
Sesampainya di apartemen, Kenan segera membuka lemari es dan menempelkan es batu di sudut bibirnya. Walau James sudah tak lagi muda, tapi pukulannya masih cukup kuat.
Kenan menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia pun tak menyangka akan memiliki keberanian seperti ini. Setelah ini, ia yakin akan menjadi buronan oleh nyonya Aditama. Siapa lagi kalau bukan sang ibu, Rasti Aditama.
“Sorry, Mami. Ken mengecewakanmu. Untuk urusan hati, Ken tidak bisa berkorban. Tapi untuk tenaga atau kehilangan kesenangan masa muda, Ken bisa berkorban,” gumamnya lirih. “Jika Papi masih di sini, baliau pasti akan mendukung, Ken.”
Kenan menyandarkan tubuh dan kepalanya pada sofa yang empuk itu. Sembari terus menekan sudut bibirnya dengan es batu. Kenan memejamkan mata. Seketika senyum Hanin hadir dalam keadaan matanya yang tertutup.
Kenan pun langsung membuka matanya. “Ah, kamu membuatku gila. Lihat saja, aku akan menemukanmu,” ucapnya lagi pada dirinya sendiri.
Di Bandung, Hanin pun dalam keadaan yang tidak baik. Ia tengah ketar ketir, karena telah melakukan kesalahan dalam bekerja hari ini. Entah apa yang membuatnya tidak fokus dalam bekerja? Hampir setiap malam ia memimpikan Kenan. Walau ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak memikirkan pria yang telah resmi menjadi suaminya itu. Namun tetap saja, wajah Kenan yang menyebalkan itu selalu mendominasi pikirannya.
“Ah, si*l. Lupain ... lupain ... lupain, Hanin.” Hanin memukul-mukul kepalanya sendiri.
“Belum tentu dia memikirkanmu, Hanin. buktinya sampai sekarang dia tidak mencarimu. Dia sudah punya tunangan seorang model yang jauh lebih cantik dari kamu. Sadar, Hanin. sadar!” Hanin berkata pada dirinya sendiri. Ia mencoba untuk meyakinkan diri bahwa apalah dirinya dibandingkan dengan Vanesa, ia hanyalah remah gorengan yang tak terlihat manfaatnya.
Kemudian, Hanin teringat lagi kesalahan pekerjaan yang telah ia lakukan hari ini. Ia telah salah mencetak surat pemberitahuan barang eksport ke Bea cukai, sehingga ekport barang dengan nominal yang sangat besar itu, yang seharusnya dapat terkirim hari ini, gagal dan tertunda, mengakibatkan perusahaan tempat Hanin bekerja mengalami kerugian yang cukup besar. Hanin langsung dimarahi keras oleh manajer dan direktur operasonal. Hanya Riza yang menenangkannya, juga Irma yang selalu memberi semangat, karena seperti inilah dunia kerja.
Sedari tadi ponsel Hanin masih berbunyi dari Irma dan Riza. Mereka menanyakan keadaannya.
“Iya, Kak Riza. Terima kasih. Aku baik-baik saja.” Jawab Hanin melalui whatsapp.
“Syukurlah. Aku kahwatir. Sekarang tidur dan istirahat. Semoga besok ada jalan keluar.” Riza membalas pesan Hanin.
“Iya, kak. Sekali lagi terima kasih,” ucap Hanin dengan emot tersenyum.
“Sama-sama.”
Sejak Hanin bekerja di perusahaan itu, Riza selalu mendekati. Hampir setiap makan siang, Riza mengajak Hanin untuk makan siang bersama. Namun, dengan berbagai macam alasan juga, Hanin menolaknya. Tapi terkadang, ia menerima ajakan itu, jika bersama Irma dan tidak berjalan berdua saja bersama Riza.
Hanin dan Kenan, berusaha memejamkan mata mereka masing-masing untuk istirahat. Mereka telah melalui hari ini dengan cukup melelahkan, walau apa yang mereka lalui berbeda.
****
“Ya, ya. Saya akan koordinasi lagi, Sorry, Sir. Sorry.” Kenan menjawab melalui telepon dari kliennya yang berada di Amerika dengan menggunakan bahasa Inggris.
Ia menarik nafasnya kasar dan melemparkan ponselnya asal. Ia berdiri untuk keluar dari ruangan itu dan bergegas mencari Vicky, pasalnya eksport udang yang harusnya terkirim kemarin, ternyata belum di kirim karena proses bea cukai yang belum beres. Sebelumnya hal ini tidak pernah terjadi.
Dret ... Dret ... Dret ...
Ponsel Kenan kembali berdering, kali ini panggilan video call dari Rasti.
“Hal...”
“Kenan, apa yang kamu lakukan pada Vanesa?” tanya Rasti yang sudah meraung, padahal Kenan belum selesai menyapa sang ibu.
