
Setelah menempuh perjalanan sangat lama, akhirnya Kenan dan Hanin sampai di Massachusetts. Kenan dan Hanin melewati hampir dua puluh dua jam perjalanan menuju kota ini. Entah apa yang akan Kenan lakukan, jika ia pergi sendiri tanpa mengajak sang istri. Mungkin ia akan mati kebosanan atau dilanda rindu. Tetapi kini, perjalanan dua puluh dua jam itu terasa singkat karena sepanjang perjalanan, ada saja kelakuan Hanin yang membuatnya tertawa.
“Kita sudah sampai?” tanya Hanin pada suaminya yang masih setia memeluk sang istri.
Mereka tengah duduk berdampingan di kursi penumpang, sambil menikmati pemandangan kota Boston yang sudah terlihat jelas.
Kenan mengangguk. “Ya, kita sudah sampai.”
Kenan melihat jam ditangannya. Di sini waktu tepat menunjukkan pukul empat sore. Jika di Indonesia, pukul empat pagi. Di sana, pasti Rasti dan Kiara masih tertidur lelap.
Pesawat yang Kenan tumpangi akhirnya mendarat sempurna di Bandara ini. Kenan mengajak istrinya untuk keluar dari sana. Langkah kaki Hanin terhenti, saat ia udah merasakan udara berbeda, ketika keluar dari pesawat. Udara dingin sudah sangat terasa, karena kebetulan mereka datang di musim dingin.
“Sayang, pakai mantelmu.” Kenan dengan telaten memakaikan mantel tebal ke tubuh Hanin yang sedang berdiri.
Hanin menoleh ke arah suaminya. “Terima kasih.”
Kenan pun membalas senyum manis itu. “Di sini cuaca sangat dingin. Jangan keluar tanpa menggunakan ini! Oke.”
Hanin tersenyum dan mengangguk.
“Pintar.” Kenan mengusap kasar pucuk kepala istrinya, hingga berantakan.
Lalu, melenggang melangkahkan kakinya lebih dulu, meninggalkan Hanin.
“Ken. jelek!” kesal Hanin yang melihat kejahilan sang suami, hingga ia harus merapihkan rambutnya kembali.
“Ayo jalan! Lelet.” Kenan menoleh dan tersenyum ke arah Hanin.
Hanin kesal dan hanya bisa melayangkan pukulan ke udara dari belakang Kenan. Ia kesal karena sang suami terkadang sangat menjengkelkan. Ralat, bukan terkadang tapi sering.
Hanin berjalan cepat, sengaja lebih cepat dari Kenan dan hendak mendahuluinya. Namun, ternyata langkah Hanin salah.
“Sssstttt ...” panggil Kenan pada Hanin yang terus melajukan kakinya lurus ke depan. Sementara, seharusnya mereka berbelok ke kanan. “Hanin, kamu mau kemana?”
Langkah Hanin terhenti dan menoleh ke belakang melihat ke arah sang suami yang berdiri di sana. ia mengangkat bahunya, mengisyaratkan untuk bertanya ‘ada apa?’.
Kenan menunjuk ke arah plank petunjuk jalan, hingga Hanin menepuk keningnya. Ia memang tak pandai berbahasa Inggris. Sejak kecil ia lebih pandai berhitung di banding berbahasa atau menghafal.
Kenan tersenyum menunggu sang istri melangkah dekat ke arahnya. Ia semakin tersenyum lebar karena ke soktahuan sang istri.
“Kamu ngga baca petunjuk arah?” tanya Kenan saat Hanin sudah berada dekat di depannya.
Hanin menggeleng. Kemudian, Kenan merangkul sang istri.
“Makanya, jangan sok tahu.” Kenan tertawa sembari mengeratkan lengannya merangkul leher Hanin.
Hanin membalas dengan mengerucutkan bibir.
“Aku tahu kamu tidak bisa bahasa Inggris,” ledek Kenan.
__ADS_1
“Bisa,” sanggah Hanin yang tidak ingin terlihat bodoh di hadapan sang suami.
“Oh ya,” ledek Kenan lagi.
“Miss, broom your hand! ” ucap salah satu wanita yang belum tua itu, setelah menepuk pundak Hanin dari belakang sembari menunjuk ke bawah.
Kenan melepas rangkulannya dan Hanin langsung menoleh, serta mengikuti arah mata wanita itu. Hanin langsung berlari dan mengambil sapu tangannya yang terjatuh.
“Thank you, Miss,” kata Hanin dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, setelah mengambil benda itu.
“Tuh aku ngerti kan?” kata Hanin pada suaminya bangga setelah berbincang sedikit dengan wanita itu.
Kenan tertawa dan mengangguk. “Ya, istriku memang pintar.” Lalu, Kenan menahan langkah kakinya. “Tapi kenapa kamu ambil lagi benda ini. Sudah terjatuh, pasti kotor.”
Hanin langsung memasukkan sapu tangan itu ke dalam tasnya.
“Ini pemberian Kak Nida. Aku membawa ini kalau sedang rindu dengannya,” ucap Hanin, membuat Kenan terdiam.
