang utama. Ia melihat Kenan sedang asyik berbincang dengan Misya dan putranya. Di sana, tampak Rasti yang juga ikut bersama mereka. mereka terlihat akrab dan saling tertawa riang. Kemudian, ia pun melihat ke arah Vicky yang juga sedang berbincang dengan rekan bisnis Kenan. Lalu, arah matanya tertuju [ada Kiara dan Gunawan yang sumringah menyambut para tamu.


Hanin tersenyum. Ia bahagia melihat keluarga ini bahagia. Hanin melangkahkan kakinya ke atas, meninggalkan hiruk pikuk acara ini. Selain lelah, sebenarnya ia pun tak suka keramaian.


Gunawan melirik sekilas ke arah Hanin yang dengan pelan menaiki tangga. Lalu, ia kembali berfokus menerima tamu sembari menggendong Kayla. Ia tersenyum sumringah kala para tamu menggoda kecantikan putrinya.


Hanin memilih ke kamar Kenan. Namun, kemudian ia urungkan niatnya dan menuju ke ruang baca. Ia membuka pintu itu dan menutupnya perlahan. Sebelumnya, Hanin memang menyukai beberapa buku yang ada di ruangan ini. Ia mengambil salah satu buku koleksi Kean yang berjejer di lemari besar itu.

__ADS_1


“Ah.”


Hanin menarik nafasnya. Ia ingin melepaskan semua penat dengan mengalihkan pada kegiatan yang lain yang ia sukai. Hanin berada di antara himpitan meja dan lemari besar itu. Ia tampak tak terlihat, jika seseorang membuka pintu ruangan ini, karena ia memposisikan dirinya untuk duduk di lantai sembari meluruskan kedua kakinya yang pegal.


__ADS_2