“Jadi Mami sudah tahu?”
“Tadi pagi, Alin datang ke rumah dan marah-marah sama Mami, katanya kamu memutuskan pertunanganmu dengan Vanesa. Kenapa Kenan?” tanya Rasti menangis.
“Kenan bisa jelaskan nanti, Mam. Tapi hari ini Kenan harus mengurusi pekerjaan karena ada trouble.”
“Ken.” Rengek Rasti.
“Kenan janji, Mam. Akan meluruskan ini semua. Bye Mam.” Kenan menutup sepihak panggilan telepon itu.
__ADS_1
Lalu, ia berjalan cepat menuju ruangan Vicky, karena pengiriman barang itu lebih penting. Mengingat jumlah invoice barang yang akan di kirim itu sangatlah besar.
“Vick, lu gimana? Kenapa pengiriman barang ke Mr. Anderson tidak jadi di kirim kemarin?” tanya Kenan yang langsung masuk ke dalam ruangan itu da menggebrak meja Vicky.
“Eh, Ken. Ii gue lagi urusin. Gue lagi ngelink ke Bandung,” jawab Vicky gelagapan.
“Vick, gimana ceritanya pengiriman itu di tolak? Kita bisa rugi, harusnya hari ini kita bisa lanjut kirim ke negara lain.”
“Ada kesalahan pencatatan tanggal dan nomor faktur sewaktu mencetak ke bea cukai kemarin. Jadi di tolak.”
“Hah, bagaimana bisa? Memang siapa yang mencetak form itu?” tanya Kenan.
“Hmm ..” Vicky sulit menyebutkan nama Hanin.
Kenan menghampiri Vicky yang duduk di meja kerjanya sembari menatap laptop miliknya.
“Sini lihat, mana laporannya?” Kenan langsung menyambar laptop milik Vicky. Ia dokumen pemberitahuan barang eksport untuk bea cukai yang salah di cetak itu.
“Siapa sih yang cetak ini, bodoh banget.” Kenan terus mensecrol dan menemukan sebuah nama.
“Hanin Aqila!” seru Kenan sembari mengeryitkan dahinya.
“Vick?” Kenan membulatkan matanya pda Vicky.
“Hmm ... Sorry, Ken.” Vicky mengeryitkan dahi dan memainkan dagunya yang berbulu cukup tebal.
“Shit.” Kenan kembali menggebrakkan meja Vicky. Kali ini cukup keras, hingga di luar pun mendengar bahwa bosnya sedang marah besar.
“Macan tutul, marah lagi?’ tanya Pak Rahmat pada Siska, di luar ruangan Vicky.
Siska mengangguk. Lalu dengan cepat pak Rahmat menaruh pesanan kopi ke ruang bosnya yang ingin memakan orang.
Vicky berdiri dan menghampiri Kenan yang sedang marah. “Sorry, Ken. Gue hanya ingin lu beresin dulu masalah lu sama Vanesa, setelah itu lu baru jemput bini lu.”
“Hah, lu ngga tau apa yang gue rasain, Vick. Ck.” Kenan hendak keluar dari ruangan itu dan membuka pintu.
Vicky menarik tangan Kenan. “Justru gue tahu perasaan lu, Ken. Gue tahu lu lagi ngambil keputusan terbesar dalam hidup lu.”
“Gue pernah berada di posisi lu dan gue juga pernah berada di posisi Hanin,” ucap Vicky lagi.
“Ck, minggir. Gue mau ke Bandung sekarang,” ucap Kenan.
“Gue ikut.” Vicky langsung mengikuti langkah kaki Kenan yang lebar.
“Sis, tolong urus semua di sini, koordinasi dengan yang lain. Saya dan Pak Kenan mau keluar kota sekarang!” pinta Vicky pada sekretaris Kenan, saat ia melintasi meja kerja Siska.
“Iya, Pak.” Siska langsung berdiri dan mengangguk patuh.
Vicky dengan cepat melewati langkah Kenan dan masuk ke mobil, lalu menduduki kursi kemudi.
“Ken, sorry.” Vicky melihat sahabatnya dari kaca spion depan. Namun, Kenan tetap mengalihkan pandangannya.
Kenan tak lagi memikirkan berapa kerugian yang akan ia terima jika barang itu tak sampai di tangan kliennya yang berada di Amerika. Yang ia pikirkan hanya Hanin, ia hanya ingin menemui sang istri, memeluk dan menciumnya.
Di Bandung, Hanin kembali duduk di ruang rapat. Ia di sidang oleh beberapa petinggi perusahaan di sana.
__ADS_1
“Kau tahu, berapa kerugian perusahaan?” bentak direktur opersaional itu.