Memang sudah lama sekali, istrinya tidak berkomunikasi dengan sang kakak. Semua itu karena banyak hal yang terlah terjadi, hingga Kenan belum meluangkan waktu untuk membawa sang istri mengunjungi saudaranya.
Kenan dan Hanin berdiri di depan Bandar udara internasional Logan. Tak lama kemudian, mobil sedan hitam berhenti di depan mereka dan keluar Riza menghampiri Kenan.
“Maaf, Ken. aku terlambat,” kata Riza sembari bersalaman dengan Kenan.
Kenan dan Riza memang seumur dan di luar kantor Kenan memang meminta Riza untuk tidak memanggilnya dengan sebutan ‘Pak’.
“Hai Hanin. Apa kabar?” sapa Riza saat melihat wanita berdiri persis di samping bosnya itu dan dengan agresif Kenan memeluk pinggang istrinya.
“Ck, jangan lama memandang istriku.” Celetuk Kenan.
“Oh my God, Ken. kau posesive sekali,” jawab Riza lemas.
“Ayo jalan!” perintah Kenan, hingga semua mengikuti langkah kakinya.
Hanin tertawa dan menggaruk keningnya yang tak gatal. Beginilah sikap sang suami.
Kemudian, mereka menaiki mobil yang Riza kendarai tadi. Kenan membukakan pintu mobil itu untuk Hanin. Walau sikap Kenan sering kali menyebalkan, tapi perhatian-perhatian kecil yang pria itu berikan selalu membuat luluh hati Hanin.
“Langsung ke hotel, Ken?” tanya Riza.
“No, kita langsung ke kantor aja dulu,” jawab Kenan.
“Iya, dari tadi di pesawat udah istirahat kok,” sahut Hanin.
“Oke.” Riza melajukan kembali mobilnya.
Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di depan gedung kantor Kenan yang tidak terlalu besar itu. Kenan dan Hanin keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung. Di sana Kenan sudah di sambut oleh karyawannya dan Kenan pun memperkenalkan Hanin kepada mereka yang sebagian besar adalah orang Indonesia.
Hanin cukup lama berdiam di dalam ruangan sang suami. Sementara Kenan meninggalkannya entah ke ruangan mana, yang jelas Kenan menyelesaikan pekerjaannya bersama Riza. Kemudian, Kenan mauk ke dalam ruangan itu. Ia mendapati sang istri tengah dudung sendiri.
__ADS_1
“Sayang, kamu bosan di sini?” tanya Kenan yang langsung duduk di pinggir sofa dan merangkul bahu Hanin.
Hanin mengangguk. “Kamu masih lama?”
“Ya, sepertinya banyak hal yang harus aku kerjakan di sini. Bagaimana kalau kamu jalan-jalan saja bersama salah satu karyawanku. Dia Vina bagian HRD.”
“Apa dia sedang tidak sibuk?” tanya Hanin menatap intens wajah suaminya.
“Tidak. Saat ini aku hanya sedang berkoordinasi dengan Riza, bagian pemasaran, produksi, dan keuangan, serta kantor pusat di Bandung.”
Hanin tersenyum. “Baiklah.”
Lagi-lagi, Kenan mengelus kasar rambut sang istri hingga berantakan. Ia memang senang membuat istrinya kesal. Bibir sang istri yang merengut, membuatnya gemas dan ingin sekali di lahap.
“Ken, kebiasaan,” sungut Hanin dan merapihkan kembali rambutnya.
Kenan tertawa, lalu duduk di kursi kerja itu.
Tok tok tok
Pintu ruangan Kenan di ketuk oleh seseorang dari luar sana.
“Masuk,” ucap Kenan.
Seorang wanita itu pun muncul dan masuk ke dalam ruangan itu.
“Bapak panggil saya,” ucap wanita itu dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.
“Ya. Vin. Saya memintamu untuk menemani istri saya berkeliling Boston,” jawab Kenan.
“Oh, baik. Pak.”
“Di lobby, Hansel sudah menunggu,” kata Kenan lagi.
Hansel adalah driver operasional yang bekerja di perusahaan Kenan. seorang pria muda yang masih berstatus mahasiswa.
“Baik, Pak.” Vina kembali menunduk patuh.
Hanin berdiri dan mendekati suaminya. Ia mengecup singkat pipi Kenan. “Aku tinggal dulu sebentar ya, terima kasih.”
Hanin tersenyum manis pada sang suami dan mencium bibirnya sekilas.
“Bersenang-senanglah.”
Lalu, Hanin mengikuti langkah kaki Vina. Mereka berjalan keluar gedung dan menaiki mobil yang tadi Kenan sebutkan.
“Kita mau kemana, Miss?” tanya Vina.
“Cambridge,” jawab Hanin.
__ADS_1
Ia sengaja menuliskan alamat paman Vanesa yang disebutkan Kenan diam-diam, ketika mereka berbincang di pesawat mengenai keadaan mantan tunangan suaminya itu. Entah mengapa ia ingin menemui Vanesa untuk meminta maaf secara langsung karena telah mengambil Kenan darinya, sekaligus memberitahu keberadaan Riza pada Vanesa. Ia berharap, semoga Vanesa dan Riza dapat bersatu dan ia ingin menjadi jembatan kedua orang itu, jika memungkinkan.