
Hanin kembali duduk di kursi penumpang, kursi yang berada persis di samping sang suami. Ia merapihkan kembali rok dan kemejanya, lalu menata rambutnya agar kembali rapih.
Bibir Kenan menyungging senyum menoleh ke aah sang istri. Hanin pun melirik ke arah suaminya.
“Udah puas?” tanya Hanin tersenyum.
“Untuk hari ini, iya,” jawab Kenan tersenyum, lalu kembali memfokuskan matanya pada jalur jalan yang tak lagi bebas hambatan.
“Ish, dasar,” gerutu Hanin memalingkan pandangan ke arah jendela sambil tersenyum.
Ia kembali mengingat kejadian beberapa menit lalu. Ia sungguh malu, karena lagi-lagi ia disuruh menari oleh sang suami, bahkan ia harus meliukkan tubuhnya di atas pangkuan Kenan.
Kenan tertawa. Lalu, tangan kirinya terangkat untuk mengelus kepala Hanin dengan lembut. “Makasih, ya.”
Hanin menatap wajah sang suami dan mengangguk. Kenan, mengambil tangan kanan Hanin dan mencium punggung tangan itu, kemudian ia letakkan di dadanya, sementara satu tangannya lagi berada di setir kemudi.
Hanin tersenyum. Walau Kenan tidak melulu mengungkapkan cinta. Namun, perlakuan dan posesive-nya, sudah memperlihatkan betapa pria ini mencintainya.
“Ini pertama dan terakhir. Lain kali, aku tidak mau bercinta dengan keadaan seperti tadi. Itu sangat berbahaya.”
Kenan tersenyum.
Keduanya teringat, kejadian menegangkan tadi. Ketika dari jarak jauh Kenan melihat ada mobil patroli polisi yang berdiam di antara jalur lingkar luar dan lingkar dalam. Dari kejauhan kedua polisi itu sudah mengamati jalan mobil Kenan yang sedikit lambat.
Flashback On
“Sayang, bangun. Kembali ke tempatmu.”
Hanin masih bergerak. Ia pun tanggung untuk melepas penyatuan itu.
__ADS_1
“Sayang, ada dua polisi di sana,” bisik Kenan di telinga Hanin dengan arah mata lurus ke depan.
Hari semakin sore dan matahari pun semakin tenggelam. Hanin langsung memindahkan dirinya ke samping. Benar saja, semakin mobil Kenan mendekat, kedua polisi itu pun berdiri di hadapan mobil Kenan yang bergerak lambat. Untung saja, Hanin sudah merapihkan pakaiannya dan untung saja, kemeja yang ia kenakan masih dalam keadaan rapih. Sementara Kenan langsung menutupi pusakanya yang masih tegak dengan Jas yang ia sampirkan di punggung kursi yang ia duduki.
“Malam, Pak,” kata salah satu polisi itu dengan memberi hormat pada Kenan yang langsung membuka kaca jendela.
Kenan mengangguk. “Malam.”
Polisi itu sedikit menunduk ke arah jendela yang Hanin duduki dan Kenan pun menyondongkan tubuhnya, agar terlihat oleh polisi itu.
“Pak Kenan?” tanya polisi itu terkejut, karena ternyata ia pernah mengawal Kenan saat Kenan membutuhkan jasa pengawalan pada suatu event.
“Apa mobil bapak bermasalah? Karena saya lihat anda berjalan sangat lambat,” kata polisi itu lagi.
Kenan menggeleng. “Tidak, tidak ada masalah dengan mobil saya. Saya hanya sedikit lelah, jadi menyetirnya agak lambat.”
“Oh, kalau begitu apa anda butuh pengawalan?” tanya polisi itu lagi.
Hanin hanya tersenyum canggung melihat interaksi yang terjadi antara Kenan dan pak polisi itu.
“Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan, Pak.”
“Baik, terima kasih, Pak,” jawab Kenan.
Kedua polisi itu pun berjabat tangan dan Kenan kembali berjalan.
“Kamu sih.” Hanin memukul lengan suaminya.
Kenan tertawa. “Tadi aku sudah bilang, kamu bangun dulu. Kamu malah keenakan.”
__ADS_1
“Ish, nyebelin.” Hanin kembali memukul lengan sang suami. Namun, Kenan hanya tertawa geli.
“Boleh dilanjutkan lagi, Sayang,” ucap Kenan melirik lagi ke arah istrinya.
“Ngga, ah. Capek.”
Kenan tertawa dan tangan kirinya kembali menggerayangi tubuh sang istri, hingga dirinya kembali merasakan gejolak itu dan meminta sang istri untuk melanjutkan kembali aksi yang sempat terpotong tadi. Hanin pasrah dan ia pun mengikuti kemauan Kenan, hingga pria itu mendapatkan pelepasannya.
Flashback off
“Tapi kamu suka ‘kan?’ ledek Kenan.
“Ya ... mau ngga mau.”
“Tapi mau,” ledek Kenan lagi.
Kenan tak henti-hentinya menggoda sang istri, karena apa yang diucapkan Hanin berbeda dengan keinginan tubuhnya. Ia menyukai sang istri yang mudah terbuai oleh sentuhannya dan Kenan sadar itu.
“Ken Ken jelek.”
Kenan tertawa. Lalu, tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga sampai di kediaman Aditama.
Dari kejauhan Kenan melihat mobil Gunawan yang terparkir. Gunawan juga terlihat duduk di teras rumah itu. Seketika tawa Kenan pun pudar. Ia melihat Hanin yang juga tengah menatap ke arah Gunawan yang sedang duduk di sana dari kaca depan mobil yang ia duduki.
Kenan melirik ke arah Hanin dan menangkap tatapan Hanin yang tertuju pada pria yang dulu pernah menjadi kekasihnya.
Lalu, Hanin mengalihkan pandangannya ke arah Kenan dan Kenan mengalihkan pandangannya ke depan, seolah Kenan tidak melihat sang istri yang sedang menatap suami adiknya tadi.
Padahal, Hanin hanya sekedar melihat pria itu, tidak ada desiran atau degupan jantung yang kencang saat kembali melihat Gunawan. Rasa itu, memang benar-benar hilang, seiring kebohongan besar yang pernah Gunawan lakukan waktu itu. Berganti dengan rasa yang timbul setelah menikah dengan Kenan. Kini, Hanin benar-benar mencintai pria menyebalkan itu, pria yang dulu selalu melecehkannya. Namun, semakin mengenal Kenan, Hanin semakin mencintainya.
__ADS_1
Walau Kenan percaya bahwa Hanin mencintainya. Namun, ia masih cemburu melihat Gunawan bertemu dengan istrinya.