“Tenang, Pak Juan, kami sedang mengusahakan agar dokumen itu berhasil dan pengiriman barang yang kemarin tertunda dapat terlaksana hari ini,” ucap Riza membela.
“Ini hasil rekruitmen darimu, Hah? Mana yang katanya kamu bilang dia pintar? Hanya menang cantik saja, tapi otak nol.”
Hanin hanya bisa menunduk dan menangis pelan. Ia memang salah, tapi ia juga manusia yang sakit hati karena terus dihujami kata-kata bodoh, tidak bisa kerja, menang cantik doang, dan otak dengkul.
“Sabar, Han.” Riza mengelus punggung Hanin.
“Maaf, Pak. Maaf saya salah,” ucap Hanin pada Pak Juan sebagai direktur opersional, karena nantinya Pak Juan yang akan mempertanggung jawabkan kesalahan ini di hadapan kenan.
Hanin dihadapkan oleh pria-pria killer yang merupakan manajer keuangan, produksi dan direktur opersional. Kesemua pria itu memaki kebodohan Hanin dan hanya Riza yang membelanya.
Vicky memacu kendaraan itu dengan kecepatan penuh, hingga mereka sampai di perusahaan eksport Kenan dalam waktu dua jam setengah. Perusahan eksport itu memang Kenan dirikan di Bandung, karena daerah jawa barat adalah tambak terbesar yang ia miliki dan merupakan penghasil terbesar selama kurun waktu empat tahun terakhir.
Kenan langsung keluar dari mobil dan berlari memasuki gedung yang cukup besar itu. Ia terus mempercepat langkahnya menuju ruang divisi tax dan administrasi. Sedangkan, Vicky hanya mengikuti langkah Kenan dari belakang.
Semua karyawan langsung menghentikan aktifitasnya dan berdiri menunduk, saat Kenan dan Vicky datang.
“Mana Hanin?” tanya Kenan, pada salah satu staff yang duduk di ruangan itu.
Wanita yang di tanya oleh Kenan, langsung berdiri dan menunduk. “Ada di ruang rapat, Pak.”
Para karyawan itu mengira, Kenan akan marah pada Hanin yang telah melakukan kesalahan fatal, karena mereka sangat tahu seperti apa bosnya yang terkenal galak dan dingin itu.
Kenan langsung menuju ruang rapat dan membuka pintu itu.
“Hanin.” panggil Kenan pada sang istri yang tengah menangis dan di hakimi oleh beberapa pria paruh baya di sana.
Hanin menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Bukan hanya Hanin, semua orang yang ada di sana ikut menoleh ke sumber suara itu.
"Pak Kenan," ucap pak Juan dan pria paruh baya yang lain yang merupakan manajer keuangan dan bagian produksi.
Mereka semua menunduk saat Kenan melintas.
Kenan menghampiri Hanin yang duduk di sana. Ia pun langsung memeluk tubuh itu. “Han.”
Semua orang di sana menganga melihat adegan tak biasa itu. Apalagi Riza, ia terus bertanya-tanya dalam hati, siapakah Hanin ini? apa hubungannya Hanin dengan bos besar mereka?
Lalu, Vicky memberi isyarat pada semua orang untuk meninggalkan ruang rapat ini. mereka pun meninggalkan ruangan itu satu persatu dan meninggalkan sepasang insan yang tengah meluapkan rindu. Vicky pun meninggalkan ruangan itu dan menutupnya rapat.
Kenan memeluk erat istrinya dan mencium pucuk kepala Hanin berkali-kali. Hanin pun membalas pelukan itu. Rasanya sangat hangat dan menenangkan, apalagi kondisi Hanin yang sedang tidak baik.
“Hei, kamu baik-baik saja?” tanya Kenan yang berjongkok mensejajarkan dirinya pada Hanin yang sedang duduk.
Hanin menggeleng, kemudian mengangguk, membuat Kenan tersenyum gemas melihat tingkah sang istri yang menggemaskan.
“Mengapa kabur dariku? Hmm ..” tanya Kenan lagi sembari mengangkat tangannya untuk menghapus jejak airmata yang masih tertinggal di pipi mulus Hanin.
Kenan mengelus pipi Hanin dengan ibu jarinya yang lebar.
“Hei, katakan padaku? Atau aku akan menciummu.” Kenan tersenyum.
Hanin membulatkan kedua bola matanya dan mulai akan bersuara untuk menjawab pertanyaan sang suami. Namun, Kenan lebih cepat beraksi. Ia langsung memajukan tubuhnya dan mencaplok bibir ranum Hanin yang terbuka karena hendak akan bicara.
__ADS_1
“Eumm ...” lenguh Hanin saat mulutnya tidak siap menerima serangan dari Kenan.
Kenan terus mengecap bibir Hanin berkali-kali tanpa jeda dan dengan durasi yang sangat lama. Sungguh, ia sangat rindu bibir itu.